Sentuhan Hati

Sangat aneh terdiri atas aneh tapi nyataberita hoaxberita kontroversiberita unikberita viralgame onlinelucumisterirahasia Tuhansentuhan hatiseram, dan wow keren.

Salah satu berita dari sangat aneh adalah sentuhan hati.

Arti dari kata “sentuhan” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online adalah:

sentuh/sen·tuh/ v, bersentuh/ber·sen·tuh/ v 1 kena sedikit pada; bersinggung (berantuk) sedikit (dengan); bersenggol: buku itu kotor karena – dengan tangannya yang penuh tinta; 2 kas bersetubuh;

bersentuhan/ber·sen·tuh·an/ v 1 bersinggungan sedikit; bersenggolan: kulitku gatal rasanya – dengan baju bulu ini; 2 kontak (berkaitan) dengan: apabila kedua kawat itu – timbullah percikan api; 3 ki ada sangkut pautnya (dengan): usul yang diajukannya tidak – sedikit pun dengan masalah yang sedang dibicarakan;menyentuh/me·nyen·tuh/ v 1 menyinggung sedikit; menjamah: roda-roda pesawat terbang kami mulai – bumi kembali; 2 mengenai; terantuk: bagian depan mobilnya rusak sedikit karena – tembok;3 ki menimbulkan, membangkitkan perasaan (haru, sedih, dan sebagainya) di hati: tangis sedih para korban gempa itu telah – hati para pejabat yang ada di sana;

menyentuh-nyentuh/me·nyen·tuh-nyen·tuh/ v menjamah-jamah;

menyentuhkan/me·nyen·tuh·kan/ v menjamahkan; menyenggolkan;

tersentuh/ter·sen·tuh/ v 1 terkena (tersinggung) sedikit; terjamah; 2 terantuk (pada); terlanggar sedikit: kakinya – pada batu, terantuk (tersandung); 3ki terkena rasa haru, sedih, dan sebagainya: hatinya mudah sekali -, tertarik atau terpikat dan bersimpati;

sentuhan/sen·tuh·an/ n hasil menyentuh; singgungan; senggolan;

persentuhan/per·sen·tuh·an/ n perihal (perbuatan) bersentuhan;

penyentuh/pe·nyen·tuh/ n 1 sesuatu yang dipakai untuk menyentuh; alat untuk menyentuh; 2 orang yang menyentuh;

penyentuhan/pe·nyen·tuh·an/ n proses, cara, perbuatan menyentuh atau menyentuhkan;

kesentuhan/ke·sen·tuh·an/ 1 kena sentuh; disentuh; 2 ki menderita sakit karena disentuh (dimasuki) orang halus.

Arti dari kata “hati” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online adalah:
hati1/ha·ti/ n 1 Anat organ badan yang berwarna kemerah-merahan di bagian kanan atas rongga perut, gunanya untuk mengambil sari-sari makanan di dalam darah dan menghasilkan empedu; 2 daging dari hati sebagai bahan makanan (terutama hati dari binatang sembelihan): masakan sambal goreng –;3 jantung: — nya berdebar-debar; 4 sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian (perasaan dan sebagainya): segala sesuatunya disimpan di dalam –; membaca dalam — , membaca dalam batin (tidak dilisankan); berbicara dari — ke — , dengan jujur dan terbuka; 5 apa yang terasa dalam batin: sedih — ku memikirkan nasib kawanku itu; 6 sifat (tabiat) batin manusia: orang itu baik — nya; 7 bagian yang di dalam sekali (tentang buah, batang, tumbuhan, dan sebagainya): — buah nangka; — batang pisang; gajah sama dilapah, — kuman (tungau) sama dicecah (dicecap), pb perolehan (laba) yang banyak dibagi sama banyak, perolehan (laba) yang sedikit dibagi juga sama sedikit; — gatal mata digaruk, pb sangat ingin, tetapi tidak kuasa menyampaikan keinginannya itu; menyalahkan orang yang tidak bersalah; — (sebagai) baling-baling, pb tidak tetap pendirian; jauh di mata di — jangan, pb biarpun tempat berjauhan, jangan lupa-melupakan; makan — berulam jantung, pbdikatakan kepada orang yang sangat bersedih hati; tertambat — terpaut sayang, pb sangat cinta;
— kecil perasaan hati sebenarnya;
— kedondong 1 bagian dalam buah kedondong yang keras dan bercabang-cabang; 2 ki tidak punya rasa belas kasihan terhadap sesama manusia; jahat;
— nurani 1 hati yang telah mendapat cahaya Tuhan; 2 perasaan hati yang murni dan yang sedalam-dalamnya;
— sanubari perasaan batin;
— tangan lekuk pada telapak tangan;
— tawajuh hati yang telah diarahkan benar-benar kepada Tuhan;
— terbuka 1 senang hati; 2 lurus hati;
— terlonjak 1 sangat girang; 2 menjadi sombong (karena pangkat, kedudukan, dan sebagainya);berhati/ber·ha·ti/ v menaruh hati; menaruh belas kasihan (sayang dan sebagainya);~ batu tidak berperasaan; tidak menaruh belas kasihan; ~ berjantungberperasaan yang halus; ~ berlian sangat baik hati; ~ bimbang berada dalam keadaan gelisah; ~ binatang tidak berperikemanusiaan; ~ busuk mempunyai sikap batin yang tidak baik, seperti pendendam, pemfitnah; ~ emas berhati berlian; ~ keras berpendirian teguh; ~ mutu putus harapan; putus asa; ~ pilubersedih hati; ~ putih mempunyai niat yang tulus ikhlas; ~ rendah mempunyai tabiat yang baik, pemurah dan sebagainya; ~ sali mempunyai hati yang teguh (kuat, lurus); ~ tungau penakut; ~ walang khawatir;sehati/se·ha·ti/ n bersatu hati; seia sekata.
Arti dari kata “sentuhan hati” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online adalah:
Maaf, tidak ditemukan kata yang dicari
Anda mencari kata sentuhan hati dalam huruf kapital SENTUHAN HATI.
Penulis baru tahu kalau Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online ternyata ga lengkap. Ha…7x

Menurut penulis, kata sentuhan menunjukkan hasil menyentuh. Sedangkan kata hati menunjukkan sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian (perasaan dan sebagainya).

Jadi kata sentuhan hati artinya suatu hasil yang bisa menyentuh perasaan di dalam hati, alias membuat kita emosi. He…7x

Oleh karena itu sentuhan hati dari sangat aneh, maksudnya adalah berita, cerita, atau informasi yang bisa membuat anda menjadi sedih, marah, senang, atau perasaan lainnya.

Contoh Dari Cerita Sentuhan Hati

Inilah contoh dari cerita sentuhan hati yang ada di blog sangat aneh.

Budi adalah seorang anak muda yang rajin pergi belajar pendalaman Alkitab setiap hari Rabu malam. Pada suatu hari, Agus, Pendeta di sana mengajarkan firman tentang bagaimana cara mendengarkan suara Tuhan lalu taat kepada Tuhan. Pendeta mengajarkan kalau Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup sehingga kita masih bisa mendengarkan suaraNya sampai dengan hari ini bahkan sampai dengan di masa yang akan datang.

Pendeta mengilustrasi kalau suara Tuhan itu seperti siaran radio atau TV. Untuk mendengarkan suara Tuhan secara audible maka kita harus menyamakan frekwensi telinga kita dengan frekwensi dari suara Tuhan.

Sama seperti siaran radio atau TV, jika frekwensi di radio atau TV kita sama dengan gelombang siaran dari stasiun radio atau TV maka kita dapat menangkap siarannya secara jelas. Sebaliknya, jika frekwensi di radio atau TV kita tidak sama dengan gelombang siaran dari stasiun radio atau TV maka kita tidak bisa mendengar siaran radio atau menonton TV.

Demikian juga dengan suara Tuhan. Jika kita hidup sesuai dengan firman Tuhan, maka kita AKAN BISA MENDENGARKAN SUARA TUHAN SECARA AUDIBLE.

Di akhir kotbahnya, Pendeta Agus bersaksi kalau ia dan beberapa temannya bisa mendengarkan suara Tuhan. Malah ada salah satu temannya yang bukan seorang pendeta, tetapi temannya itu juga bisa mendengarkan suara Tuhan.

Budi mendengarkan firman yang dibawakan oleh Agus dengan seksama.

Sesampainya di rumah, Budi mulai berpikir.

Dalam hati, Budi bertanya-tanya. Benarkah apa yang dikatakan oleh Pendeta Agus? Benarkah kita bisa mendengarkan suara Tuhan seperti yang pernah didengarkan oleh para nabi? Benarkah Tuhan masih berbicara kepada umatNya sampai dengan hari ini bahkan sampai dengan di masa yang akan datang? Benarkah seorang manusia biasa seperti dirinya, yang bukan seorang pendeta, juga bisa mendengarkan suara Tuhan?

Budi lalu mengambil sebuah keputusan.

Jika Tuhan masih berbicara kepada umatNya sampai dengan hari ini, maka ia juga ingin mendengarkan suara Tuhan.

Budi menceritakan keinginannya mendengarkan suara Tuhan kepada keluarga dan teman-temannya. Semua menertawakannya.

“Udahlah. Jangan sok. Nanti salah-salah bukan suara Tuhan yang lu denger tapi suara setan”, kata Edi, temannya.

“Iye Bud. Hidup ini jangan terlalu fanatik. Soalnya kalau terlalu fanatik, maka lama-lama lu bisa jadi gila”, kata Anton, temannya.

Bagaimana mungkin Budi bisa mendengarkan suara Tuhan, sedangkan ia masih sering berbuat dosa? Demikianlah penjelasan mereka.

Untuk mendengarkan suara Tuhan, maka Budi harus hidup kudus dulu. Apakah Budi sanggup untuk hidup kudus? Mereka lalu menantang Budi untuk hidup kudus.

Merasa tertantang, Budi lalu mengatakan kalau ia akan mulai hidup kudus mulai sekarang ini.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah Budi sanggup untuk hidup kudus?

Malam harinya, sebelum tidur, Budi lalu berdoa.

“Tuhan Yesus, jika Engkau masih berbicara kepada umatMu, maka berbicaralah kepadaku. Aku siap mendengarkannya. Aku juga siap untuk taat kepadaMu. Tuhan, aku juga siap untuk hidup kudus. Tuhan, tolong beri aku kekuatan, sehingga aku bisa hidup kudus seperti kehendakMu”, demikianlah doa Budi.

Keesokan harinya, Budi mulai berusaha untuk hidup kudus. Ia mencoba untuk menjauhi semua larangan Tuhan. Sayangnya, ia tidak pernah bisa berhasil. Setiap hari, selalu ada dosa yang ia perbuat, baik secara sengaja atau tidak sengaja.

Dosa yang paling sering ia lakukan adalah dosa berbohong. Dosa lainnya adalah malas, rakus, menggosip, suka menjelek-jelekan orang lain, dan lain sebagainya.

Seminggu kemudian, Budi mulai merasa frustasi karena ia tidak bisa hidup kudus, walaupun ia sudah berusaha keras.

Sebulan kemudian, Budi mulai semakin frustasi karena ia tetap tidak bisa hidup kudus, walaupun ia sudah berusaha semaksimal mungkin.

Hari ini adalah hari Rabu malam. Sebenarnya Budi malas ikut kelas Pendalaman Alkitab. Dengan berat hati, kakinya melangkah ke sana.

Tidak seperti biasanya, hari ini Budi tidak antusias mendengarkan kotbah dari Pendeta.

Hari ini Pendeta Agus berkotbah tentang Yesus yang memberi makan 5000 orang.

Yohanes 6:1-13

1 Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu danau Tiberias.
2 Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit.
3 Dan Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya.
4 Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat.
5 Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: ”Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?”
6 Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya.
7 Jawab Filipus kepada-Nya: ”Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.”
8 Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya:
9 ”Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?”
10 Kata Yesus: ”Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya.
11 Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki.
12 Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: ”Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.”
13 Maka mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan.

Sebelum mengakhiri kotbahnya, Pendeta Agus bertanya, “Dua belas bakul roti itu milik siapa?”

Ada yang mengatakan milik Tuhan Yesus.

Ada yang mengatakan milik murid-murid Tuhan Yesus.

Ada yang mengatakan milik semua orang yang ada di sana.

Ada yang mengatakan milik anak kecil yang membawa roti.

Benar sekali. Dua belas bakul roti itu milik anak kecil yang membawa roti.

Ingatlah ini! Tuhan Yesus tidak pernah berhutang.

Jadi Tuhan Yesus mengambil roti dari anak kecil, lalu setelah memberi makan 5000 orang, Ia lalu mengembalikan sisanya kepada anak kecil tersebut.

Pertanyaan selanjutnya adalah siapakah orang yang paling bahagia yang ada di sana? Jawabannya adalah anak kecil itu.

Ia memberikan 5 roti dan 2 ikan atau seluruh makanannya. Setelah makan sampai kenyang, ia masih mempunyai 12 bakul roti. Betul? Yah pasti betul lah. Ha…7x

Hal ini sesuai dengan firman berikut ini.

Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai (Mazmur 126:5).

Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga (2 Korintus 9:6).

Pulang dari kelas Pendalaman Alkitab sudah jam 8.30 malam.

Saat menyalakan mobil, Budi seperti mendengar suara yang menyuruhnya untuk pergi ke hypermarket.

Merasa kaget, Budi berkata, “Tuhan Yesus, apakah itu suaraMu?”

Tidak ada jawaban.

“Tuhan Yesus, jika itu suaraMu, maka aku akan pergi ke sana. Jika itu bukan suaraMu, maka aku akan langsung pulang ke rumah”.

Tidak ada jawaban.

Walaupun tidak ada jawaban, Budi tetap pergi ke hypermarket.

Sesampainya di hypermarket, Budi kembali mendengarkan suatu suara yang menyuruhnya untuk membeli segalon susu.

“Tuhan Yesus, jika itu suaraMu, maka aku akan membeli segalon susu. Jika itu bukan suaraMu, maka aku tidak akan membelinya karena segalon susu terlalu banyak Tuhan. Aku memang suka minum segelas susu. Tapi segalon susu terlalu banyak Tuhan”.

Kembali tidak ada jawaban.

Setelah membayar segalon susu, Budi segera pulang ke rumah.

Di tengah jalan, Budi kembali mendengarkan suatu suara yang menyuruhnya untuk pergi ke perkampungan kumuh di sekitar komplek rumahnya.

“Tuhan Yesus, jika itu suaraMu, maka aku akan pergi ke sana. Jika tidak, maka aku akan pulang ke rumah. Di sana daerah rawan, Tuhan. Banyak premannya. Sedang, aku kan lagi membawa uang 10 juta, gaji bulan ini. Bagaimana kalau aku dirampok? Apakah Tuhan mau menggantinya?”

Kembali tidak ada jawaban.

Tak lama kemudian, sampailah Budi di perkampungan kumuh tersebut.

Tiba-tiba Budi mendengarkan suatu suara yang menyuruhnya untuk berhenti lalu mengambil segalon susu. Kemudian masuk ke dalam gang sempit di sana.

“Tuhan Yesus, jika itu suaraMu, maka aku akan pergi ke sana. Jika tidak, maka aku tidak berani malam-malam berjalan di gang sempit itu. Lebih baik, aku pulang saja Tuhan. Tolonglah Tuhan. Kasih tahu aku. Apakah benar ini suaraMu?”

Kembali tidak ada jawaban.

Sebelum masuk ke dalam lorong sempit di sana. Budi berdoa lagi, “Tuhan Yesus, tolong kirim pasukan malaikatmu untuk menjagaku selama berada di sini. Sebab aku takut sekali berada di sini. Sebab aku pernah mendengar ada orang yang dirampok dan dibunuh di dalam lingkungan yang kumuh ini”.

Ia melihat kalau orang-orang yang sedang duduk nongkrong di depan rumah, melihat kepadanya. Lalu berbisik-bisik.

Budi merasa takut sekali. Sepanjang jalan, ia terus berdoa di dalam hatinya. Ia berjalan cepat sambil menundukkan mukanya. Ia tidak berani melihat ke orang-orang yang sedang duduk-duduk sambil merokok di depan rumah mereka.

“Tuhan Yesus tolong saya. Tuhan Yesus tolong saya”.

Itulah doa Budi sepanjang perjalanan di lorong sempit itu.

Tiba-tiba Budi mendengarkan suatu suara yang menyuruhnya untuk berhenti lalu mengetuk sebuah rumah di sebelah kirinya.

Budi menjadi semakin takut. Apalagi ia merasa kalau orang-orang yang ada di dalam gang itu, semua sedang memperhatikan dirinya, si orang asing.

“Tuhan Yesus, jika itu suaraMu, maka aku akan segera mengetuk pintu. Jika tidak, maka aku ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Aku takut sekali berada di sini, Tuhan”.

Kembali tidak ada jawaban.

“Tuhan Yesus, aku tidak tahu, apakah ini benar suaraMu, atau suara setan. Aku takut sekali kalau harus mengetuk pintu. Ini sudah setengah 10 malam, Tuhan. Apakah boleh, aku pulang ke rumah saja? Biar besok jam 8 pagi, sebelum pergi ke kantor, aku mampir lagi kemari? Soalnya aku takut kalau pemilik rumah marah karena aku mengganggunya di malam hari seperti ini. Tolonglah, Tuhan, berikan aku penjelasan kalau ini benar-benar suaraMu”.

Kembali tidak ada jawaban.

“Woi! Lagi ngapain di  situ?” suara pak RT bertanya.

Rumah pak RT ada di seberang rumah yang akan diketuk oleh Budi.

“Bener, pak RT. Orang China ada di sini, tengah malam begini. Mencurigakan sekali”, suara laki-laki terdengar.

“Bener, pak RT. Sebaiknya dinterogasi aja. Mau ngapain orang China datang ke sini? Apalagi malam-malam begini”, suara laki-laki lain terdengar.

Budi menjadi semakin takut. Ia gemetar ketakutan.

“A a a anu pak RT. Sa sa sa saya cuma mau mengetuk pintu saja”, kata Budi dengan suara gemetar.

“Yah sudah. Ketok saja”, balas pak RT dengan ramah.

Dengan memberanikan diri, sambil memejamkan mata karena takut, Budi mengetuk pintu.

Beberapa detik kemudian, pintu dibuka.

Seorang tinggi besar dengan muka yang seram membuka pintu. Anehnya, setelah melihat Budi, ia langsung berlari ke dalam rumah.

“Lagi mau nagih utang yah? Percuma Koh, pak Andi lagi ga punya uang. Bulan ini, die baru aje dipecat sama bosnya. Jadi pak Andi benar-benar lagi ga punya uang koh. Lain kali saja tagih utangnya”, kata pak RT.

“Kalo nagih utang, boleh. Tapi, jangan bikin ribut di sini, yah. Udah malem. Nanti kalo ribut-ribut sampe ganggu tetangga, awas lu!”, kata laki-laki yang tadi ikut menegur Budi.

“Ma ma maaf, saya tidak sedang menagih hutang”, kata Budi kepada orang yang mengancamnya.

“Kalo begitu, lu mo ngapain kemari?” tanyanya dengan mata melotot.

Tangannya penuh dengan tato, membuat Budi semakin takut.

“Sa sa sa saya disuruh Tuhan Yesus datang ke sini”, jawab Budi sambil gemeteran.

Mendadak pak RT dan orang galak yang tatoan itu tertawa terbahak-bahak.

“Woi!!! Dengerin nih! Tuhan Yesus suruh si engko ini datang ke rumah pak Andi”.

Mendadak terdengar suara terbahak-bahak dari orang-orang yang sedang nongkrong di depan rumahnya.

Budi menjadi semakin takut.

Saat itulah Andi keluar sambil membawa isteri dan anaknya yang berusia di bawah 1 tahun.

Andi segera memegang tangan Budi, lalu membawanya masuk ke dalam rumah, tanpa memperdulikan suara orang-orang yang sedang menertawakan Budi.

Setelah mempersilahkan Budi duduk, Andi lalu berteriak kegirangan.

“Tuhan Yesus! Terima kasih! Karena Engkau sudah mendengarkan dan menjawab doa kami berdua!”, katanya.

Bu Ani, isteri Andi bertanya kepada Budi, “Apakah engkoh seorang malaikat? Kami berdua baru saja berdoa sambil menangis. Kami minta agar Tuhan Yesus mengirimkan malaikatNya untuk memberikan anak kami susu. Susu kaleng sudah habis dan dan kami sudah tidak mempunyai uang untuk membeli susu buat anak kami. Kami juga sudah tidak bisa lagi berhutang ke warung karena hutang kami sudah banyak di sana”.

“Saat sedang berdoa itulah, kami mendengar suara pintu rumah diketuk dari luar. Kami masih tidak percaya kalau Tuhan Yesus langsung menjawab doa kami saat itu juga”, sambung Andi.

Mereka berdua lalu menangis karena mereka sudah mendapatkan susu buat anak mereka.

Budi berkata, “Saya bukan malaikat. Saya hanya mendengar suara Tuhan Yesus yang menyuruh saya membelikan segalon susu, lalu mengantarkannya kemari”.

Setelah mengatakan itu, Budi ikut menangis karena ia tadi sempat meragukan suara Tuhan Yesus. Bahkan ia sempat berpikir kalau suara yang ia dengar adalah suara setan.

Mendengar suara tangisan, maka tetangga pak Andi pada datang ke sana untuk mengetahui, apa yang sesungguhnya sedang terjadi.

Dengan semangat 45, Andi dan Ani menceritakan apa yang terjadi di sana.

“Tuhannya orang Kristen emang hebat. Doa pak Andi langsung dijawab saat itu juga”, kata si Bapak yang tangannya penuh tato.

Andre, anak Andi dan Ani, yang tadinya sedang tidur, mendadak bangun.

Melihat Budi, Andre minta digendong.

Budi segera menggendong Andre.

Ani berkata, “Andre senang yah, udah punya susu lagi?”

Andre tertawa senang. Lucu sekali mukanya.

Ani lalu menjelaskan ke Budi kalau Andre biasanya ga mau digendong sama orang yang ga dikenalnya.

“Engkoh emang seorang malaikat. Buktinya, Andre minta digendong sama engkoh”, kata Andi.

Budi tersenyum malu.

Tetangga pak Andi turut merasa senang karena besok Andre masih bisa minum susu.

Tak lama kemudian, Budi meminta maaf kepada tetangga pak Andi. Ia mengatakan kalau ia ingin berbicara dengan pak Andi dan ibu Ani bertiga saja. Setelah itu mereka akan berdoa bertiga.

Setelah semua tetangga pulang ke rumahnya masing-masing, Budi mengajak Andi dan Ani berdoa.

“Tuhan Yesus, terima kasih atas pelajaranMu pada hari ini kepada kami bertiga. Kami jadi semakin yakin kalau Engkau adalah Tuhan yang hidup. Tuhan yang memelihara kehidupan dari umatMu. Jadi kami serahkan hidup kami ke dalam tanganMu. Sekali lagi, terima kasih Tuhan Yesus. Amin”.

Andi dan Ani berteriak sekencang-kencangnya, “Amin!!”

Setelah selesai berdoa, Budi memberikan uang 10 juta dan semua uang yang ada di dompetnya kepada Andi. Setelah itu ia berpamitan pulang kepada mereka berdua.

Kembali Andi dan Ani menangis karena senang. Besok mereka berdua masih bisa makan. Demikian juga dengan Andre, anak mereka.

Anehnya, Andre minta digendong lagi sama Budi.

Setelah beberapa menit, menggendong Andre, Budi lalu pulang.

Melihat Budi mau pulang. Pak RT berkata, “Koh, sering-sering main kemari. Jangan lupa bawain susu buat Andre lagi. Engkoh juga jangan takut sama si Udin. Dulu Udin emang preman, tapi sekarang udah insyaf”.

Sambil tertawa, Budi berkata, “Oke, pak RT. Saya akan sering-sering main kemari nengokin Andre”.

Udin berkata, “Koh, kalo engkoh datang kemari, dan ada yang gangguin engkoh. Apalagi sampe mau malak engkoh. Maka bilang aja kalo engkoh temannya Udin. Maka ga ada lagi yang berani ganggu engkoh”.

“Terima kasih pak Udin”, balas Budi.

Budi lalu pulang ke rumah dengan selamat. Sepanjang perjalanan, ia tidak merasa takut lagi. Karena ia tahu kalau Tuhan Yesus selalu melindungi umatNya.

Selain itu, Budi merasa hatinya dipenuhi dengan damai sejahtera.

Apakah anda tahu seperti apa sih perasaan damai sejahtera itu? Hati anda terasa plong. Anda tidak takut apapun. Anda juga tidak punya pikiran jahat sedikitpun.

Saat mau tidur, kembali Budi berdoa, “Tuhan Yesus, aku kan belum hidup kudus, kok Engkau mau memperdengarkan suaraMu, kepadaku?”

Tuhan Yesus menjawab pertanyaan Budi.

“Tidak ada seorang manusiapun yang bisa hidup kudus dengan usahanya sendiri di hadapanKu. Akulah yang kudus. Dan hanya lewat Aku, maka manusia bisa menjadi kudus”.

Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus (Imamat 19:2).

Maka kamu harus menguduskan dirimu, dan kuduslah kamu, sebab Akulah TUHAN, Allahmu (Imamat 20:7).

Kuduslah kamu bagi-Ku, sebab Aku ini, TUHAN, kudus dan Aku telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain, supaya kamu menjadi milik-Ku (Imamat 20:26).

1 Petrus 1:13-25

13 Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus.
14 Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu,
15 tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu,
16 sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.
17 Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.
18 Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas,
19 melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.
20 Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir.
21 Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah.
22 Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.
23 Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal.
24 Sebab: ”Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur,
25 tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya.” Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu.

JADI TUHAN YESUS YANG MENGUDUSKAN UMATNYA. 

Terima kasih sudah membaca kisah sentuhan hati ini.

Semoga damai sejahtera Allah menyertai anda juga.

Amin.

 

kepuasan-hati

Sumber gambar: http://sentuhanhati.com/project/kepuasan-bermurah-hati/

Terima kasih karena sudah mengunjungi, membaca artikel, atau menonton video di sangat aneh.

Jika anda menganggap blog ini bagus maka mohon bantuannya untuk menyebarkan informasi dan hiburan dari blog ini kepada keluarga dan teman-teman anda.

Kami juga mengharapkan ide, saran, dan kritik anda terhadap sangat aneh, jangan ragu-ragu untuk menuliskannya di kolom komentar. He…7x

Sekali lagi, terima kasih.

Admin sangat aneh.