Ditulis oleh Richard Nata

Sangat aneh adalah tempat anda mencari berita aneh, kejadian anehberita aneh hari ini, berita yang sangat aneh, aneh tapi nyataberita unik, berita keren, lifestyle unik, fakta aneh, dan lain sebagainya.

Sangat aneh juga merupakan tempat anda mencari berita aneh, berita unik dan aneh tapi nyata dari selebriti, film aneh, video aneh, musik aneh, iklan aneh, foto aneh, gambar aneh, meme aneh, penampakan aneh, hewan aneh, penyakit aneh, makanan aneh, dan lain sebagainya.

Sangat aneh anti dalam membuat dan menyebarkan berita hoax. Oleh karena itu sangat aneh akan melawan pembuat dan penyebar berita hoax. He…7x

Sangataneh.com terdiri atas aneh tapi nyataberita aneh hari iniberita hoaxberita kontroversiberita unikberita viralgame onlinekejadian anehlucumisterirahasia Tuhansangat anehsentuhan hatiseram, dan wow keren.

Sangataneh.com – Apakah anda merasakan adanya  kesamaan antara pilpres 2014 dengan 2019? Peristiwa yang terjadi saat pilpres 2014, seakan-akan terulang lagi di tahun 2019 alias de javu. Ha…7x

Ga percaya?

Ini buktinya:

  1. Capresnya Jokowi VS Prabowo.
  2. Selama kampanye, kubu Prabowo memfitnah Jokowi setiap hari.
  3. Mengancam akan membuat kerusuhan kalo Prabowo kalah.
  4. Prabowo dan kelompoknya membuat kerusuhan.
  5. Massa pro Prabowo yang mulai kerusuhan dengan melempari polisi yang bertugas.
  6. Menggelorakan jihad dengan menyamakan pilpres dengan perang badar, Uhud atau perang islam lainnya.
  7. Survei sebelum Pilpres memperlihatkan kemenangan Jokowi.
  8. Semua lembaga survei yang kredibel memenangkan Jokowi. Sedangkan lembaga survei yang memenangkan Prabowo adalah lembaga survei abal-abal yang terbukti pemiliknya adalah pendukung Prabowo.
  9. Hasil quick count dari lembaga survei yang kredibel memenangkan Jokowi. Sedangkan hasil quick count dari lembaga survei yang abal-abal memenangkan Prabowo.
  10. Prabowo mengklaim menang dan sujud syukur.
  11. Kedua kubu, baik kubu Prabowo maupun kubu Jokowi mengklaim memenangkan pilpres sebelum KPU mengumumkan pemenangnya.
  12. Hasil real count dari KPU memenangkan Jokowi.
  13. Prabowo menolak hasil real count dari KPU, kemudian mengajukan gugatan ke MK. Beda antara 2014 dan 2019 adalah tahun 2014, Prabowo mengundurkan diri dari pilpres baru mengajukan gugatan ke MK sedangkan 2019, pendukung Prabowo membuat kerusuhan dulu sebelum Prabowo mengajukan gugatan ke MK.
  14. Banyaknya jumlah alat bukti kesaksian di MK yang berubah-ubah. Ha…7x
  15. Gugatan Prabowo ke MK sangat-sangat menyedihkan.
  16. Tuntutannya adalah MK membatalkan keputusan KPU ttg kemenangan Jokowi. Memerintahkan KPU mendiskualifikasi capres Jokowi. Mengangkat Prabowo jadi presiden atau meminta pemilu ulang.
  17. Prabowo mengundang media asing agar mereka mau memberitakan kalau Prabowo yang menang pilpres. Ha…7x
  18. Tahun 2014, ada dukun ke MK. Tahun 2019, ada pengusir setan yang datang ke MK.
profile-picture

Kaskus AddictPosts: 1,47

Saksi Ungkit NIK Siluman-Rekayasa di Bogor-Sulsel, KPU: Tahu Pemenang di Situ?

Quote:

SUMBER

Quote:

katanya ada NIK siluman di kabupaten bogor dan sulawesi

Quote:

padahal pemenangnya adalah wowok
dengan kata lain
melalui saksi ini
wowok sudah menelanjangi diri sendiri dan membuktikan di depan MK
bahwa, kemenangan wowok di daerah itu adalah hasil kecurangan yg terstruktur, sistematis dan masif

menelanjangi diri sendiri dengan saksi sendiri
benar2 saksi yang WOW seperti klaim kubu 02

emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka

Saksi Ungkit NIK Siluman-Rekayasa di Bogor-Sulsel, KPU: Tahu Pemenang di Situ?

profile-picture
profile-picture
profile-picture
Kagemane4869 dan 36 lainnya memberi reputasi

 

37

 

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
profile-picture

Kaskus GeekPosts: 12,817

jd kata2 tsm itu bukan tuduhan tp pamer ya?
emoticon-Bingung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Justika1118 dan 17 lainnya memberi reputasi

 

18

 

profile-picture

Kaskus ManiacPosts: 4,325

Saksi Ungkit NIK Siluman-Rekayasa di Bogor-Sulsel, KPU: Tahu Pemenang di Situ?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Justika1118 dan 16 lainnya memberi reputasi

 

17

 

profile-picture

Kaskus AddictPosts: 3,791

gw baru ngikutin sidangnya semalem krn baru sempet buka tv, lucu jg saksi yg dibawa…saksi tinggal 50KM dari lokasi temuan. emang deket rumahnya ga ada TPS apa sampe harus perjalanan jauh buat nyari temuan ?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Justika1118 dan 14 lainnya memberi reputasi

 

15

 

profile-picture

Kaskus GeekPosts: 17,807
Saya kebelet pipis yang mulia emoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan 17 lainnya memberi reputasi
profile-picture

KaskuserPosts: 169
lucunya dagelan politik negeri ini..
Saksi Ungkit NIK Siluman-Rekayasa di Bogor-Sulsel, KPU: Tahu Pemenang di Situ?
profile-picture
muhamad.hanif.2 memberi reputasi

Sumber: https://www.kaskus.co.id/thread/5d0ae1bf9a972e648027d040/saksi-ungkit-nik-siluman-rekayasa-di-bogor-sulsel-kpu-tahu-pemenang-di-situ/?ref=homelanding&med=obrolan_hangat

 

Mikir...! Nuduh Curang Bukti Abal-abal Trus Minta Jadi Presiden? Helloowwww..

Sumber: https://seword.com/politik/mikir-nuduh-curang-bukti-abalabal-trus-minta-jadi-presiden-helloowwww-pPULNvu1Yr

Thumbnail

Sumber: https://seword.com/politik/mk-majukan-putusannya-pertanda-apa-Q8RqTBc0vQ

Perbedaan antara pilpres 2014 dan 2019 adalah:

  1. Pada pilpres 2014, kerusuhan terjadi di depan MK sedangkan pada pilpres 2019, kerusuhan terjadi di depan Bawaslu.
  2. Pada pilpres 2019, Prabowo, Amien Rais, Fadli Zon, Kivlan Zen,  Eggi Sudjana, Brisik, mantan danjen Kopassus mayjen purnawirawan Soenarko, Permadi, Lieus Sungkharisma, dan gerombolan si berat lainnya menyerukan people power dan revolusi untuk memenangkan Prabowo.

Mereka merencanakan kerusuhan sejak pilpres 2019 belum dilakukan.

AKHIRNYA KERUSUHANPUN BENAR-BENAR TERJADI DARI 21 MEI MALAM SAMPAI 23 MEI 2019.

OLEH KARENA ITU MEREKA SEMUA YANG SUKA MEMPROVOKASI RAKYAT HARUS DITANGKAP AGAR TIDAK TERJADI LAGI KERUSUHAN SETELAH PEMILU. SELAIN ITU PKS, GERINDRA, FPI, FUI, GNPF ULAMA, GARIS, HARUS DIBUBARKAN KARENA MEREKA SUKA MEMBUAT KEKACAUAN DI INDONESIA.

Mengapa PKS Begitu Membenci Jokowi


Mengapa PKS Begitu Membenci Jokowi

2 Agustus 2014   17:21

Kita mungkin merasa aneh melihat  kebencian luar biasa yang ditunjukan kader PKS terhadap sosok Jokowi. Bagaimana dengan mudahnya mereka menggadaikan akhlak mulia yang sudah dibangun oleh para perintis Partai Keadilan hingga menjadi Partai Keadilan Sejahtera saat ini. Berbagai fitnah mereka tembakkan kepada Jokowi tanpa menghiraukan logika… Dan pengaruhnya ternyata cukup signifikan, jutaan umat Islam di luar PKS turut memakan fitnahan tersebut sehingga Jokowi dapat dikalahkan di kantung-kantung PKS seperti Jawa Barat dan Sumatera Utara. Apa yang mereka lakukan ini pada dasarnya memang menyumbang suara bagi Prabowo, tapi jelas-jelas menghilangkan simpati dari umat Islam rasional dan kalangan non muslim yang merasa keyakinannya dipojokkan.

Tapi mari mengulas penyebab kebencian PKS terhadap Jokowi… Beginilah awal mulanya…

Pada tahun 2010 yang lampau, PKS sebenarnya telah menjadi salah satu gerbong pendukung Jokowi + Fx. Rudi pada pemilihan walikota Solo. Bahkan Hidayat Nur Wahid aktif menjadi juru kampanye untuk pasangan tersebut. Jokowi-Hadi pun berhasil meraih 90,09 persen suara, mengalahkan pasangan Eddy S Wirabhumi-Supradi Kertamenawi yang diusung Partai Demokrat dan Partai Golkar. Pertanyaanya sekarang, apakah saat itu PKS tidak sadar kalau mereka telah mendukung FX. Rudi yang kristen ? Apakah PKS tidak sadar telah mendukung Jokowi yang antek zionis seperti sering dituduhkan akhir-akhir ini ? Mari kita berbaik sangka saja, mungkin PKS mendukung Jokowi karena sang petahana berhasil memperbaiki kualitas kehidupan warga Solo dalam periode pertama kepemimpinannya. 

Kemudian tibalah event pilgub DKI Jakarta pada tahun 2012. Perlu diingat bahwa ketika pilgub terjadi, posisi PKS masih di atas angin. Mereka belum tersangkut kasus korupsi dan relatif masih dipercaya oleh masyarakat. Salah satu pertaruhannya adalah dengan mengajukan calon sendiri dalam pilgub tersebut, mereka mengajukan pasangan Hidayat Nur Wahid – Didik Rachbini  untuk menghadapi Jokowi-Ahok. PKS sangat percaya diri memenangkan pilgub tersebut mengingat DKI dianggap sebagai basis mereka  dan sempat hampir mengalahkan Foke dalam pilgub sebelumnya. Untuk menghadapi pilgub ini, PKS tidak main-main… Mereka mengajukan HNW, tokoh yang diproyeksikan untuk dicalonkan sebagai Presiden dalam pemilu 2014. Pengajuan ini merupakan pertaruhan besar karena tokoh yang sebelumnya digadang, Bang Sani, terpaksa dikandaskan.

PKS sebenarnya sudah memiliki rencana jangka panjang, dengan HNW sebagai gubernur DKI, maka jalan untuk memenangkan pemilu akan semakin mulus, apalagi dengan sokongan Jabar dan daerah lainnya. Apabila HNW berhasil memenangkan pilgub DKI, ada kemungkinan besar ia akan disokong sebagai Capres dalam pemilu, tanpa mempertimbangkan janji jabatannya.

Sayangnya niat PKS saat itu dihadang oleh Jokowi yang dulu pernah didukungnya.  PKS yang masih percaya diri  memenangkan pilgub saat itu tidak terlalu agresif menyerang Jokowi, mereka masih percaya diri bahwa sosok HNW yang mantan ketua MPR masih lebih bonafide dibandingkan calon-calon lainnya, apalagi Jokowi. Walau demikian mereka cukup memahami bahwa tokoh Jokowi masih memiliki potensi berbahaya, beberapa serangan pun ditembakan. Salah satunya tuduhkan kalau Jokowi tidak amanah karena melanggar janji memimpin Solo. 

14069423541799526765

14069423541799526765

 

Tuduhan terhadap Jokowi tampak janggal  karena pada awalnya PKS juga berniat mendukung Jokowi dengan memasangkannya dengan Bang Sani (Triwisaksana), namun Megawati menolak usul tersebut. Jokowi sendiri menolak dipasangkan dengan kader PKS karena adanya “mahar” yang harus dipenuhinya.

https://metro.news.viva.co.id/news/read/297870-aboe-bakar-pks–megawati-tolak-jokowi-sani

Hasil pilgub putaran pertama ternyata kurang menggembirakan. PKS sangat terkejut dengan hasil yang mereka peroleh. Seorang mantan ketua MPR dan tokoh terbaik mereka hanya mendapat sekitar 12 % suara. Jauh dari pasangan Jokowi-Ahok yang mencapai 42%.  Hal ini disebabkan karena warga kota tidak terlalu familiar dengan tokoh HNW. PKS menyadari hal itu sehingga mereka mendorong HNW untuk turun langsung ke lapangan, meniru aksi blusukan Jokowi… Upaya ini tidak berhasil…

1406943228621862866

1406943228621862866

14069438631765667578

14069438631765667578

Pada putaran kedua, PKS memutuskan untuk mendukung Foke. Menurut kabar yang beredar, hal ini diputuskan setelah permintaan mahar mereka ditolak oleh kubu Jokowi-Ahok. Sejak inilah benih kebencian PKS terhadap Jokowi memuncak, mereka menganggap Jokowi sebagai orang sombong yang tidak menghargai kebesaran PKS. Berbagai serangan membabi buta untuk memuluskan Foke menjadi gubernur pun mulai dilancarkan, salah satunya dengan mengangkat isu SARA.

Kemenangan Jokowi-Ahok dalam pilgub putaran kedua (Foke langsung mengakui kekalahannya setelah melihat hasil Quick Count) semakin memanaskan emosi PKS. Kader-kader tetap dikondisikan untuk merongrong pemerintahan Jokowi-Ahok baik lewat pemerintahan (DPRD) maupun media hingga kepentingan mereka diakomodir. Untungnya Jokowi-Ahok tidak bergeming.

14069440851794237181

14069440851794237181

Sejauh ini kita sudah bisa mendapatkan beberapa penyebab kebencian PKS terhadap Jokowi, yaitu :

1. Jokowi menghalangi niat PKS untuk menguasai Jakarta dan Indonesia
2. Jokowi tidak menanggapi permintaan mahar dari PKS

Menjelang Pilpres 2014  terjadi peristiwa penting yaitu ditangkapnya LHI oleh KPK terkait kasus korupsi daging. Peristiwa ini sangat mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap PKS sehingga partai itu seringkali diidentikan dengan “sapi”. Berbeda dengan sikap partai-partai lainnya yang seringkali tidak melawan tindakan KPK, PKS secara lantang menuduh terjadinya konspirasi di balik tindakan tersebut. Hingga saat ini, tokoh PKS seperti Fahri Hamzah terus menyuarakan pelemahan atau pembubaran KPK yang dianggapnya telah mencoreng nama baik PKS. Fahri mungkin lupa kalau lebih banyak masyarakat yang bersimpati terhadap KPK daripada PKS. Akibatnya kepercayaan masyarakat terhadap PKS semakin melemah. Simpatisan non kader yang tadinya mempercayai kebersihan PKS mulai merasa ragu dan mencari tokoh lain yang dianggap bersih.

Pemilu 2014 menjadi hakim bagi PKS. Partai ini hanya mendapatkan 8.480.204 suara atau 6,79%  secara nasional.  Jumlah ini tentunya sangat kecil dilihat dari kiprah PKS yang telah berdiri sejak 1998 atau dibandingkan misalnya Partai Nasdem yang baru berdiri dan sanggup meraih 8.402.812 suara. Perolehan suara PKS bisa jadi merupakan suara kader murni. Pimpinan PKS lagi-lagi terkejut atas hasil ini karena target mereka adalah meraih 3 besar. Mereka pun menyalahkan KPK yang dianggapnya telah merusak nama baik PKS dan menghilangkan suara simpatisan. Mereka tidak sadar kalau penyebab kekalahan tersebut lebih banyak berasal dari masalah internalnya. Berikut adalah beberapa penyebab kekalahan tersebut ”

1. Aksi-aksi tidak simpatik tokoh PKS seperti Fahri Hamzah yang kerap menyuarakan pembubaran KPK menghilangkan suara masyarakat yang menaruh kepercayaan pada KPK. Mereka lupa bahwa masyarakat lebih menyoroti keburukan tokoh politik daripada kebaikannya. Segala prestasi dan kredibilitas yang dibangun oleh kader-kader terbaik PKS tertutupi oleh aksi-aksi seorang Fahri Hamzah. Kejadian ini terulang kembali ketika pilpres.

2. PKS tidak memiliki tokoh yang bisa dijual kepada masyarakat. Pasca ditahannya LHI, otomatis PKS tidak memiliki banyak pilihan untuk bisa diajukan sebagai Presiden. Sebenarnya setelah kekalahan HNW dalam pilgub, PKS lebih realistis dengan hanya mengajukan cawapres. Mereka pun mengajukan tiga tokoh capres dalam PEMIRA yaitu Aher, HNW dan Anis Matta. Ketiga tokoh tersebut memiliki kekuarangan masing-masing. Aher belum dikenal secara nasional, HNW terbukti kalah dalam pilgub (apalagi pilpres), sedangkan Anis Matta tidak memiliki keunggulan apa-apa dibandingkan capres lainnya.

Realistis atas keadaan tersebut, para capres hasil pemira melakukan manuvernya masing-masing dengan mendekati capres-capres yang populer. HNW dan Anis Matta tidak terlalu dilirik karena dianggap tidak bonafide. Satu-satunya yang berpeluang adalah Aher, namun melihat perolehan partainya yang kecil ia menurunkan targetnya menjadi cawapres. Aher pun mendekati baik Jokowi maupun Prabowo.

140694740478327164

140694740478327164

Upaya Aher untuk mendekati Jokowi ternyata terhalang oleh kondisi eksternal dan internal. Jokowi maupun kalangan di sekitarnya menolak Aher karena tokoh no.1 di Jawa Barat tersebut berpotensi terkait korupsi, selain itu permintaan mahar dan menteri tentunya tidak akan diakomodir Jokowi. Di kalangan internal PKS sendiri, Fahri Hamzah dan kawan-kawan sudah kadung menghina Jokowi sehingga keputusan merapat dengan Jokowi akan merusak kepercayaan kader terhadap pimpinan partai. Keputusan partai akhirnya mengalihkan dukungan secara total kepada Prabowo.

Prabowo sangat tertolong berkat masuknya PKS dalam barisan mereka. Tapi tentunya tidak ada yang gratis, PKS memilik mesin yang cukup baik untuk menggerakan massa dan melakukan propaganda, Prabowo mau tidak mau harus mensuplai “bahan bakar” untuk mesin tersebut. Prabowo pada awalnya ingin dipasangkan dengan Aher karena menurutnya suara warga Jabar akan sangat menolong kemenangannya. Tapi sayangnya di detik akhir Hatta Rajasa masuk dengan membawa “mahar” yang lebih besar daripada hanya sekadar janji “suara warga Jabar”. PKS sempat kecewa atas keputusan Prabowo tapi mereka tidak punya pilihan lain kecuali all out mendukung Prabowo.. Toh mereka sudah menerima “bahan bakar” untuk menjalankan mesinnya.

Pasukan PKS ternyata terbilang sangat militan dibandingkan pendukung Prabowo sendiri. Hal ini bisa dipahami karena pimpinan PKS mendoktrin para kadernya untuk memandang pilpres sebagai pertarungan hitam – putih. Prabowo di satu sisi merupakan harapan umat Islam melawan Jokowi yang mewakili “asing, non muslim, dan freemasonry”. Mereka lupa kalau Prabowo didukung oleh organ Kristen yang dipimpin adiknya, mereka lupa kalau keluarga Prabowo adalah non muslim, mereka juga lupa kalau Prabowo bukanlah seorang muslim yang taat. Pokoknya Sami’a watha’na,  perintah pemimpin partai adalah sabda yang harus dipenuhi.  Fitnah pun mengalir dengan derasnya karena para Kader tidak mampu menemukan kesalahan nyata pada Jokowi. Fitnah paling kejam adalah dengan menuduh keluarga Jokowi kafir. Beberapa kali situs propaganda PKS (pkspiyungan) menyuarakan hal ini, yang kemudian disebarkan secara membabi buta oleh para kadernya. Uniknya, seringkali fitnah-fitnah ini tidak konsisten. Satu saat mereka menuduh Jokowi sebagai antek Amerika, di lain waktu Jokowi sebagai antek komunis. Seorang berpikiran sehat tentunya merasa bingung bagaimana seorang antek Kapitalis bisa menjadi antek komunis di waktu yang sama. Tapi begitulah fitnah… Fitnah tidak perlu sejalan dengan logika, fitnah ditujukan untuk meraih simpati 0rang-0rang yang tidak berpikir…

Para pimpinan PKS diam saja menangggapi penyebaran fitnah oleh kader-kadernya. Mereka tidak peduli kalau tindakan ini justru merugikan Prabowo yang sebelumnya memiliki nama baik dan cenderung tidak suka menyerang secara membabi buta. Apabila kita perhatikan, isu yang diangkat Gerindra untuk menyerang Jokowi biasaya berkutat soal pelanggaran amanah, pelanggaran perjanjian batu tulis, dan antek Megawati. PKS di lain pihak mengangkat isu yang lebih liar seperti Jokowi kafir, ibadahnya palsu, menteri agama Syiah, dan lain-lain. Berbagai upaya penipuan lewat media maya pun dilakukan, foto-foto artis dan Jokowi dipalsukan dengan photoshop. Kemampuan ini hanya dilakukan oleh kader PKS karena Gerindra tidak memiliki kemampuan soal itu. Untungnya segala kepalsuan tersebut dengan mudahnya dipatahkan oleh simpatisan Jokowi yang katanya “bodoh-bodoh” itu.

Upaya PKS ini terbukti merusak perolehan suara Prabowo karena kalangan pemilih rasional, minoritas, non muslim, dan santri yang merasa dihina Fahri Hamzah mengalihkan dukungan kepada Jokowi.  Pemilih jenis ini berjumlah puluhan juta, tidak sebanding dengan 8 juta suara yang disumbangkan PKS kepada Prabowo.

14069489561504271563

14069489561504271563

Selain menyebar fitnah, PKS juga berusaha terus meraih kepercayaan Prabowo untuk mempertahankan posisi tawarnya. PKS memberikan hasil-hasil survey yang menggembirakan Prabowo walaupun pada kenyataannya survey tersebut fiktif. Secara tidak langsung, PKS telah menjerumuskan Prabowo dalam suatu kenyataan palsu. Ujung-ujungnya ketika mereka memberikan hasil real count abal-abal kepada Prabowo yang dijadikan dasar bagi Prabowo untuk mengundurkan diri dari rekapitulasi. Prabowo menuduh terjadinya kecurangan secara sistematis padahal seluruh saksi yang katanya berasal dari PKS sudah menandatangani berita acara di tingkat TPS.

Aksi PKS telah merusak nama baik Prabowo

Kemenangan Jokowi tentunya merupakan mimpi buruk bagi kader PKS. Mereka yang telah berjibaku secara ikhlas (berbeda dengan pendukung Prabowo lainnya yang dimobilisasi) merasa dikalahkan oleh orang “kafir”. Kenyataan ini mengganggu keimanan mereka karena selama ini mereka percaya Tuhan selalu berada di pihaknya. Akibatnya hingga sekarang masih banyak kita temukan kader PKS yang menyuarakan sumpah serapah terhadap Jokowi. Mereka lupa kalau PKS merupakan bagian dari sistem demokrasi dan harus menerima segala keputusan yang dihasilkan sistem itu.

Di tingkat elite, kemenangan Jokowi akan menyulitkan pembiayaan mesin partai. Tanpa menteri di pemerintahan, kas PKS akan berkurang. Mereka tidak bisa selamanya bergantung kepada kepala daerah karena KPK selalu mengawasi. Akhirnya salah satu cara yang akan dijalankan adalah menyandera pemerintahan Jokowi lewat satu-satunya jalur yang masih mereka miliki : legislatif. Menurut prediksi saya, PKS akan terus merongrong pemerintahan Jokowi hingga kepentingan mereka diakomodir. Selama itu pula mereka akan mendekati Prabowo yang bisa menjadi ATM sementara buat mereka…

Semoga tulisan ini bisa memberikan sedikit pencerahan terhadap situasi yang terjadi. Semoga kader PKS semakin sadar kalau mereka hanya menjadi alat bagi manuver politik para elitenya… Semoga PKS bisa kembali menjadi Partai Islam ideal yang menjadi teladan bagi partai lainnya…

Taktik Permainan Prabowo

Sumber: https://www.newmandala.org/taktik-permainan-prabowo

BERITA TERBARU HARI INI – BARU 17 APRIL 2019 – TERULANG KEMBALI

KLAIM UNGGULI JOKOWI, CAPRES PRABOWO SUJUD SYUKUR 3X,KATA MA`RUF AMIN : MENGHIBUR DIRI

Premiered Apr 17, 2019

Dalam tempo 3x 12 jam, Prabowo tiga kali mengumumkan kemenangannya. … Ini Kata Ma’ruf Amin : BIARKAN DIA MENGHIBUR DIRI sumber : tribunnews.com, cnnindonesia.com

Yang Goblok Siapa Sih Sampai Prabowo Sujud Syukur?

“Tentang ‘Terstruktur, Sistematis, dan Massif'” by @budisujatmiko

I’m Just Budi @CumaSiBudi

Lelah tiap hari mendengar & membaca kalimat “Terstruktur, Sistematis, dan Massif”. Ini semua gara2 wowo.

I’m Just Budi @CumaSiBudi

Hanya krn ada secuil kejadian di MK/media, para pendukung Titisan Tuhan ini langsung histeris: “TSM, TSM, TSM! Terbukti!” Lah….

I’m Just Budi @CumaSiBudi

Bahas singkat: “Apa sih TSM (Terstruktur, Sistematis, dan Massif) itu?

I’m Just Budi @CumaSiBudi

TERSTRUKTUR: Melibatkan total aparatur negara + penyelenggara Pemilu, secara struktural dari atas sampai ke bawah

I’m Just Budi @CumaSiBudi

Dari level Menteri, Gubernur, sampe RT terlibat. Dari level KPU pusat sampe KPPS ikutan curang.

I’m Just Budi @CumaSiBudi

SISTEMATIS: Ada SOP standar dari ujung Aceh sampe Papua, strateginya jelas + teknis cara dilapangan

I’m Just Budi @CumaSiBudi

Ada cetak biru operasi yg memang dibuat yg jd acuan melakukan kecurangan, bukan krn reaksi spontan orang perorang (sporadis)

I’m Just Budi @CumaSiBudi

MASIF: Kecurangan yang sangat besar dan bersifat menyeluruh, mencakup mobilisasi massa + aparat pemerintahan

I’m Just Budi @CumaSiBudi

Dengan kata lain, TSM hanya mungkin dilakukan oleh pihak yg berkuasa, yg mempunyai power dlm roda pemerintahan + politik + militer

I’m Just Budi @CumaSiBudi

Apa iya mau nuduh SBY curang? SBY tdk ikutan Pilpres sob. JKW curang? Lah, cm didukung koalisi minoritas + oposisi mana bs macem2.

I’m Just Budi @CumaSiBudi

Hanya dr membaca surat gugatan, kita bs menilai apakah gugatan itu bs dikabulkan atau tidak. Gugatan wowo? Sangat-sangat menyedihkan.

I’m Just Budi @CumaSiBudi

Di Pengadilan, semua bisa meminta dan mengklaim apapun, juga menuntut siapapun. Itu adl satu hal. Dikabulkan atau tidak? Itu adl hal lain.

I’m Just Budi @CumaSiBudi

Ambil contoh: Petitum gugatan Wowo sangat obscur (tdk jelas). Dia minta:

I’m Just Budi @CumaSiBudi

1. MK membatalkan keputusan KPU ttg penetapan rekapitulasi suara + Kep KPU ttg Penetapan Pasangan Presiden dan Wapres Terpilih.

I’m Just Budi @CumaSiBudi

2. Memerintahkan KPU mendiskualifikasi capres nomor urut dua 3. Memerintahkan KPU melakukan pemungutan suara ulang di seluruh Indonesia

I’m Just Budi @CumaSiBudi

See? Petitumnya saja tabrakan satu dgn yg lain, padahal petitum inilah yg harus dibuktikan dlm proses persidangan. Gini kok mau menang.

I’m Just Budi @CumaSiBudi

Bgmn bisa Wowo minta JKW didiskualifikasi, tp disaat yg bersamaan minta pemungutan suara ulang? Kl dikabulkan, lawannya siapa? Habib Rizieq?

I’m Just Budi @CumaSiBudi

Alasan minta pemilu ulang apa? Di Posita tdk dibahas. Cm nyebut suara Jkw ketambahan 1,5 juta suara, dan Wowo dikurangi 1,2 juta suara.

I’m Just Budi @CumaSiBudi

Posita ini juga absurd banget. Jelas2 selisih JKW & Wowo 8jt sekian, kl pun itu dikabulkan jumlahnya total cm 2.7jt ~> Jkw masih menang.

I’m Just Budi @CumaSiBudi

Ini kita blm mbahas pembuktian loh ya. Wowo benar2 dikerjain habis2an sama tim pengacara abal2 ini. Kasian wowo.

I’m Just Budi @CumaSiBudi

Oke, bukti, cm 1 saksi yg kekuatan pembuktianny bs dpake (Harakiri ngaku nyoblos 6 suara). Sila cari tambahan 4jt saksi lain yg mau ngaku 🙂

I’m Just Budi @CumaSiBudi

Berita buruknya: Tingkah saksi tadi itu spontan dan sporadis, bukan TSM. Poor Wowo…

I’m Just Budi @CumaSiBudi

Posita tdk jelas & ngelantur kemana2. Petitum saling tabrakan & kontradiktif. Saksi kualitas Arca Roro Jonru. Pengacara abal2.

I’m Just Budi @CumaSiBudi

Sudahlah @Prabowo08. Saran sy satu: Segera eksekusi semua pengacara anda. Main2 semuany. Anda cm dijadiin sapi perah. pic.twitter.com/4qVpNE2gx3
  Expand pic

I’m Just Budi @CumaSiBudi

Ralat: @Novela_Nawipa tdk menyaksikan apapun. Obscuur. Ketua DPC Gerindra Kab. Painai ini jgn dipuji, kasian 🙂 pic.twitter.com/eenI9iEy4U
  Expand pic

I’m Just Budi @CumaSiBudi

Ampun om, ampun RT @hadie_yantoo: antum minta di fentung laskar fpi yah bang! 😀 pic.twitter.com/0gQ1mI94kT
  Expand pic

Sumber: https://chirpstory.com/li/230364

Bila Prabowo Balik Badan, Kelompok ini Hancur Tercerai-berai

 Asaaro Lahagu . 2 months ago . 4 min read .  16.4k

Bila Prabowo Balik Badan, Kelompok ini Hancur Tercerai-berai

Mengapa Prabowo mengklaim bahwa ia telah menang 62 persen di Pilpres 2019? Apakah ia punya data akurat yang benar-benar memperlihatkan dirinya menang 62 persen? Jawabannya tidak. Prabowo tidak punya data akurat.

Hasil exit poll dan quick count yang dilakukan oleh internal Prabowo sama sekali tidak akurat dan hasilnya kacau. Pun dari hasil data real count yang disebutnya pada pidato kemenangan kedua malam 17 April sudah 40 persen dan esoknya menjadi 60 persen, sama sekali hanya klaim dan tidak berdasarkan fakta.

Adalah sangat aneh dimana pada saat yang sama, data di KPU, masih nol koma sekian persen, Prabowo sudah punya data 40 persen hasil real count. Ini sebetulnya mustahil. 320 ribu data C1 dari TPS yang berhasil dihimpun oleh Prabowo dalam kurun waktu 5 jam, adalah sebuah kemustahilan. Jadi tak heran jika BPN tak bisa membuka datanya kepada publik. BPN hanya bisa menjawan rahasia.

Lalu mengapa Prabowo mengklaim telah menang 62 persen? Apakah Prabowo tidak percaya hasil quick count sejumlah lembaga survei? Jawabannya bukan. Prabowo paham betul metodologi ilmiah quick count. Di Pilgub DKI Jakarta 2017 lalu, Prabowo merayakan kemenangan Anies berdasarkan hasil quick count. Dari hasil quick count, Prabowo sudah paham betul ia sudah kalah.

Lalu apa alasan Prabowo soal klaim menang 62 persen itu? Apakah ia tidak percaya kepada KPU? Apakah ia benar-benar percaya soal adanya kecurangan pemilu? Jawabannya bukan. Prabowo percaya kepada KPU. Ada memang kecurangan kecil di sana-sini, namun masih bisa diperbaiki atau diulang pencoblosannya.

Lalu apa alasan mengapa Prabowo mengklaim kemenangan 62 persen itu? Apakah ia sedang dilanda megalomania dan delusional? Jawabannya tidak. Sebagaimana yang Jenderal Luhut Panjaitan katakan, Prabowo masih seorang yang berpikir rasional. “Prabowo orang rasional, bisa diajak berpikir jernih”, kata Luhut sesudah berbicara dengan Prabowo lewat telepon.

Saya butuh berhari-hari untuk menganalisis apa alasan sebenarnya Prabowo mengklaim kemenangan 62 persen. Saya terus mengumpulkan remah-remah informasi untuk menemukan alasan Prabowo mengklaim kemenangan 62 persen itu. Ternyata berikut alasan yang paling masuk akal mengapa Prabowo terus mengklaim menang 62 persen.

Deklarasi kemenangan memang harus dilakukan oleh Prabowo. Mengapa? Karena ia harus menyelamatkan kelompok ormas di belakangnya. Ada agenda besar yang ingin dibangun oleh kelompok ormas pendukungnya dari deklarasi kemenangan itu.

Perhatikanlah siapa-siapa yang mendampingi Prabowo saat tiga kali mendeklarasikan diri sebagai pemenang pilpres. Kebanyakan adalah orang-orang non partai, aktivis individu dan pemimpin ormas-ormas keagamaan berbaju gamis. Orang-orang ini sangat setia mendampingi Prabowo.

Pertanyaannya adalah mengapa mereka begitu setia kepada Prabowo? Mengapa mereka mensupport deklarasi yang dinilai banyak pihak ‘memalukan’ dan ‘tak rasional’ itu? Alasannya adalah hanya dengan deklarasi itu mereka mendapat panggung. Ya panggung politik dan keuntungan politik.

Kelompok ormas di belakang Prabowo itu menjadi semakin solid jika selalu ada ‘gerakan’. Mereka tetap solid jika ada ‘musuh’ bersama. Mereka tetap solid jika ada ‘mainan’. Mereka butuh penguatan kelompoknya.

Bagi kelompok ormas di belakang Prabowo, melawan Jokowi itu termasuk persoalan hidup mati. Masalahnya mereka tidak bisa berdiri sendiri melawan Jokowi. Mereka tidak sanggup jika menantang Jokowi sendirian. Mereka membutuhkan ikon. Mereka membutuhkan sosok yang bisa dijadikan tokoh perlawanan.

Jika Prabowo mengakui kekalahan dan tidak mau lagi mengakomodasi kehendak mereka, maka tak ada lagi ruang bagi mereka untuk bermain-main. Kelompok mereka akan langsung pudar dan lemah. Keanggotaan mereka pun menjadi tidak kuat dan akan tercerai-berai.

Perhatikan kekuatan kelompok ormas di belakang Prabowo. Jika kelompok itu hanya terdiri dari kelompok alumni 212, FPI, FUI dan eks HTI, jelas kekuatan mereka tak bisa melawan Jokowi. Mereka pasti tidak bisa berbuat banyak. Kendatipun Rizieq Shihab dari Arab Saudi berbusa-busa mulutnya menggerakkan pendukungnya melawan Jokowi, sama sekali tidak ada artinya jika tidak bersama Prabowo.

Oleh karena itu kelompok ini terus merengek-rengek agar Prabowo terus mengklaim kemenangan. Imbalannya mereka setia dan patut kepada Prabowo. Mereka siap diperintahkan Prabowo. Mereka siap menjadi attack dog-nya Prabowo.

Maka narasi pertama yang dibangun adalah telah menang Pilpres. Ketika real count KPU menunjukkan bahwa Prabowo kalah, maka narasi yang dibangun selanjutnya adalah narasi kecurangan. Tak heran sekarang sudah mulai banyak meme-meme kecurangan berserta video pernyataan curang.

Sesudah narasi kecurangan, maka narasi selanjutnya adalah menolak hasil pemilu. Nantinya mereka terus mendesak Prabowo agak menolak hasil pemilu. Jika demikian mereka bisa melakukan perlawanan dan Prabowo tetap dijadikan sebagai ikonnya.

Nah, sekarang semuanya kembali kepada Prabowo. Jika Prabowo ngotot menolak hasil pemilu dan tetap mengklaim dirinya sebagai pemenang dan menuntut pemilu ulang, maka situasi akan tetap gaduh. Dan dalam situasi gaduh kelompok-kelompok itu tetap eksis.

Sebaliknya jika Prabowo berbalik badan meninggalkan kelompok provokator di belakangnya maka ia harus realistis menerima hasil pemilu. Jika Prabowo balik badan, maka jelas kelompok-kelompok alumni 212, FPI, FUI eks HTI yang ada di belakang Prabowo akan semakin lemah dan tercerai-berai. Begitulah kura-kura.

Salam Seword,

Asaaro Lahagu

Sumber: https://seword.com/politik/bila-prabowo-balik-badan-kelompok-ini-hancur-terceraiberai-fDdl8k9yZ

Gagal Jebak Jokowi, Prabowo Punya 4 Skenario Akhir

 Asaaro Lahagu . 2 months ago . 4 min read .  28.3k

Gagal Jebak Jokowi, Prabowo Punya 4 Skenario Akhir

Dua jebakan Prabowo kepada Jokowi. Kedua jebakan itu simpel. Saking simpelnya, publik bisa menganggapnya sebagai jebakan lebai alias main-main. Namun bagi Prabowo, walau jebakan itu main-main, bisa-bisa hasilnya bukan main.

Pertama, Prabowo adu cepat deklarasi pemenang Capres. Prabowo sampai 3 kali menyatakan sebagai pemenang dan telah menjadi Presiden RI. Apa jebakan Prabowo di sini? Prabowo ingin memancing Jokowi tersinggung dan marah luar biasa.

Ketika Jokowi marah karena Prabowo memproklamasikan diri sebagai presiden tandingan, maka Jokowi langsung menyerang Prabowo. Jokowi mengeluarkan kata-kata sadis, kasar dan mungkin memerintahkan aparat untuk menangkap Prabowo karena telah memproklamasikan diri sebagai Presiden.

Bila hal itu terjadi, maka pendukung Prabowo yang 45 persen itu langsung mengamuk menyerang balik Jokowi. Mereka berdemo bukan karena alasan kalah tetapi karena serangan kata-kata Jokowi kepada Prabowo. Emosi pendukung Prabowo akan mudah terbakar. Mereka pun mengacaukan situasi. Dan dalam situasi kacau-balau inilah pemilu dianggap gagal. Skenarionya adalah pemilu ulang.

Tetapi apa yang terjadi? Jokowi tidak marah atau grasa-grusu melihat Prabowo 3 kali mengklaim kemenangan. Jokowi membiarkan emosi Prabowo cooling down. Jokowi malah mengajak kubu Prabowo agar bersatu kembali menjalin persahabatan.

Mengapa Jokowi mengumumkan bahwa dia telah mengutus utusan untuk bertemu Prabowo? Mengapa dia tidak diam-diam mengirim utusannya? Alasannya adalah agar pendukung Prabowo sadar dan paham bahwa Jokowi sedang melakukan itikad baik. Hal ini membuat emosi pendukung Prabowo yang kalah pelan-pelan cooling down alias kembali dingin.

Gagal pada jebakan pertama, Prabowo melancarkan jebakan kedua. Prabowo menstigma Pemilu telah curang. Ia menang 62 persen dengan selisih 25 persen. Hitungan quick count salah semua. Alasannya mereka telah bersengkokol membohongi publik dan mendukung Jokowi.

Apa jebakan Prabowo di sini? Prabowo sedang memancing salah satu lembaga survei keluar dari barisan survei yang memotret kemenangan Jokowi dan berbalik mendukungnya. Ibarat Said Didu yang setelah dipecat, bernyanyi dengan menjelek-jelekkan BUMN dan Jokowi. Jadi Prabowo sedang memancing dan berharap agar ada satu survei yang kredibel berbalik memenangkan Prabowo.

Jebakan lainnya adalah lembaga-lembaga survei itu akan terpancing buka-bukaan data. Lalu kubu Prabowo akan melihat celah kelemahan mereka. Jika ditemukan, maka kubu Prabowo akan menyerang balik dan menjadikan kelemahan itu sebagai pembenaran persengkokolan.

Lewat celah dan borok salah satu survei, maka Prabowo akan menjadikannya sebagai argumentasi untuk terus mengklaim kemenangannya. Namun apa yang terjadi? Tak satupun survei kredibel berbalik memenangkan Prabowo. Tak satupun survei kredibel yang membongkar borok survei lain dan mengaku telah bersengkokol.

Mengapa? Karena memang mereka tidak bersengkokol. Mereka bekerja objektif dan ilmiah. Kalaupun mereka terpancing buka-bukaan data, kubu Prabowo tak menemukan celah untuk menyerang balik. Jadi jebakan Prabowopun yang kedua inipun gagal.

Kini Prabowo hanya melongo dan menganga melihat kemajuan real count KPU dari detik ke detik. Untuk sementara tak ada gelagat bahwa dia menang 62 persen. Dari sini Prabowo akhirnya pelan-pelan sadar bahwa ia telah dibohongi oleh timnya sendiri. Form C1 yang dikirim ke tabulasi nasional BPN adalah hanya C1 Plano yang Prabowo menangi. Sementara yang kalah, dibuang jauh-jauh.

Lalu apa skenario Prabowo untuk menyingkapi kekalahannya? Jelas sampai kiamat Prabowo tidak akan menang Pilpres 2019. Termasuk hitungan real count KPU. Oleh karena itu hanya ada 4 skenario Prabowo yang bisa dilakukan.

Skenario pertama, dia akan ngotot melakukan people power bersama Amin Rais. Namun people Power ini akan menjadi aksi bunuh diri berbahaya bagi Prabowo-Amin Rais. TNI-Polri dengan mudah memadamkannya. Apalagi people power ini tidak didukung oleh SBY dan sejumlah kalangan internal Prabowo. Belum lagi tak ada mahasiswa yang bisa ditunggangi. Jika ngotot namun gagal, maka konsekuensinya sangat fatal.

Skenario kedua, karena sulit melakukan people power, maka skenario kedua adalah memperkarakan kecurangan paslon 01 di mahkamah konstitusi. Nantinya akan dibawa bukti-bukti kecurangan yang menguatkan tuduhan adanya manipulasi suara. Tetapi ini pun peluang menang tipis. Apalagi jika jumlah suara yang diduga curang itu tidak signifikan.

Skenario ketiga, Prabowo dan kubunya tidak mengakui kemenangan Jokowi tetapi juga tidak membawanya ke Mahkamah Konstitusi. Jadi digantung. Prabowo tetap menyatakan pemilu curang dan Jokowi tidak layak menjadi Presiden. Opini ini dipertahankan hingga bertahun-tahun dan mungkin sampai kiamat. Akan tetapi skenario ini jelas sangat berat untuk dijalankan.

Skenario keempat, setelah KPU mengumumkan pemenang Pemilu 22 Mei, Prabowo akan menerima kekalahan dengan sejumlah catatan. Jadi Prabowo tidak akan membawa kecurangan itu di MK. Prabowo pun dengan lantang mengucapkan selamat kepada Jokowi namun mungkin ada sedikit deal-deal kecil keduanya. Skenario keempat ini mungkin yang paling bisa dilakukan oleh Prabowo. Mengapa? Karena lebih banyak untungnya.

Jadi ketika Prabowo gagal jebak Jokowi, Prabowo masih punya 4 skenario akhir. Ia bisa menjalankan salah satu skenario di atas atau mencampur semuanya menjadi kopi susu skenario. Begitulah kura-kura.

Salam Seword,

Asaaro Lahagu

Prabowo-Sandi Tidak Otomatis Menang Pilpres Meski Kecurangan TSM
Tim kuasa hukum Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno bersama Hashim Djojohadikusumo mengajukan gugatan hasil Pilpres 2019 ke Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Jumat (24/5/2019). tirto.id/Andrey Gromico

Tim kuasa hukum Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno bersama Hashim Djojohadikusumo mengajukan gugatan hasil Pilpres 2019 ke Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Jumat (24/5/2019). tirto.id/Andrey Gromico

Oleh: Riyan Setiawan – 29 Mei 2019

tirto.id – Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dan tim hukumnya bersikeras kalau Pilpres 2019 penuh dengan kecurangan yang sifatnya terstruktur, sistematis, dan masif (populer disingkat TSM). Karenanya mereka menilai hasil pilpres, yang memenangkan Joko Widodo-Ma’ruf Amin, tidak sah.

Dalam dokumen permohonan sengketa hasil pemilu ke Mahkamah Konstitusi (MK) yang diperoleh Tirto, mereka menilai ada pelanggaran terstruktur karena yang melakukan kecurangan adalah aparat negara secara bersama-sama; sistematis karena menurut mereka pelanggaran direncanakan secara matang; dan masif karena dampak pelanggarannya sangat luas hingga memengaruhi seluruh hasil pemilu.

Pada bagian akhir dokumen permohonan, tim hukum lantas meminta beberapa hal ke MK, termasuk “menetapkan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih periode tahun 2019-2024.” (hlm. 36).

Bagi Direktur Pusat Studi Konstitusi (Pusako) Fakultas Hukum Universitas Andalas Feri Amsari, permintaan ini secara redaksional kurang tepat karena MK tidak bisa menetapkan Prabowo-Sandi sebagai Presiden dan Wakil Presiden 2019-2024. Yang lebih tepat adalah MK memerintahkan KPU mengubah keputusannya.

Ini sesuai dengan Pasal 475 ayat 4 UU No 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, yang menyatakan bahwa “KPU wajib menindaklanjuti putusan MK.”

“Paling MK nanti memutuskannya begini: ‘memerintahkan untuk memindahkan ketetapannya sesuai keputusan MK.’ MK yang memerintahkan KPU, yang menetapkan [Presiden-Wakil Presiden] itu KPU,” tambahnya.

Selain tidak tepat secara redaksional, yang biasa diputuskan MK jika dalam persidangan nanti terbukti ada pelanggaran yang sifatnya TSM adalah pemilihan suara ulang di daerah-daerah tertentu. Syaratnya, selisih suara yang disengketakan akan mengubah hasil akhir.

Masalahnya, Feri bilang tim hukum Prabowo pasti akan kesulitan membuktikan ini. Dalam konteks Pilpres 2019, tim Prabowo-Sandiaga harus membuktikan bahwa setengah plus satu dari 16,9 juta suara (selisih suara) mestinya jadi milik mereka, atau kira-kira 8,45 juta suara.

Sebagai gambaran, Daftar Pemilih Tetap di Banten hanya 8 juta, dan DKI Jakarta 7,7 juta. Tak ada DPT yang lebih dari 9 juta kecuali Jawa Barat (33 juta), Jawa Timur (30 juta), Jawa Tengah (27 juta), dan Sumatera Utara (9,7 juta).

Pada gugatan tahun 2014, tim Prabowo bilang mereka menemukan kecurangan di 52 ribu TPS. Namun saat sidang di MK, yang dibawa hanya beberapa boks saja (mereka pernah bilang akan membawa bukti sebanyak 10 truk kontainer, tapi belakangan direvisi dengan bilang “kotak kontainer, bukan truk kontainer”). Mereka akhirnya kalah karena tak bisa menunjukkan bukti baik secara kuantitatif atau kualitatif.

Feri bilang, tahun ini tim Prabowo wajib membawa alat bukti sekurang-kurangnya formulir C1 dari 100 ribu TPS, yang masing-masing membuktikan ada 100 kecurangan.

Tim hukum sebenarnya meminta MK untuk setidaknya memerintahkan KPU menyelenggarakan pemungutan suara ulang, jika memang tak bisa menetapkan Prabowo-Sandiaga sebagai presiden-wakil presiden. Ini termaktub dalam poin terakhir permohonan (hlm. 36).

Namun seperti yang dikatakan Feri, memenangkan pemilihan ulang adalah satu perkara, membuktikan bahwa memang ada pelanggaran yang TSM agar terjadi pemilu ulang adalah perkara lain yang tak kalah berat untuk dibuktikan.

Saat mengajukan permohonan sengketa ke MK pada 25 Mei lalu, tim hukum Prabowo mengajukan 51 berkas alat bukti—yang akan dilengkapi kemudian—untuk meyakinkan hakim bahwa memang ada kecurangan pemilu yang sifatnya TSM.

Di antara yang mereka lampirkan adalah tautan-tautan dari situs berita media daring. Feri bilang bukti-bukti itu tidak kuat sama sekali.

“Bagaimana bisa menang kalau alat buktinya tidak kuat. Lalu karena hakim memutus beda lalu mereka menuduh saja bahwa hakimnya bermasalah. Dari awal sudah dibangun skenario itu. Itu tidak dibenarkan,” tambah Feri.

Optimis

Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Andre Rosiade, mengatakan jika ada pemilu ulang, suara mereka akan lebih banyak 9 juta dari yang didapat sekarang (68.650.239 suara). Meski begitu Andre tak bisa menyebut spesifik di daerah mana saja dia bisa dapat suara sebanyak itu.

“Nanti lah kami akan buktikan pas persidangan di MK,” kata Andre kepada reporter Tirto, Selasa (28/5/2019).

“Kalau daftar ke MK, berarti optimis kami bisa menang. Selain itu kami menegaskan bahwa langkah kami konstitusional,” tambahnya.

Sumber: https://tirto.id/prabowo-sandi-tidak-otomatis-menang-pilpres-meski-kecurangan-tsm-d76x?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Popular.

Jokowi, Ahok Antara Ilmu Sun Tzu Dan Wajah Indonesia Yang Baru

Jokowi, Ahok Antara Ilmu Sun Tzu Dan Wajah Indonesia Yang Baru

Mari kita bahas sedikit tentang Jokowi sebelum masuk dalam pemerintahan Indonesia.

Jokowi itu siapa?
Tentara atau Pengusaha Mebel? Tentu kita tahu bahwa dia adalah seorang Pengusaha Mebel/Furniture yang sukses.
Sebagai pengusaha mebel, berarti Jokowi ketemu, bergaul, berinteraksi dan terinspirasi atau mungkin terimpartasi dr kalangan pengusaha juga yang kebanyakan berasal dr WNI Keturunan TiongHoa, atau bahkan WN China dan sebagian lain Eropa, Amerika Serikat.
Maka jangan heran kalau Jokowi ini selain karena gayanya yg SOLO MAN, ya dia sangat Paham aturan main dalam budaya China, Ilmu-Strategi Perang SunTzu, strategi perangnya baik untuk diterapkan dalam perang dagang atau perang strategy.

Lalu apa hubungan atau benang merah antara Judul di atas yang mengaitkan nama Jokowi-Ahok, Sun Tzu dan perkiraan wajah Indonesia Baru?

Kalau kita memandang dari sudut pandang Ilmu Sun Tzu maka yang seharusnya bisa “dianggap” sebagai Cucu-nya Sun Tzu adalah Ahok.

Nah, Ahok yg secara tidak langsung adalah “Cucu” dr Sun Tzu justru seharusnya lebih fasih mempraktekkan Ilmu China yang salah satunya adalah TaiChi, Strategy Perang Sun Tzu baik digunakan atau dipraktekkan untuk Perang yang sesungguhnya secara fisik, atau Perang dlm bentuk lain seperti Perang Dagang, Persaingan Bisnis, Pengelolaan Pemerintahan.
Sebagai contoh saja:
Apa yang terjadi di DKI ketika Jokowi-Ahok berpasangan,
This is the right combination bukan cuma for Jakarta tapi for Indonesia.
Apa yang terjadi di Jakarta pada masa kepemimpinan Jokowi-Ahok terbukti menginspirasi dan mengimpartasi banyak daerah lainnya di Indonesia.
Apa yang baik dari yang terjadi di DKI diambil untuk dipraktekkan di daerah lain.
Oke, mari kita bahas tentang nama-nama yang ada di dalam Judul,
Jokowi-Ahok terlebih dahulu.
Pada masa kepemimpinan Jokowi sebagai Gubernur Jakarta dan Ahok sebagai Wakil Gubernur, pembagian tugas – pekerjaan terasa sangat pas, ada pembagian tugas yang jelas, siapa di mana, mengerjakan apa ?
Jokowi seringkali berada di depan dan memang diPlot seperti itu sementara Ahok ada dan berperan lebih banyak di belakang meja Wakil Gubernur.
Jokowi yang mencari input dengan blusukannya.
Ahok yang memikirkan baik Solusi dan atau Program sebagai jawaban atas permasalahan masyarakat, dan kemudian rotasi kembali kepada Jokowi yang mengeksekusi solusi atau program tersebut sehingga pada akhirnya masyarakat Jakarta merasa sangat diperhatikan, merasa benar-benar memiliki Pemimpin sekaligus Pelayannya.
Dalam banyak hal terbukti Jokowi yang ngeLobby, lalu Ahok yang akan mengonsep.
Coba saja kita semua cari di Google apakah ada Cerita Ali-Baba atau justru cerita Baba Ali ?
Baba Ali maaf adanya di dekat rumah, jualan minyak dan barang kelontongan hehehehe….

Ketika kombinasi pasangan Gubernur dan wakil gubernur ini ada bersama memimpin dan melayani di Jakarta sepertinya terlihat sama saja, sepertinya tertutup oleh banyaknya leberhasilan dan prestasi mereka.
Tetapi Jokowi akhirnya terbukti lebih fasih, lebih luwes atau piawai memainkan ritme perpolitikan negeri ini, baik kepada kawan dan juga lawannya di dalam pemerintahan.

Lihat ketika Jokowi naik menjadi Presiden, meninggalkan Ahok di Jakarta, dan mengubah The Right Combination, apakah dia jatuh? ya di awal-awal mungkin Jokowi harus jatuh bangun, tetapi lagi-lagi dia konsisten mempraktekkan strategy perang SunTzu yang sudah diketahuinya sejak lama, sejak berkecimpung di dunia usaha permebelan atau furniture.
Walau Jokowi tidak menguasai Ilmu Perang Sun Tzu selama ribuan tahun, tetapi apa yang terlihat dikemudian hari membuktikan Jokowi fasih mempraktekkan Ilmu Perang Sun Tzu dalam berbagai hal.
Terbukti lambat laun sebagian besar yang ada di pemerintahan pusat berjalan sesuai ritme yang dia harapkan.

Lihat Ahok, ketika ditinggalkan Jokowi dan kemudian dia maju kedepan sebagai Gubernur DKI Jakarta, didukung Djarot di belakangnya sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta beserta PDIP dan kawan-kawan, sebagai Pendukung secara politiknya
Apa yang terjadi?
serangan dihadapi tetapi dengan kurang bijak,
Ahok benar dgn Prinsipnya, tidak ada yang salah dengan itu tetapi Kebijaksanaannya itu yg kurang. Dan kurang bijaksananya ini yang membuat musuhnya semakin banyak, semakin menguat, semakin berlipat semangat menjadikan Ahok sebagai Public Enemy.
Sehebat apapun Bruce Lee, Jet Lee dan pendekar lainnya pasti memiliki titik lemah, dan itulah yg diiincar oleh musuhnya, ditunggu lama dan ketika kesempatan itu tiba segera dipakai untuk menghabisi Ahok.
Karena mereka tahu hanya cara inilah yang bisa dipakai untuk menghabisi Ahok.
Kalau kesempatan ini lewat maka mereka yang akan habis.

Nah kalau disesuaikan dengan situasi dan kondisi perpolitikan Nasional saat ini.
Dimana hadir kembalinya seorang Ahok setelah masa pertapaannya di Markas Komando Brimob Kelapa Dua Depok – Jawa Barat,
Walau sempat “Jet Lag” di awal-awal dan sepertinya itu memang disiapkan untuknya memasuki kembali Arena Pertandingan, kini Ahok terlihat lebih bijaksana.
Ahok masih dengan stylenya yang seperti dulu, Masih dengan prinsipnya Bersih, Transparan, Profesional yg ditampilkan dengan Jelas Tegas, to the point, hanya kali ini Ahok lebih menahan diri, dia lebih matang sehingga tahu kapan harus keras kapan harus lembut, kapan dia marah, kapan dia harus berbicara santai.
Kali ini Ahok sangat terlihat lebih bijaksana dari sebelumnya.
Dia meledakkan kemarahannya pada saat yang tepat, dengan cara yang pas sesuai momentnya.
Setelah itu dia kembali diam sambil menanti kapan moment yang pas buatnya memasuki arena pertandingan yang sebenarnya.
Sebuah pemanasan yang sangat pas, untuk membiasakan dirinya lagi dengan segala ritme dan habbit seorang Fighter sekaligus HardWorker kalau tidak mau disebut Workaholic

Semoga ke depannya Ahok mau terus belajar dari Diam dan Tenangnya Sang Sahabat, Bagaimana kalemnya sang sahabat menerima lawannya untuk bertemu, bagaimana Sang Sahabat menekan amarah dan sakit hatinya ketika harus menjamu para lawan politiknya yang di belakang bagai singa lapar tetapi di depan meja jamuan makan siang tampak seperti kucing anggora atau kucing persia.
Berusaha bermanis-manis dan mengeong lembut agar dibelai-belai oleh Sang Sahabat.

Semua yang terjadi pasti ada hikmah, menjadi bijak atau tidak tentu kembali kepada pilihan Ahok sendiri bagaimana meresponinya.
Lima tahun ke depan, di periode kedua dari Sang Sahabat seharusnya dipakai Ahok untuk memantapkan hati dan mentalnya, untuk menjadi Pendekar KungFu dalam dunia perpolitikan Indonesia.
Jika Ahok memilih untuk menjadi bijak dan mau belajar dari Sang Sahabat maka ia punya kesempatan besar untuk memenangkan pertarungan yang sempat tertunda, meneruskan apa yang sudah diletakan dan dipersiapkan dengan sangat baik oleh Sang Sahabat, dan dia leluasa untuk kembali memunculkan lagi ide-ide kreatif tingkat tingginya, bukan khayalan tingkat dewa seperti yang dialami warga di tempat yang kini ditinggalkannya, DKI Jakarta.

Hari-hari ini sebuah Topic serius sedang diangkat ke tingkat Nasional, tentang rencana pemindahan Ibu Kota Indonesia, ke beberapa tempat baru yang masih menjadi opsi, Palangkaraya salah satunya.
Tetapi, terlepas dimanapun nantinya Ibu Kota baru dr Republik Indonesia ditetapkan,
Lima tahun ini haruslah menjadi masa Transisi yang tidak boleh tidak harus dimanfaatkan secara maksimal oleh seorang Ahok.
Dalam diamnya, dia bisa mempersiapkan segala sesuatunya, mempersiapkan bersama Tim-nya, tanpa ekspose media dan publikasi massa, menjadi kesempatan yang seharusnya dimaksimalkan Ahok.
Saya berandai-andai melihat keseriusan Jokowi tentang pemindahan Ibu Kota ini, yang kemudian setelah dirapatkan muncul ide agar Proses Pemindahan Ibu Kota ini dihandle oleh sebuah badan otoritas. Dan mengusus proses Pemindahan Ibu Kota sebuah Negara besar seperti Indonesia haruslah dipimpin oleh seseorang dengan Kapasitas dan Kualitas Extra Ordinary.
Seseorang yang bukan hanya Baik Pengetahuannya, Bagus Pengalaman dan Bersih Track Recordnya tetapi juga bisa dipercaya oleh Jokowi sendiri sebagai Presiden Indonesia.
Attitude sangat disorot dalam hal ini dan Ahok adalah salah satu dari sedikit orang yang attitudenya sebenarnya baik, hanya karena sikap tegas dan pemberani yang membuatnya frontal itulah yang membuat dirinya dinilai kontroversial, attitudenya jelek, padahal kalau mau bijak dan objektif ya tidak sepenuhnya benar pendapat seperti itu.
Saya pribadi dan saya yakin ada banyak pihak lainnya juga akan sepakat jika Jokowi mempercayakan segala sesuatu terkait Proses Pemindahan Ibu Kota kepada Badan Otoritas yang dipimpin Ahok, jaminan mutu dari Zero Corruption.
Ahok-lah nama yang dianggap sangat tepat untuk mengisi pos tersebut.
Sesuai dengan Track Record dan Prestasi yang telah diraihnya, Ahok bisa dipercaya untuk memastikan Proses Pemindahan Ibu Kota ini akan berjalan sesuai rencana.
Keteguhan Prinsipnya yang Bersih – Transparan – Profesional akan menjamin transparansi dari segala hal baik dari sisi finansial, penunjukkan Sumber daya manusia yang dibutuhkan, teknis pelaksanaan.
Kelebihan lain adalah pengaruh seorang Ahok yang bisa dimaksimalkan untuk menarik pulang SDM JUARA milik Indonesia yang saat ini berkarir di luar negeri karena satu dan lain hal. Lalu diajak membangun bangsanya, tanah airnya…. indonesia.
Pemilihan nama Ahok juga sepertinya bisa menjadi jaminan atau guarantee bagi para investor yang akan terlibat di dalam proses pemindahan Ibu Kota ini nantinya.
Bahwa Ahok bisa menjamin pengeluaran budget sekira 466 T, berjalan sesuai tujuannya, tanpa korupsi !!!
Karena dunia internasional pun mengakui kapasitas dan kualitas seorang Ahok.
Nah, jadi kita akhirnya bisa mengerti benang merah antara Jokowi, Ahok dan kaitanya dengan Wajah Indonesia Baru.

Sekali lagi jika memang Ahok yang dipilih untuk memimpin Badan otoritas yang mengatur Pemindahan Ibu Kota, maka layak rasanya para Nasionalis berharap Indonesia yang Lebih Baik, Indonesia yang menjadi Rumah Peristirahatan yang tenang bagi Para Veteran dan Pensiunan karena Pemerintah memberikan Pensiun yang layak untuk mereka,
menjadi Rumah Kehidupan yang nyaman bagi Warga Negara-nya, tempat berinteraksinya ratusan Suku & Etnis yang diikat kesatuan hati BHINEKA TINGGAL IKA TAN HANA DARMA MANGRWA sekaligus juga
Rumah Kreatifitas – KeWiraUsahaan bagi Anak Generasi, di mana berbagai Unicorn bahkan Decacorn akan lahir di Bumi Pertiwi, dimana Anak Generasi bukan hanya dibutuhkan untuk membangun negeri orang lain tetapi dihargai dan diberdayakan untuk membangun negeri yang dicintainya, tanah air kebanggaanya,
Indonesia yang Raya
Indonesia yang disegani dunia.

Salam Cerdas – Kritis – Bijak

Demi Anak Generasi….

Samuel Tanujaya
@s.tanujaya_

* Tulisan anak kemarin sore yang tidak mampu kuliah dan awam politik tetapi terus belajar karena kepengen pinter….

Sumber: https://www.indovoices.com/analisis/jokowi-ahok-antara-ilmu-sun-tzu-dan-wajah-indonesia-yang-baru/

5 Kali Pemilu Tak Terkalahkan, Ini 3 Filosofi Sakti Jokowi

5 Kali Pemilu Tak Terkalahkan, Ini 3 Filosofi Sakti Jokowi

Joko Widodo atau yang biasa kita kenal dengan panggilan Jokowi, bisa dikatakan sebagai “orang baru” dalam dunia politik Indonesia. Namanya mulai populer meng-Indonesia 15 tahun terakhir ini. Saya pribadi malah baru mengenal namanya sekitar 7-8 tahun yang lalu, saat dirinya maju dalam Pilkada DKI 2012 dengan menggandeng Basuki Tjahaya Purnama (Ahok).

Kiprah politiknya bermula dengan menjadi Wali Kota Surakarta pada tahun 2005. Namanya mulai dikenal setelah dianggap berhasil membenahi wajah Kota Surakarta menjadi kota pariwisata, kota budaya, dan kota batik.

Langkah yang dilakukannya termasuk progresif untuk ukuran kota-kota di Jawa. Relokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak, memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka (disiarkan oleh televisi lokal) dengan masyarakat. Taman Balekambang, yang telantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya, dikembalikan ke fungsinya semula. Jokowi juga tak segan menampik investor yang tidak setuju dengan prinsip kepemimpinannya.

Di tahun 2010 ia pun kembali mencalonkan diri sebagai Wali Kota Solo sebagai petahana berpasangan dengan F.X. Hadi Rudyatmo sebagai calon wakil walikota melawan Eddy Wirabhumi-Supradi Kertamenawi.

Hasilnya, Jokowi-Rudy meraih kemenangan telak dengan 248.243 suara atau 90,09%.

Pada tanggal 20 September 2012, Jokowi berhasil memenangi Pilkada Jakarta 2012. Kemenangan penggemar Metallica ini dianggap mewakili dukungan populer untuk seorang pemimpin yang “muda” dan “bersih”, meskipun umurnya ketika itu sudah lebih dari lima puluh tahun.

Nama Jokowi pun semakin melejit sejak menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta dan dikenal hampir seluruh Indonesia.

Belum genap dua tahun dirinya menjabat, Jokowi menyerahkan estafet kepemimpinan kepada wakilnya Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) untuk maju mengikuti kontestasi pilpres 2014.

Jokowi yang kemudian menggandeng Jusuf Kala (JK) maju dan mengalahkan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dengan perolehan 70.997.833 atau persentase 53.15%.

Dan kini di tahun 2019 Jokowi kembali maju sebagai petahana. Menggandeng KH Ma’ruf Amin, berdasarkan hasil penghitungan KPU Jokowi-Ma’ruf Amin menang atas 85.607.362 suara atau 55,50%.

Sedangkan paslon nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, meraih 68.650.239 suara atau 44,50 %. Selisih suara kedua pasangan mencapai 16.957.123 suara atau 11%.

Atas kemenangan 5 kali berturut-turut itu ternyata Jokowi memiliki rahasia yang dibagikannya dalam sebuah wawancara khusus Merajut Persatuan Bangsa yang diunggah ulang oleh Jokowi di akun instagramnya @Jokowi.

Pembawa acara bertanya kepada Jokowi apa rahasiannya bisa memenangkan Pemilu hingga 5 kali berturut-turut.

“Pak Jokowi telah 2 kali memenangkan pemilu di Solo, 1 kali di Pilkada DKI Jakarta, 2 kali di Pilpres kalau nanti ditetapkan. Apa resepnya pak?” tanya pembawa acara.

Jokowi pun menuturkan rahasia sederhana ia bisa menang berturut-turut di pemilu adalah berkat tiga filosofi Jawa yang ia pegang teguh hingga saat ini. Ketiga filosofi itu adalah:

Filosofi pertama, Lamun sira sekti, ojo mateni. Meskipun kamu sakti, jangan sekali-kali menjatuhkan.

Hal ini terlihat dari tindakan Jokowi terhadap orang-orang yang berseberangan secara politik dengan dirinya, di mana dirinya lebih memilih merangkul daripada harus merendahkan mereka. Bahkan terhadap lawan politik utamanya seperti Prabowo, Jokowi memilih berisiatif mengirim utusan ke Prabowo, alih-alih mempermalukan rivalnya itu. Sedangkan untuk oknum-oknum yang tersandung kasus hukum adalah buah dari hasil perbuatan mereka sendiri karena Jokowi sama sekali tidak pernah mengintervensi kasus hukum. Bahkan terhadap kasus hukum yang pernah menjerat sahabatnya sendiri, Ahok maupun terhadap sekutu partainya dari PPP, Romahurmuziy yang tertangkap KPK belum lama ini.

Filosofi kedua adalah Lamun siro banter, ojo ndhisiki yang berarti meskipun kamu cepat, jangan selalu mendahului.

Jokowi dikenal sebagai pemimpin yang ingin serba cepat dalam menyelesaikan sesuatu, terutama dalam pekerjaan. Berbagai urusan birokrasi yang bertele-tele berusaha dipangkas olehnya, proyek-proyek mangkrak diselesaikan dalam waktu singkat, menteri-menterinya dinilai berdasarkan kinerja.

Namun bukan berarti Jokowi memaksakan kehendaknya sendiri. Acapkali dalam berbagai kesempatan, Jokowi memilih “mengalah” bila keadaan belum memungkinkan. Sebagai contoh, saat lawan politiknya melakukan klaim kemenangan hingga sujud syukur berkali-kali (ada yang menyebutnya 3 kali ada juga yang bilang 5 kali), Jokowi lebih memilih menunggu keputusan KPU.

Jokowi dalam pernyataannya mengatakan ia meminta masyarakat dan pendukungnya bersabar menunggu penghitungan resmi KPU meski dari indikasi “exit pool” dan “quick count” menunjukkan kemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin ketika itu.

Filosofi ketiga adalah Lamun sira pinter ojo minteri. Meskipun kamu pintar, jangan sok pintar,” ungkap Jokowi.

Dalam implementasinya dapat kita lihat dari komentar wakilnya, Jusuf Kala beberapa waktu lalu yang menyampaikan kesannya terhadap Presiden Joko Widodo selama empat tahun lebih menjalankan pemerintahan. Dirinya menyebutkan bila Jokowi bukanlah sosok yang otoriter. Hal itu, kata Kalla, tercermin dari kebiasaan Jokowi menggelar rapat sebelum memutuskan sebuah kebijakan.

“Beliau tidak pernah ada pikiran otoriternya. Berpikiran pun endak. Yang capeknya kita. Apa saja dirapatkan. Mau sampah dirapatkan kabinet juga. Iya, ekonomi sampah, mau gimana listrik (dari) sampah, rapat 2-3 kali. Apa lagi yang lain,” kata Kalla saat membuka CNBC Indonesia Economic Outlook di The Westin, Kuningan, Jakarta, Kamis 28 Februari 2019.

Bahkan, lanjut Kalla, saking seringnya rapat, terkadang ia dan beberapa menteri lupa pembahasan rapat sebelumnya.

Dari sini kita bisa menilai bila Jokowi adalah sosok yang mau mendengar dan mempertimbangkan pendapat para menterinya. Alih-alih merasa pintar dan mengambil keputusan sendiri, dirinya lebih memilih masukan yang diberikan, bahkan termasuk untuk hal yang kesannya sepele sekalipun seperti yang disebutkan oleh Jusuf Kala.

Hal ini tentu saja membuat para menterinya merasa dihargai oleh orang nomor satu di Indonesia ini. Masing-masing menteri berlomba-lomba menunjukkan kemampuan dan prestasinya. Bahkan Menteri Kelautan dan Perikanan seperti Susi Pudjiastuti pun sampai pernah berujar “Selain Presiden Jokowi, Tidak Akan Saya Dengar”. Kata-kata yang mustahil terucap dari seorang bawahan bila pemimpinnya adalah type orang yang merasa paling pintar, paling hebat, lebih TNI dari TNI, lebih patriot dari patriot. Bukankah begitu kawan?

Sumber: https://www.indovoices.com/umum/5-kali-pemilu-tak-terkalahkan-ini-3-filosofi-sakti-jokowi/

Kesimpulan

Dalam setiap survei dari lembaga-lembaga survei terpercaya, Jokowi selalu menang jauh di atas Prabowo. Dalam setiap pemilu, Jokowi selalu memenangkan pemilu.

Artinya apa?

Rakyat mencintai Jokowi dan rakyat ingin Jokowi menjadi pemimpin mereka.

Terima kasih karena sudah mengunjungi, membaca artikel, atau menonton video di sangat aneh.

Jika anda menganggap blog ini bagus maka mohon bantuannya untuk menyebarkan informasi dan hiburan dari blog ini kepada keluarga dan teman-teman anda.

Kami juga mengharapkan ide, saran, dan kritik anda terhadap sangat aneh, jangan ragu-ragu untuk menuliskannya di kolom komentar. He…7x

Sekali lagi, terima kasih.

Admin sangat aneh.

Artikel penulis lainnya:

Hello World! Blog Sangat Aneh Sudah Beraksi

Aneh Tapi Nyata: Puluhan Kucing Lucu Ini Akan Membuat Anda Tersenyum, Tertawa, Atau Marah!!

Aneh Tapi Nyata: Puluhan Kucing Lucu Ini Akan Membuat Anda Tersenyum, Tertawa, Atau Marah!! Bagian kedua.

Aneh Tapi Nyata: Puluhan Kucing Lucu Ini Akan Membuat Anda Tersenyum, Tertawa, Atau Marah!! Bagian ketiga.

Sangat Aneh Tapi Nyata Dan Lucu: Isi Dari Artikel Ini Dijamin Bisa Bikin Kamu Ketawa Ngakak. Ha…7x

Sangat Aneh: Mengenal Indigo Child

Sangat Aneh Tapi Nyata: 37 Tanda Hari Kiamat Yang Harus Anda Tahu

Berita Aneh Hari Ini: Aneh Tapi Nyata Terdamparnya Ikan-Ikan Ini Sangat Aneh Dan Penuh Dengan Misteri

18 Kejadian Aneh Yang Ga Masuk Akal Karena Sangat Aneh Tapi Nyata

Berita Aneh Hari Ini: Puluhan Makanan Aneh Ini Bikin Nafsu Makan Lu Hilang

20 Alasan Orang Membuat Berita Hoax

Prabowo Kalah Benarkah Indonesia Akan Punah?

Panduan Lengkap Dari Kost Jakarta Buat Para Pencari Kost di Jakarta.

Sewa Rumah: Tip Dan Trik Terlengkap Dalam Mencari Kontrakan Rumah

Cara Daftar Member NASA

Penulis:

Richard Nata adalah seorang spesialis halaman pertama Google dan/atau Yahoo. Beberapa artikelnya juga menjadi nomor 1 di Google, Yahoo, dan Bing.

Hubungi Richard di Life on earth as in heaven.

Buku-buku dari Richard Nata yang terbit di Amazon:

1. Want More Traffic? 514 Tips to Skyrocket Your Website Traffic and Income Faster.
2. How to Create A Great Article for SEO in Three Hours.
3. The Best Way To Stop Watching Porn Today.
4. How to Skyrocket 7-8 Figure Income Annually from Blogging.
5. How to Start a Business With China.
6. Why Do Trump and Some Other US Presidents Endorse a New World Order?
7. Knowing Jesus Better – the Real Jesus According to Thousands of Verses and Who is Jesus to you?
8. How to Win a Soul to Jesus Christ.
9. Top Secret of Healthy Life Revealed.
10. Top Secret of Longevity Revealed.
11. Top Secret of Healthy Life and Longevity Revealed.
12. Make Your First $5,000 Faster: How to Find and Get Your Perfect Job.
13. How to Make Your First $5,000 Faster Even If English Is Your Second Language (ESL).
14.  From Love to Horror.
15. 50 Amazing Ways to Make Your First $5,000 Faster.
16. Power and Business Trillions of Dollars Make JFK Must Be Killed – 669 Data and Timeline Proving It.

 

2 thoughts on “Sangat Aneh: Pilpres 2014 Dan 2019 Serupa Tapi Tak Sama

  1. Hey there would you mind letting me know which web host you’re using? I’ve loaded your blog in 3 completely different browsers and I must say this blog loads a lot faster then most. Can you suggest a good web hosting provider at a honest price? Kudos, I appreciate it!

  2. Hey, I think your website might be having browser compatibility issues. When I look at your website in Safari, it looks fine but when opening in Internet Explorer, it has some overlapping. I just wanted to give you a quick heads up! Other then that, great blog!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *