Ditulis oleh Richard Nata

Sangat aneh adalah tempat anda mencari berita aneh, kejadian anehberita aneh hari ini, berita yang sangat aneh, aneh tapi nyataberita unik, berita keren, lifestyle unik, fakta aneh, dan lain sebagainya.

Sangat aneh juga merupakan tempat anda mencari berita aneh, berita unik dan aneh tapi nyata dari selebriti, film aneh, video aneh, musik aneh, iklan aneh, foto aneh, gambar aneh, meme aneh, penampakan aneh, hewan aneh, penyakit aneh, makanan aneh, dan lain sebagainya.

Sangat aneh anti dalam membuat dan menyebarkan berita hoax. Oleh karena itu sangat aneh akan melawan pembuat dan penyebar berita hoax. He…7x

Sangataneh.com terdiri atas aneh tapi nyataberita aneh hari iniberita hoaxberita kontroversiberita unikberita viralgame onlinekejadian anehlucumisterirahasia Tuhansangat anehsentuhan hatiseram, dan wow keren.

Sangataneh.com – Presiden Indonesia yang berkali-kali ingin dibunuh adalah Soekarno. Sedangkan Presiden Indonesia yang berkali-kali ingin dikudeta adalah Joko Widodo alias Jokowi.

Tahun 2012, Jokowi dan Ahok menjadi Gubernur dan wakil Gubernur Jakarta. Mereka berdua layak disebut dwi tunggal karena gebrakan, kinerja dan hasil kerja dari kedua manusia ini, menjadi perhatian rakyat Indonesia, bahkan mengejutkan dunia internasional. He…7x

Kenapa begitu? Karena mereka berdua anti korupsi, ga bisa diajak kongkalikong untuk KKN, apalagi membobol anggaran pembangunan daerah. Mereka juga berani melawan preman-preman berkedok ormas, bahkan preman berkedok agama. Semua bantuan pemda buat menjinakkan preman yang dilakukan oleh banyak Gubernur sebelumnya, distop oleh Jokowi-Ahok. Wow keren. Ha…7x

Tahun 2014, atas desakan rakyat Indonesia yang menginginkan adanya perubahan di Indonesia dan persetujuan dari Megawati, selaku ketua umum PDIP, Jokowi maju pilpres berpasangan dengan Jusuf Kalla melawan Prabowo-Hatta Rajasa.

Aneh tapi nyata, Prabowo-Hatta Rajasa yang didukung oleh 7 partai kalah melawan Jokowi-JK yang didukung oleh 5 partai. Hal ini tidak usah diherankan karena rakyat Indonesia ada di belakang Jokowi.

Partai pendukung Jokowi: PDIP, PKB, Nasdem, Hanura dan PKPI.

Partai pendukung Prabowo: Gerindra, Golkar, Demokrat, PPP, PAN, PKS, dan PBB.

Partai Demokrat bermain di dua kaki alias ga dukung Jokowi atau Prabowo alias netral berdasarkan rapat pimpinan nasional pada 18 Mei 2014, tapi para kadernya dibebaskan untuk memilih. Sayangnya hal ini tidak berlangsung lama karena pada 30 Juni 2014, Demokrat mendukung Prabowo.

Setelah Jokowi menang dan menjadi Presiden, maka mulailah muncul suara-suara sumbang yang meramalkan kalau pemerintahan Jokowi akan jatuh karena impeachment atau kudeta lewat jalur politik. Yang gilanya adalah suara sumbang tersebut tidak hanya berasal dari kubu oposisi melainkan juga dari pihak koalisi pendukung Jokowi, bahkan dari PDIP, partai di mana Jokowi menjadi kadernya.

Sangat aneh ga sih?

Aneh tapi nyata yah? Ha…7x

Jebakan-jebakan politik mulai dipasang untuk menjatuhkan Jokowi. Amien Rais, Brisik, Fahri Hamzah, Fadli Zon, Teuku Zulkarnain, Ratna Sarumpaet, Novel Bamukmin, Bachtiar Nasir, Alvian Tanjung, Rhoma Irama, dan Ahmad Dhani adalah nama-nama orang yang sangat membenci Jokowi-Ahok. Kebencian mereka terhadap Jokowi-Ahok sudah mendarah daging. Ibarat penyakit maka kebencian mereka sudah mencapai level stadium 4. Ha…7x

Sekelompok elit politik yang ideot, bahkan ingin menjatuhkan Jokowi lewat jalur inkonstitusional alias lewat kerusuhan. Korban nyawa pasti berjatuhan, ditambah kehancuran ekonomi akibat kerusuhan, bukankah ini merupakan suatu cara yang ideot?

Dalam artikel ini, penulis cuma membahas tentang percobaan kudeta terhadap Jokowi lewat kerusuhan 411 dan percobaan kudeta 212.

Artikel yang membahas tentang topik ini terdiri dari:

Sangat Aneh: Kenapa Jokowi Tidak Bisa Dikudeta?

Sangat Aneh: Kenapa Jokowi Tidak Bisa Dikudeta? Bagian 2.

Sangat Aneh: Kenapa Jokowi Tidak Bisa Dikudeta? Bagian 3.

Sangat Aneh: Kenapa Jokowi Tidak Bisa Dikudeta? Bagian 4.

Sangat Aneh: Kenapa Jokowi Tidak Bisa Dikudeta? Bagian 5.

Walaupun sudah dua kali rencana kerusuhan massa untuk mengkudeta Jokowi gagal, para bandar kudeta tidak putus asa. Kali ini mereka menyiapkan rencana kudeta secara matang.

Para bajingan, bangsat, pengkhianat bangsa, dan pemuja khilafah bersatu untuk mengalahkan Jokowi.

Kali ini rencana kudeta akan dieksekusi bersamaan dengan pilpres 2019. Karena saat itu suhu politik sangat panas.

Rencana dari sekelompok orang ideot tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Mengkampanyekan tagar #2019 ganti presiden.
  2. Menyebarkan hoax, fitnah dan menyebarkan kebencian kepada Jokowi dan pemerintah setiap hari.
  3. Menyebarkan hoax, fitnah dan menyebarkan politik SARA ke mesjid-mesjid. Cara ini berhasil dipakai untuk mengalahkan Ahok. Mereka lupa kalau Jokowi bukan Ahok karena Jokowi adalah muslim dan orang Jawa (Solo).
  4. Menyebarkan hoax, fitnah dan menyebarkan isu kalau TNI-Polri, ASN, KPU, Bawaslu tidak netral. Karena memihak kepada Jokowi.
  5. Mencoba mengadu domba antara TNI dan Polri.
  6. Menyebarkan hoax, fitnah dan menyebarkan isu kalau pemenang pilpres 2014 sebenarnya adalah Prabowo.
  7. Menyebarkan hoax, fitnah dan menyebarkan isu kalau pemenang pilpres 2019 nanti adalah Prabowo tetapi yang dilantik adalah Jokowi.
  8. Menyebarkan hoax, fitnah dan menyebarkan isu kalau Jokowi anti Islam. Bahkan suka menangkap ulama yang kritis. Padahal ulama-ulama yang ditangkap adalah ulama-ulama yang suka menyebarkan fitnah dan kebencian dan ulama pelaku kejahatan alias para kriminal. Ha…7x
  9. Menyebarkan hoax, fitnah dan menyebarkan isu kalau PKI sudah bangkit kembali, bahkan sudah masuk ke dalam istana.
  10. Menyebarkan hoax, fitnah dan menyebarkan isu kalau KPU curang, dan kecurangan dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan massif. Padahal pemilu belum dilangsungkan.
  11. Menyebarkan hoax, fitnah dan menyebarkan isu kalau Jokowi menang, maka azan akan dilarang. Selain itu, pernikahan sesama jenis akan dilegalkan.
  12. Dll.

Rencana pertama adalah hoax Ratna Sarumpaet digebukkin di Bandung sampai mukanya bonyok. Padahal Ratna hanya melakukan operasi plastik.

Kebencian menyebabkan orang menjadi ideot.

Ratna Sarumpaet adalah orang terkenal, banyak yang mengenalnya, sehingga mereka bersuara kalau Ratna tidak pernah digebukkin. Mukanya bonyok karena habis operasi plastik.

Kubu 02 sebenarnya sudah siap untuk berdemo berjilid-jilid dengan tujuan menyalahkan Jokowi dan pemerintaho orba.

Rencana ini gagal sebelum berkembang, karena polisi bergerak cepat membongkar hoax dari Ratna Sarumpaet dan BPN.

Rencana kedua adalah hoax kalau telah digrebek 7 kontainer surat suara telah dicoblos 01 (paslon Jokowi-Amin Ma’ruf) di Tanjung Priok.

Kebencian menyebabkan orang menjadi ideot.

Ideotnya Bagus Bawana, pembuat hoax adalah saat itu KPU belum mensahkan foto yang ditetapkan untuk paslon 01 dan 02 (Prabowo-Sandiaga Uno) dalam surat suara. Jadi bagaimana mungkin bisa ada surat suara yang sudah tercoblos 01. Ha…7x

Polisi cepat menangkap Bagus Bawana, sayangnya Andi Arief dan Tungku Zulkarnaen, yang ikut-ikutan menyebarkan hoax kasus ini tidak ditangkap karena mereka masih kebal hukum alias masih banyak orang-orang kuat yang melindungi mereka.

Rencana kedua gagal sebelum berkembang.

Rencana ketiga adalah kerusuhan saat KPU menetapkan pemenang pilpres adalah pasangan 01.

Kerusuhan yang dirancang bukanlah kerusuhan yang berskala kecil seperti kerusuhan 411 tahun 2016.

Kerusuhan akan dibuat seperti kerusuhan Mei 98, bahkan kalau bisa lebih besar dari pada itu.

Kenapa begitu? Karena korbannya jauh lebih banyak dari pada kerusuhan Mei 98.

Martir yang dipilih pun bukan sembarang martir, karena yang dibidik adalah para ABG, terutama para santri ABG. Tujuannya adalah untuk membuat umat Islam marah terhadap pemerintahan Jokowi dan membuat kerusuhan massa seperti kerusuhan Mei 98.

BEGINI ARAHAN MANTAN DANJEN KOPASSUS, MAYJEN(PUR) SOENARKO

Bapak ini Lagi Apa Yaa? Saat Permadi Rapat Ngebacot Revolusi

Dari kedua video di atas, yang beredar di media sosial ini, jelas terlihat kalau kubu 02 sudah merencanakan untuk melakukan revolusi kalau Prabowo kalah.

Jadi rencananya adalah sebagai berikut. Jika Prabowo kalah, maka mereka akan membuat kerusuhan dengan target 100-200 orang yang mati martir. Dengan korban sebesar itu maka akan terjadi kerusuhan yang lebih besar. Bahkan bisa terjadi perang saudara di Indonesia.

Prabowo jelas mengatakan kalau ia sampai kalah maka Indonesia akan punah.

Ternyata korban kerusuhan besar yang memakan banyak itu sudah direncanakan. Dan kerusuhan ini melibatkan mantan Danjen Kopassus Mayjen (purn) Soenarko. Kerusuhan 21-23 Mei 2019, juga melibatkan bekas anak buah Prabowo di Kopassus, yaitu Fauka Noor Farid. Ia adalah anggota Kopassus yang dipakai oleh Prabowo untuk menculik para aktivis pro demokrasi tahun 1997-1998.

Senjatapun disiapkan. Di atas kertas, maka kerusuhan besar yang akan menjatuhkan Jokowi ini pasti berhasil. Kenapa begitu? Karena mereka akan ditembak oleh senjata serbu. Penembaknya adalah kubu 02 sendiri. Tapi Jokowi dan TNI-Polri yang akan disalahkan oleh kubu 02.

Selain para pendemo atau pelaku kerusuhan yang mati ditembak di lokasi kejadian, ternyata mereka juga merencanakan untuk membunuh beberapa orang, kemudian mayatnya dibawa ke lokasi kerusuhan.

Lihatlah! Alangkah jahat dan biadabnya kubu 02.

Sayangnya, mantan Danjen Kopassus Mayjen (purn) Soenarko, ditangkap karena terlibat penyelundupan senjata dari Aceh.

Kemudian operator makar seperti Mayjen (purn) Kivlan Zein dan Eggi Sudjana ditangkap polisi.

Gus Dur pernah mengatakan kalau Kivlan Zein adalah operator kerusuhan di Ambon dan Poso. Saat itu kerusuhan di Ambon dan Poso ingin menciptakan perang agama antara Islam dengan Kristen.

Kapolri Tito Karnavian juga sudah mengumumkan kalau anggota Polri yang mengamankan demo di Bawaslu tidak dilengkapi dengan peluru tajam.

KPU juga memajukan pengumuman pemenang pilpres dari 22 Mei menjadi 21 Mei pagi, sehingga rencana yang disusun dengan matang dari kubu 02, gagal total. Ha…7x

Botol Plastik Melayang, Yel “Prabowo” & “Turun Jokowi” Makin Ramai
Bentrok antara massa aksi dan polisi kembali terjadi di depan Gedung Bawaslu, Jakarta, Rabu (222/5/2019). tirto.id/Andrey Gromico

tirto.id – Massa kembali melempar sampah dan botol plastik ke arah Gedung Bawaslu. Polisi kembali menyiagakan tameng di atas kepala mereka.

Wartawan di lokasi berhamburan mundur menjauhi massa.

Massa kemudian menerikkan nama Prabowo berulang kalil, setelah beberapa menit sebelumnya terdengar yel-yel “turun Jokowi”.

Di selasar atas Sarinah, mereka mengibarkan bendera Indonesia yang ukurannya besar

Situasi kaos pada Rabu dini hari (22/5/2019) sempat membuat massa mengeroyok satpam setempat. Sekitar pukul 02.41, sejumlah massa di Jalan Cideng Timur bergerak ke arah Jalan Fachrudin, Jakarta Pusat. Mereka berjalan mengarah ke Kebon Sirih. Mereka bergerak karena melihat rombongan enam pengendara motor yang menggunakan rompi berwarna hijau terang.

Massa mengira rombongan itu polisi, padahal yang mereka kejar adalah satpam. Beruntung, saat hendak dihampiri massa, rombongan satpam itu kabur terlebih dulu. Kumpulan massa di Jalan Fachrudin hanya berselang sekitar lima menit, lalu berangsur berkumpul kembali di jembatan penyeberangan underpass Tanah Abang. Baca juga artikel terkait AKSI 22 MEI atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan (tirto.id – Politik) Reporter: Haris Prabowo, Dieqy Hasbi Widhana, Arbi Sumandoyo & Andrian Pratama Taher Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan Editor: Gilang Ramadhan

Sumber: https://tirto.id/dWLJ

Alasan Perusuh 22 Mei Serang Asrama Brimob Petamburan

Massa Aksi dan Polisi Bentrok di Petamburan

Liputan6.com, Jakarta – Kerusuhan Jakarta yang terjadi pada 21 dan 22 Mei 2019 telah melukai 29 anggota kepolisian. Anggota yang terluka kebanyakan sedang berada di Asrama Brimob, Petamburan, Tanah Abang, Jakarta saat kerusuhan pecah.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengungkapkan alasan perusuh 22 Mei menyerang Asrama Brimob di Petamburan. Menurut dia, kerusuhan di kawasan Petamburan, Slipi, dan Tanah Abang itu telah direncanakan.

“Salah satu sasarannya adalah settingan menyerbu Asrama Mako Brimob. Kenapa? Untuk merebut senjata,” ujar Dedi usai menjenguk anggota yang terluka di RS Polri, Kramatjati, Jakarta Timur, Senin (27/5/2019).

Para perusuh, kata Dedi, ingin menguasai atau mengambil senjata dan amunisi milik aparat kepolisian. Namun, rencana tersebut tidak berhasil.

“Dari Slipi maupun Tanah Abang (perusuh) secara masif yang menggunakan batu, bom molotov. Tidak ada senjata yang lolos ke tangan perusuh,” ucapnya.

Lebih lanjut, mantan Wakapolda Kalimantan Tengah itu menegaskan, aparat kepolisian tidak menggunakan senjata api dan peluru tajam saat mengamankan aksi 21-22 Mei 2019.

“Sesuai yang sudah saya sampaikan berulang kali, seluruh anggota Polri dan TNI yang melaksanakan pengamanan langsung terhadap para pendemo tidak dilengkapi senjata api dan peluru tajam,” kata Dedi menegaskan.

Peluru di Mobil Dinas Brimob

Saat terjadi kerusuhan di kawasan Slipi, pada aksi 22 Mei 2019, ditemukan peluru diduga dari dalam mobil dinas Brimob.

Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo, mobil tersebut merupakan mobil Danki (komandan kompi) Brimob.

Berdasarkan SOP, Danki Brimob boleh membawa peluru tajam untuk kepentingan antianarki dan harus melalui kontrol ketat dari Danyon atau atasan. Selain itu, untuk penggunaannya harus langsung melaporkannya kepada Kapolda.

“Pleton antianarkis dikendalikan langsung oleh Kapolda Metro dalam rangka melakukan penegakan hukum secara tegas dan terukur kepada para perusuh yang nyata-nyata sudah melakukan aksi anarkis yang dapat membahayakan keselamatan masyarakat, aparat dan telah melakukan pengrusakan properti-properti masyarakat dan aparat,” jelasnya, Kamis (23/5/2019).

Dedi menerangkan, satuan antianarkis diperlukan untuk memitigasi kerusuhan massa sifatnya sangat masif.

“Pleton antianarkis itu dibutuhkan untuk memitigasi kerusuhan massa yang sangat masif. Kalau misalnya itu kondisi damai, enggak boleh dibagikan, tetap di bawah kendali dan pengamanan Polri,” jelasnya.

Kendati demikian, lanjut Dedi, Polri dan TNI tidak menggunakan senjata api dan peluru tajam dalam melakukan pengamanan aksi unjuk rasa.

Pengamanan hanya dibekali dengan tameng, gas air mata, dan water canon. Jika terjadi tembakan dari senjata api dan peluru tajam, Dedi memastikan, hal tersebut bukan dari TNI dan Polri.

Sumber: https://www.liputan6.com/news/read/3977341/alasan-perusuh-22-mei-serang-asrama-brimob-petamburan

Sosok Fauka Noor Farid, Eks Anggota Tim Mawar yang Ditengarai Berada di Belakang Aksi demonstrasi di Sekitar Bawaslu Pada 21-22 Mei yang Berujung Rusuh

Fauka Noor Farid ditengarai berada di belakang aksi demonstrasi di sekitar Bawaslu pada 21-22 Mei.

Wicaksono 🇮🇩 @ndorokakung

Bau Mawar di Thamrin? Kode apa ini?

Fajar Nugros @fajarnugros

Jika Tempo bisa menulis ini, berarti Pemerintah sudah tahu lebih banyak.. pic.twitter.com/G8uyX9f8KP
  Expand pic

Luthfie @luthfie2603

Transkrip percakapan Fauka – Dahlia : Bagus jika terjadi chaos, apalagi jika terjadi korban jiwa. majalah.tempo.co/read/157812/ba… pic.twitter.com/Swcjif6qZc
  Expand pic

Dieqy Hasbi Widhana @Dieqy_Lalijiwo

Saya sudah baca lima slide laporan utama Majalah Tempo edisi ini, via langganan online. Hanya laporan terkahir yang lumayan buruk. Sisanya sangat bagus semua. Ada ormas dan afiliasi antar terduga pelaku yang dibuat terang. Belum puas, besok saya beli versi cetaknya. Good Tempo. pic.twitter.com/jJbkGAh2x0
  Expand pic

Rivanlee @rivanlee

@Dieqy_Lalijiwo pas baca transkrip wawancara Tempo dgn Fauka, jawabannya nampak berapi2

Dieqy Hasbi Widhana @Dieqy_Lalijiwo

@rivanlee Kebutuhannya memang untuk membantah dengan berapi-api..hehe

fahri salam @fahrisalam

@Dieqy_Lalijiwo @rivanlee Buat apa bikin kerusuhan kalau tujuannya mendelegitimasi pemilu … buat menggalang opini publik? Dg rusuh, buyarlah tujuan itu…

fahri salam @fahrisalam

@Dieqy_Lalijiwo @rivanlee Kalau menciptakan martir, ya gagal. Yang menguat malah sentimen polri & TNI. Materi laporan sumbernya dr Densus, mungkin yg jadi problem: menguji fakta tsb. Fauka jadi terlihat konyol, apa coba motivasinya buat rusuh?

Dieqy Hasbi Widhana @Dieqy_Lalijiwo

@fahrisalam @rivanlee Iya juga. Relasi dan motif Kivlan ke HK lebih terang daripada Fauka..

andrianto @anto_tweet

@fajarnugros @JokoHQ Dan yang menyuruh Fauka Noor Farid adalah…..

Aries Setiabudi @ariessetiabudi

Maaf, apakah ini Pakar Intelijen Fauka Noor Farid yang dulu divonis Mahmil sebagai salah satu anggota Tim Mawar? Itu… tim yang diperintahkan Pak Prabowo buat jemput beberapa aktivis HAM dan demokrasi era 1998. twitter.com/ira_dyahloka/s…

Ira Dyahloka 🇮🇩@ira_dyahloka

Pakar Intelijen : Menyampaikan Aspirasi Bukan Makar, Tembak Di Tempat Itu Pelanggaran HAM Berat
http://medanheadlines.com/2019/05/20/pakar-intelijen-menyampaikan-aspirasi-bukan-makar-tembak-di-tempat-itu-pelanggaran-ham-berat/ 

Pakar Intelijen : Menyampaikan Aspirasi Bukan Makar, Tembak Di Tempat Itu Pelanggaran HAM Berat

Pakar Intelijen, Fauka Noor Farid. Saat berbincang dengan medanheadlines.com Fauka menyatakan, harusnya Kapolri melihat sejarah,

medanheadlines.com

1,794人がこの話題について話しています

Dante ludov ( SELINGKUHAN BOBBY THE CAT ) @DanteLudov

Fauka Noor Farid: Bekas Tim Mawar, Setia Bersama Prabowo tirto.id/dXW7?source=Tw… lewat @tirtoid Siapakah Fauka Noor Farid,.. ini lagi ramai dibicarakan … Konon beliau adalah anggota Tim Mawar yang ditengarai ada di balik kerusuhan 21 22 MEI

tirto.id – Kolonel Fauka Noor Farid sudah cabut dari jabatannya sebagai komandan kelompok khusus Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI. Statusnya kini purnawirawan, dengan reputasi pengamat dan praktisi intelijen. Tapi ia sudah terkenal sejak berpangkat Kapten. Namanya ikut menghiasi koran-koran nasional pasca-reformasi terkait penculikan aktivis 1998 yang dilakukan oleh Tim Mawar.

Waktu itu, ketika masih disidangkan Mahkamah Militer Tinggi (Mahmilti) II Jakarta 1999, Fauka baru hitungan tahun berdinas di Angkatan Darat, dalam Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Kapten (infanteri) Fauka Noor Farid, anggota Grup IV Kopassus, kala itu dikenai hukuman 16 bulan penjara tanpa pemecatan.

Lulus dari AKABRI pada 1992, Fauka lama ditempatkan di bagian intel tentara. Grup IV Kopassus (Sandi Yudha) yang berbasis di Cijantung ini sendiri adalah kesatuan yang dikenal dengan kemampuannya sebagai intel tempur. Beberapa tokoh yang pernah menjadi komandan di kesatuan ini adalah Sintong Panjaitan, Luhut Binsar Pandjaitan, Edy Sudrajat. Ketika Fauka Noor Farid masih terlibat kasus, komandannya adalah Kolonel Chairawan Kadarsyah Nusyirwan.

URL tirto.id 618Fauka Noor Farid: Bekas Tim Mawar, Setia Bersama Prabowo – Tirto.IDFauka Noor Farid mantan anak buah Prabowo di Kopassus. Kini ia orang penting Gerindra.

Wina Pamulang @PamulangWina

Fauka Noor Farid: Bekas Tim Mawar, Setia Bersama Prabowo Oleh: Petrik Matanasi tirto.id/fauka-noor-far… pic.twitter.com/daO8ntZBmw
  Expand pic

tirto.id @TirtoID

Beda nasib dengan rekan-rekannya yang dulu disidang dalam Mahmilti II 1999 terkait kasus penculikan, Fauka tak pernah jadi jenderal. Karier militernya mentok di pangkat kolonel dan kini ia jadi anggota Dewan Pembina Partai Gerinda. tirto.id/dXW7

Andreas Harsono @andreasharsono

Fauka Noor Farid ditengarai berada di belakang aksi demonstrasi di sekitar Bawaslu pada 21-22 Mei. Fauka anak buah @prabowo di Kopassus juga anggota Tim Mawar yang terlibat penculikan aktivis 1998 nasional.tempo.co/read/1213091/e…

#BEJOBTP G.O.T #JJ @ZoneWarp

@fajarnugros Berarti mantan anak buahnya ini dari dulu benar2 “dinafkahin” wowo yah …

Tidak banyak informasi yang bisa diketahui tentang Fauka Noor Farid, demikian menurut peneliti politik Made Supriatma dalam “Melacak Tim Mawar” yang terbit pada Mei 2014 di laman IndoProgress.

URL IndoPROGRESS 760Melacak Tim MawarKe manakah para perwira yang dulu terlibat dalam penculikan aktivis? Apakah mereka masih memiliki karier militer setelah menjadi terpidana? Apakah mereka masih terkait dengan gerakan politik mantan komandan mereka, Prabowo Subianto? KONTROVERSI tentang Ti

IndoPROGRESS @indoprogress

145.tdk diketahui ia ditugaskan di mana. Nama slanjutnya, Fauka Noor Farid. #TimMawar

IndoPROGRESS @indoprogress

146.Ia adalah perwira termuda dari semua perwira yang terlibat dalam kasus penculikanTdk bnyak data ttg dirinya muncul d permukaan #TImMawar

IndoPROGRESS @indoprogress

147.Namanya muncul di media pada tahun 2005 saat menjadi Komandan Detasemen Pemukul Satu Raider di Aceh.Ia berpangkat mayor. #TImMawar

IndoPROGRESS @indoprogress

148.Juga tidak diketahui apakah Fauka pernah menjadi perwira siswa di Seskoad.Namanya tidak ada dlm daftar lulusan alumni Seskoad. #TimMawar

IndoPROGRESS @indoprogress

149.Dia juga tidak terlihat pernah menjadi komandan di satuan2 teritorial TNI-AD. Namun,ia pernah muncul dlm satu putusan MA RI #TimMawar

IndoPROGRESS @indoprogress

150.Dlm kputusan atas prkara kpemilikan senjata api scara illegal dgn trtuduh Harmonis Siaga Putra, ia adalah saksi di pengadilan. #TimMawar

IndoPROGRESS @indoprogress

151.Terdakwa,seorang politisi lokal di Kotabumi,Lampung, memiliki senjata api,tanpa surat ijin yang sah dri kpolisian #TimMawar

IndoPROGRESS @indoprogress

152.Namun, ternyata terdakwa memiliki surat izin yang dikeluarkan oleh BAIS dan ditandatangani oleh Letkol. Inf. Fauka Noor Said. #TimMawar

IndoPROGRESS @indoprogress

153.Maka,Fauka pernah menjabat sebagai Dan Sus Pa Intel BAIS (2009 – Agustus 2011) dan sebagai Kopaksus BAIS (Agustus 2011 – ?). #TimMawar

IndoPROGRESS @indoprogress

154.Setelah itu, Fauka seolah lenyap ditelan bumi. Namun, diam2, dia muncul kembali sebagai orang sipil. #TimMawar

IndoPROGRESS @indoprogress

155.Namanya tertera sebagai Juru Kampanye Nasional Partai Gerindra tuk Pemilu 2014 dlm daftar juru kampanye yang disahkan oleh KPU #TImMawar

IndoPROGRESS @indoprogress

156.Ketua Bidang Komunikasi dan Informasi DPP Partai Gerindra, Ondy A. Saputra, membenarkan bahwa Fauka memang anggota Gerindra #TimMawar

SENATOR independent @mardi_senator

@andreasharsono @ade_r70 @prabowo 🌹 mawar lagi…… 🌹 mawar lagi………..

Sumber: https://chirpstory.com/li/432210

Kelompok Miskin Perkotaan di Kerusuhan 22 Mei

Ada banyak faktor yang memicu kerusuhan 22 mei di Jakarta lalu, banyak di antaranya terlewat dari pengamatan para analis. Bahkan tanpa dorongan dari elemen provokator elit, sudah nampak beberapa kondisi yang terindikasi kekerasan, dan beberapa faktor penting yang menciptakan kondisi ini tidak ada hubungannya dengan pemilihan umum maupun sentimen keagamaan. Kelompok miskin perkotaan yang merasa terpinggirkan dan budaya tawuran pemuda Jakarta adalah beberapa di antaranya.

Baca juga: Guru Mengaji Hasut Para Murid untuk Ikut Serta dalam Aksi 22 Mei

Oleh: Ahmad Syarif Syechbubakr (Indonesia at Melbourne)

Kerusuhan yang terjadi di Jakarta pada tanggal 21 sampai 23 Mei menyebabkan delapan orang meninggal, 700 orang terluka, kerugian ekonomi hingga miliaran rupiah, dan penangkapan terhadap setidaknya 441 orang.

Polisi telah memberikan keterangan bahwa mereka memiliki bukti atas dugaan dimana kerusuhan yang terjadi pada tanggal 22 Mei didalangi oleh beberapa kelompok tertentu, dan telah menemukan bukti berupa senjata dan batu yang disalurkan menggunakan kendaraan ambulan milik Partai Gerindra. Kepala kepolisian Tito Karnavian telah menyampaikan bahwa demonstran datang dari berbagai wilayah seperti Aceh, Tangerang, dan Jawa Barat untuk menggulingkan pemerintah Indonesia.

Polisi telah menegaskan bahwa kerusuhan tersebut didalangi oleh beberapa elit politik, dan para demonstran hanya bertindak sebagai bidak yang di manipulasi oleh para provokator. Meskipun masih sulit dipastikan sejauh mana kebenaran mengenai keterangan tersebut, narasi ini dapat dikatakan mengindahkan situasi sosial yang telah lama terjadi di lapangan, yang telah menyediakan ruang yang sangat baik untuk tumbuh dan menegangnya situasi kerusuhan.

Bahkan tanpa dorongan dari elemen provokator elit, sudah nampak beberapa kondisi yang terindikasi kekerasan, dan beberapa faktor penting yang menciptakan kondisi ini tidak ada hubungannya dengan pemilihan umum maupun sentimen keagamaan.

Penulis hadir dalam kerusuhan yang terjadi pada tangal 23 Mei, dan menyelenggarakan wawancara dengan para penduduk dan pedagang yang berasal dari Kemanggisan, Rawa Belong, dan Tanah Abang pada tanggal 27, 28, dan 29 Mei. Wawancara tersebut membantu memberikan gambaran yang lebih kompleks daripada narasi yang diberikan oleh anggota kepolisian.

Meskipun aksi protes yang damai memang benar tersulut karena hasil pengumuman pemilu, Penulis percaya bahwa kekerasan yang terjadi pada tanggal 22 Mei juga disulut oleh dua faktor lain yang belum banyak digarisbawahi oleh para analis.

Yang pertama adalah situasi yang berlangsung selama bulan ramadan. Yang kedua adalah faktor aktivitas ekonomi di Tanah Abang yang harus dihentikan selama setidaknya tiga hari, melumpuhkan penghasilan sehari-hari ratusan pekerja sektor dan para preman.

massa 22 mei

Pengunjuk rasa bentrok dengan polisi di Jakarta, Indonesia, pada 22 Mei 2019 dini hari, dalam foto yang diambil oleh Antara Foto. (Foto: Antara Foto/M Risyal Hidayat/ via Reuters)

RAMADAN DAN BUDAYA TAWURAN DI JAKARTA

Pada hari Sabtu 18 Mei, tiga hari sebelum protes berlangsung, Danu Tirta (16 tahun) meninggal di Semanggi. Seminggu sebelumnya, dua orang remaja lainnya juga telah meninggal. Ketiganya merupakan penduduk kelas menengah di perkampungan Jakarta, yang menjadi korban tawuran yang berlangsung selama aktivitas “Sahur on the Road” (SOTR).

Selama bulan ramadan di Jakarta, dan tentunya juga di berbagai kota lain di Indonesia, ada tradisi mengakar untuk membangunkan para penduduk di pagi hari untuk melaksanakan sahur sebelum menjalankan ibadah puasa. Para relawan tersebut, yang kebanyakan merupakan pemuda desa dari kalangan buruh, membunyikan drum dan terompet dari sekitar pukul 2 hingga 4 pagi.

SOTR dimulai sebagai sebuah aktivitas sukarela, yang menyertakan beragam kegiatan seperti memberi makan orang-orang miskin, dan kebanyakan keluarga mengizinkan anak-anak mereka untuk ikut serta dalam acara semacam ini karena dianggap sebagai aktivitas penting yang telah menjadi budaya selama ramadan. Namun begitu, tidak jelas muasalnya SOTR kemudian menjadi sumber terjadinya tindak kekerasan.

Saat ini, aksi tawuran yang terjadi selama sahur menjadi hal yang biasa, dan hampir semua Gubernur Jakarta telah mengingatkan warga mereka untuk tidak ikut serta dalam kegiatan SOTR karena adanya kemungkinan terjadi tindak kekerasan. Bahkan tanpa adanya acara SOTR, aksi tawuran masih saja sering terjadi di beberapa wilayah di Jakarta.

Selama ramadan, aktivitas yang biasa dilakukan oleh anak-anak muda adalah pergi ke masjid pada malam hari untuk melakukan shalat tarawih berjaamah yang berlangsung sekitar pukul 7 hingga 9 malam. Kebanyakan dari mereka kemudian memilih untuk begadang semalaman.

Terlepas dari himbauan pemerintah Jakarta bahwa aktivitas sekolah tetap harus dimulai pada pukul 6.30 pagi di bulan ramadan, kebanyakan sekolah masih tetap memberikan kesenggangan terhadap jam pelajaran mereka, dan tidak benar-benar mewajibkan muridnya untuk mengikuti pelajaran secara penuh.

Pada tanggal 22-23 Mei, setelah aksi protes pertama berlangsung, beberapa sekolah kemudian ditutup secara serentak. Faktor ini kemudian mempermudah anak-anak muda untuk ikut serta dalam aksi kerusuhan.

Tawuran remaja adalah permasalah yang sudah lama ada di Jakarta dan kegiatan ini tidak hanya berlangsung selama bulan ramadan. Namun bulan ramadan menciptakan kondisi yang lebih mudah bagi berlangsungnya aksi tawuran pada malam hari yang dapat berlangsung hingga subuh.

Seperti yang banyak dikabarkan oleh beberapa media, jumlah para pemuda yang ikut serta dalam aksi kerusuhan dapat dikatakan signifikan. Bagi anak-anak kelas menengah ke bawah di kampung-kampung di Jakarta, motivasi mereka untuk bergabung dalam aksi kerusuhan tersebut bisa jadi semudah untuk mencari kesenangan bersama kawan-kawan mereka.

Baca juga: Lempar Batu dan Militan Jalanan: Kerusuhan 22 Mei dan Dilema FPI

Banyak dari para remaja di Jakarta juga merupakan fans dari kelompok sepak bola Persija, yang juga memiliki sejarah kelam dalam aksi kekerasan. Oleh karenanya tidak mengherankan jika dalam aksi kekerasan 22 Mei banyak laporan dimana para demonstran menyanyikan yel-yel yang mengejek klub sepakbola Bhayangkara, yang diasosiasikan dengan klub sepakbola Polisi.

Tanah Abang menjadi lokasi yang umum terjadinya tawuran karena tempat tersebut menjadi titik berkumpul bagi orang-orang yang berasal dari Jakarta Pusat dan Jakarta Barat. Selama berlangsungnya sahur pada tanggal 19 Mei, ada tawuran besar yang berlangsung antara preman lokal dan sekumpulan pemuda menggunakan sepeda motor di sekitar jalan layang Jatibaru di Tanah Abang. Ini adalah lokasi yang sama tempat di mana anggota polisi menghadapi sekelompok besar demonstran pada 22 dan 23 Mei.

Setelah tawuran 19 Mei, para pemuda dari wilayah di sekitar area tersebut sudah mempersiapkan diri mereka untuk menghadapi potensi terjadi serangan balik dari kelompok geng motor. Namun alih-alih mempertahankan kampung mereka dari serengan geng motor atau serangan dari anak kampung lain, pemuda ini justru ikut serta dalam aksi kerusuhan yang berlansgung pada tanggal 22 Mei.

Aksi 22 Mei

Demonstran melakukan unjuk rasa di jalanan kawasan Tanah Abang di Jakarta tanggal 22 Mei 2019. (Foto: Reuters)

BURUH SWASTA DAN PREMAN DI TANAH ABANG

Tanah abang merupakan pusat pasar retail tekstil terbesar di Asia Tenggara. Pasar ini memperkerjakan ribuan buruh swasta untuk kebutuhan logistik, transport, penjualan, dan juga keamanan. Seperti yang sudah diketahui secara umum, preman Tanah Abang “dikontrol” oleh identitas bisnis lokal yang juga merupakan mantan anggota legislatif Jakarta Abraham Lunggana {Haji Lulung), yang baru-baru ini bergabung dengan Partai Amanat Nasional (PAN). Polisi telah mengkonfirmasi bahwa preman-preman tanah abang ikut serta dalam kerusuhan.

Ada banyak pedagang swasta di sekitaran Tanah Abang, dimana pedagang jalanan menjajakan makanan, pakaian, barang-barang bekas, dan barang palsu atau curian. Pedagang jalanan ini kembali mendapatkan akses untuk berjualan di trotoar dibahwa pemerintahan Gubernur Anies Baswedan, setelah sebelumnya direlokasikan oleh Gubernur sebelumnya Joko Widodo dan Basuki “Ahok” Tjahja Purnama (meskipun Anies sendiri telah mengupayakan relokasi pedagang jalanan tersebut akhir-akhir ini).

Jumlah pedagang jalanan meningkat dengan pesat selama ramadan. Mereka mulai menjual barang-barang yang berkaitan dengan ramadan seperti pakaian muslim, jajanan untuk berbuka, dan juga kembang api. Tanah Abang juga menjadi tempat favorit berkumpulnya para ojek dan taksi.

Pekerja swasta di Tanah Abang telah menghadapi situasi yang genting selama beberapa bulan terakhir. Setelah sebelumnya Anies menunjukkan dukungannya untuk pembukaan kembali akses bagi pedagang jalanan, tak lama kemudian ia menunjukkan upayanya untuk kembali merelokasi para pedagang tersebut pada bulan Januari, yang berujung pada tawuran kecil.

Para pedagang jalanan juga merasa ditinggalkan oleh organisasi pendukung mereka, seperti Forum Betawi Rempug (FBR), Pemuda Pancasila, dan Haji Lulung, yang nampaknya tidak lagi terlihat mau memperjuangkan nasib mereka. Bahkan Front Pembela Islam (FPI) nampaknya tidak mampu mengerahkan masa untuk menolong mereka, karena seperti yang telah dijelaskan oleh pengamat Ian Wilson, FPI mulai berpindah fokus mengurusi politik tingkat tinggi.

Ketika pemerintah memutuskan untuk menutup Tanah Abang pada tanggal 22 Mei, ratusan pekerja tidak resmi ini mulai kehilangan sumber penghasilan mereka. Kebanyakan pekerja tidak resmi ini merupakan orang-orang yang sebelumnya telah memiliki permasalahan dengan Jokowi karena kegagalannya merelokasikan mereka ke Blok G. Bagi kebanyakan preman dan pekerja swasta, menentang pemerintahan Jokowi juga memiliki alasan yang berkaitan dengan kelangsungan ekonomi mereka di samping permasalahan idelogi dan agama.

Dari pengamatan penulis pada pagi hari pukul 23 Mei, para pedagang ikut bergabung dengan preman-preman, pemuda, dan pengemudi ojek sekaligus taksi, beserta warga sekitar untuk melemparkan batu dan kembang api kepada anggota kepolisian di wilayah Jalan Layang Slipi.

Seminggu setelah kerusuhan, penulis mewawancari seorang pemilik toko yang ikut serta dalam aksi protes namun tidak ikut serta dalam aksi kerusuhan. Dia mengatakan bahwa pegawainya dan beberapa orang dari Tanah Abang ikut berpartisipasi dalam kerusuhan tersebut. Ini kemudian dapat membantu menjelaskan alasan mengapa, meskipun kerusuhan tersebut terjadi disekitar pusat perbelanjaan, bank, dan pom bensin, tidak banyak aksi penjarahan yang terjadi. Hanya dua toko pinggir jalan yang dilaporkan dijarah. Ini menjadi suatu perbandingan yang sangat kontras dibanding dengan kerusuhan terakhir yang terjadi di Jakarta.

Penulis menduga bahwa para pekerja tidak resmi enggan menjarah bangunan pertokoan di Tanah Aban karena mereka mendapatkan keuntungan dari hadirnya toko-toko tersebut. Sebagai contoh, para pegawai kantoran merupakan konsumen bagi produk mereka dan menggunakan pengemudi taxi sekaligus ojek daring dari wilayah tersebut.

Sementara itu, para preman mendapatkan keuntungan dari kegiatan mereka sebagai penjaga keamanan di banyak toko-toko tersebut. Ini menunjukkan bahwa para preman dan pegawai kantoran dari Tanah Abang yang ikut serta dalam kerusuhan masih memiliki kepentingan untuk melindungi sumber pendapatan ekonomi mereka.

Kerusuhan 22 Mei

Seorang pekerja membersihkan pintu Pasar Tanah Abang yang ditutup pasca kerusuhan. (Foto: AFP)

DILUAR NARASI ELIT

Sebagai kesimpulannya, beberapa faktor sosiologi memiliki peran dalam tingkat keparahan kerusuhan yang terjadi pada bulan Mei. Bagi para pemuda yang terlibat, berpartisipasi dalam kerusuhan tersebut lebih kepada urusan kesempatan yang ada selama bulan ramadan ketimbang urusan mempertahankan ideologi. Mereka menggunakan kerusuhan tersebut untuk menaikkan status sosial mereka di antara kelompok pergaulan.

Baca juga: Jurnalis Asing Laporkan Alami Intimidasi pada Aksi 22 Mei

Sementara itu, bagi pekerja tidak resmi dan preman Tanah Abang, kekhawatiran mengenai kelangsungan ekonomi mereka dan kegagalan relokasi ke wilayah Blok G merupakan motivasi yang mendorong mereka untuk ikut serta dalam kerusuhan.

Terlepas dari upaya elit politik dan beragam organisasi seperti FPI untuk menenangkan kerusuhan, usaha mereka tidak membuahkan hasil. Ini dikarenakan faktor lain juga ikut serta menjadi motivasi kerusuhan. Ada banyak prekondisi yang menjadi faktor signifikan dalam terjadinya kekerasan, prekondisi tersebut tidak selalu harus beriringan dengan kepentingan para elit politik.

Ahmad Syarif adalah seorang analis di Bowergroup Asia. Ia memiliki gelar master dari University of Birmingham, tempatnya menulis thesis tentang kebangkitan otoritas keagamaan hadrami di Palembang, Sumatera Selatan.

Keterangan foto utama: Polisi menahan pengunjuk rasa setelah bentrokan di Jakarta, Indonesia, pada 22 Mei 2019 dini hari, dalam foto yang diambil oleh Antara Foto. (Foto: Antara Foto/Sigid Kurniawan/via Reuters

indonesiaatmelbourne.unimelb.edu.au

https://www.matamatapolitik.com/analisis-orang-miskin-kota-di-kerusuhan-22-mei/

Temuan Polri: 8 Kelompok Perancang dan 4 Lapis Pelaku Kerusuhan 22 Mei

ARDITO RAMADHAN Kompas.com – 06/07/2019, 17:24 WIB

Bentrok antara polisi dan massa aksi di Jalan KS Tubun, Jakarta, Rabu (22/5/2019). Bentok terjadi setelah massa dipukul mundur dari kericuhan di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (21/5/2019) malam.

Bentrok antara polisi dan massa aksi di Jalan KS Tubun, Jakarta, Rabu (22/5/2019). Bentok terjadi setelah massa dipukul mundur dari kericuhan di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (21/5/2019) malam.(ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)

JAKARTA, KOMPAS.com – Polri kembali merilis hasil investigasi mereka terkait peristiwa kerusuhan 21-22 Mei 2019 lalu yang pecah menyusul pengumuman hasil Pemilu 2019 oleh KPU.

Dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jumat (5/7/2019) kemarin, Karo Penmas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengungkapkan bahwa polisi sudah mendeteksi delapan kelompok yang berperan merancang pecahnya kerusuhan.

“Ada beberapa kelompok-kelompok tertentu yang mendesain kerusuhan di tanggal 21 dan tanggal 22. Ini kelompok-kelompok tertentu ini ada delapan kelompok yang bermain di tanggal 21 dan 22,” kata Dedi.

Baca juga: Misteri Tewasnya Harun Al Rasyid di Kerusuhan 22 Mei Mulai Terkuak…

Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Suyudi Ario Seto mengatakan, polisi juga telah memetakan sejumlah kelompok yang terlibat dalam kerusuhan.

Suyudi menyebut, salah satu kelompok itu ialah oknum mengatasnamakan kelompok agama yang datang dari sejumlah daerah.

“Beberapa kelompok yang sampai dengan hari ini kita ungkap, yang pertama adalah oknum, oknum saya katakan, dari kelompok Islam yang berasal dari beberapa daerah,” kata Suyudi.

Baca juga: Dari Empat Lapis Perusuh 21-22 Mei, Polisi Baru Tangkap Setengahnya

Suyudi menuturkan, kelompok itu berasal dari sejumlah daerah yakni Serang, Tangerang, Cianjur, Banten, Jakarta, Banyumas, Majalengka, Tasikmalaya, Lampung, dan Aceh.

Suyudi melanjutkan, ada juga kelompok oknum mengatasnamakan organisasi masyarakat dan relawan politik yang juga terlibat dalam kerusuhan tersebut. “Ada juga oknum organisasi kemasyarakatan ini (inisialnya) GRS, FK, dan GR. Kemudian ada juga oknum relawan,” ujar Suyudi.

Baru Dua Lapis

Dedi mengatakan, polisi telah mengidentifikasi pelaku kerusuhan ke empat lapisan. Menurut Dedi, pelaku-pelaku yang sudah ditangkap polisi baru berasal dari dua lapisan terbawah yakni lapisan tiga dan empat.

Baca juga: Ini Identitas Korban Tewas Kerusuhan 21-22 Mei Beserta TKP-nya

Karo Penmas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo (tengah) berbicara dalam konferensi pers kasus kerusuhan 21-22 Mei di Mabes Polri, Jumat (5/7/2019).

Lapisan keempat merupakan orang-orang yang melakukan kekerasan dan kerusakan. Mereka ditangkap di sejumlah titik, antara lain Petamburan, Gambir dan bilangan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Sementara, lapisan ketiga merupakan orang-orang yang mengarahkan pelaku untuk melakukan tindakan kekerasan dan kerusakan.

“Layer ketiga adalah yang menyuruh, yang menggerakkan dan membagikan sejumlah uang (kepada pelaku lapis keempat),” ujar Dedi.

Baca juga: Ini Identitas Korban Tewas Kerusuhan 21-22 Mei Beserta TKP-nya

Adapun pelaku yang dikategorikan masuk pada lapisan kedua dan ketiga, Dedi belum dapat mengungkapkan peran mereka secara rinci untuk saat ini. Ia hanya bisa memastikan, polisi terus berupaya mengungkap tindakan mereka.

Ia sekaligus mengingatkan, pengungkapan para pelaku tersebut tidak bisa dilakukan terburu-buru karena harus dibuktikan secara ilmiah.

“Kita masih mendalami. Saat ini baru layer ketiga dan keempat. Nanti apabila proses penyidikan ini sudah selesai dan sudah menemukan dengan fakta hukum yang sangat kuat, baru nanti kita akan sampaikan,” kata Dedi.

Buru Komandan Perusuh

Sementara itu, Dedi menyebut polisi tengah memburu seorang perusuh yang diduga menjadi komandan dalam penyerangan asrama Brimob di kawasan Petamburan.

“Ada satu juga yang masih dalam pengejaran atau diterbitkan surat DPO, patut diduga dia yang mengkomando para perusuh itu di lapangan,” kata Dedi.

Baca juga: Polri: 2 Korban Kerusuhan 21-22 Mei Tewas karena Senjata Non-organik

Berdasarkan keterangan para saksi, kata Dedi, sosok itu memprovokasi perusuh dengan cara mengajak massa menyerang Asrama Brimob sambil meneriakkan kata-kata provokatif.

“Narasi-narasi yang diucapkan antara lain dari saksi-saksi yang menyebutkan, ‘bakar’, ‘lempar’, ‘serang’, itu narasi-narasi yang disebutkan,” ujar Dedi.

Menurut Dedi, penangkapan terhadap provokator itu diperkirakan dapat mengungkap aktor-aktor di lapisan lebih dalam yang terlibat kerusuhan 21-22 Mei 2019.

Sumber: https://nasional.kompas.com/read/2019/07/06/17243621/temuan-polri-8-kelompok-perancang-dan-4-lapis-pelaku-kerusuhan-22-mei?page=all.
Penulis : Ardito Ramadhan
Editor : Diamanty Meiliana

Korban tewas kerusuhan 22 Mei diduga dieksekusi di tempat lain

Sejumlah mobil terbakar akibat demo rusuh di Komplek Asrama Brimob, Petamburan, Jakarta, Rabu (22/5/2019).

Sejumlah mobil terbakar akibat demo rusuh di Komplek Asrama Brimob, Petamburan, Jakarta, Rabu (22/5/2019). Sigid Kurniawan /Antara Foto

Terungkap dugaan fakta baru terkait korban tewas kerusuhan 21-22 Mei 2019 silam, para korban diduga dieksekusi di tempat lain lalu “didrop” di lokasi kerusuhan.

Hal itu diungkap Aiman Witjaksono dalam sebuah reportase yang mencermati temuan baru kasus misteri kematian 9 orang saat kerusuhan di sekitar Tanah Abang, Jakarta Pusat, 21-22 Mei lalu.

Dalam investigasinya, ia mencermati tiga hal. Pertama, lokasi kerusuhan; kedua, korban tewas yang masih remaja; ketiga, operasi dan provokasi di “medan kerusuhan”.

“Ada dugaan, korban tewas dieksekusi di tempat lain lalu ‘didrop’ di tempat kerusuhan,” ujar Aiman dalam program reportase yang ditayangkan KompasTV, Senin (24/6/2019).

Hasil temuan terakhir polisi yang diungkapkan pekan lalu menyebutkan, korban tewas saat kerusuhan 21-22 Mei di sekitar gedung Bawaslu hingga kawasan Petamburan, Jakarta Pusat, adalah 9 orang.

Dari jumlah itu, 8 orang di antaranya tewas akibat peluru tajam, sementara 1 orang akibat benda tumpul. Empat dari 8 orang yang tewas akibat peluru tajam telah diotopsi.

Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Kepolisian Republik Indonesia (Polri) Komisaris Besar Polisi Asep Adi Saputra di Markas Besar Polri, Jakarta, Senin (17/6), mengungkapkan, polisi sudah berhasil mengidentifikasi 5 lokasi penemuan korban.

“Secara keseluruhan penemuan berada di Petamburan. Yang empat (korban lain) masih kami dalami di mana TKP-nya,” ungkap Asep.

Dari temuan tersebut, ada dua hal yang dicermati. Pertama, mayoritas korban tewas akibat peluru tajam. Kedua, lokasi mereka tewas berada di kawasan Petamburan. Artinya, Petamburan merupakan “medan kerusuhan utama”.

Aiman dengan para awak Program AIMAN kembali mendatangi lokasi kerusuhan di kawasan Petamburan, sekitar 3 kilometer dari Tanah Abang. Di sana Aiman melihat sejumlah mobil yang terbakar di sekitar asrama Brimob Polri.

Masih ada 5 bangkai mobil yang dijaga garis polisi lantaran masih digunakan sebagai bahan penyelidikan. Kawasan tersebut memang strategis. Kompleks Brimob berseberangan dengan markas Front Pembela Islam (FPI).

Selama ini tak pernah terjadi konflik di antara keduanya meski Polri dan ormas FPI kerap bersitegang. Media sosial pun kerap gaduh, terutama terkait masalah Imam Besar FPI Rizieq Shihab yang sempat tersandung masalah hukum.

Kerusuhan di kawasan itu pada 21-22 Mei seolah hendak membenturkan Brimob dengan FPI. Sepertinya, aksi bakar di depan Markas Brimob bertujuan memicu kemarahan aparat.

Sementara, massa diperkirakan bakal buyar menuju perkampungan di sekitar wilayah markas FPI jika dihalau polisi. Ada kecurigaan, kerusuhan sengaja diciptakan di wilayah itu sebagai provokasi.

Ungkap temuan baru

Aiman mencari fakta-fakta baru di lapangan untuk menguatkan kecurigaan tersebut. Ia mencari saksi mata yang bisa bercerita tentang malam penuh ketegangan saat itu.

Hingga akhirnya ia bertemu dengan dua saksi mata dari kedua belah pihak, warga di sekitar Asrama Brimob dan warga di sekitar Petamburan. Keduanya menolak untuk diwawancara menggunakan kamera.

Dari hasil perbincangan dengan mereka, Aiman mendapat fakta bahwa pada malam itu hampir semua pintu rumah warga digedor oleh orang-orang tak dikenal. Sambil menggedor pintu, orang-orang itu berteriak, “Ayo keluar, kita diserang, … perang… perang…!”

Sementara dari pihak warga di kompleks Brimob Polri, yang juga menolak untuk diwawancara menggunakan kamera, menyatakan, “Kami menggunakan peluru hampa dan karet. Tidak ada peluru tajam yang kami gunakan untuk menghalau massa agar jangan brutal membakar dan melempari mobil!”

Namun, malam itu korban tewas berjatuhan. Aiman mendapat informasi dari sebuah sumber, ada dugaan korban dieksekusi di sebuah tempat, lalu jasadnya didrop di titik kerusuhan sekitar Petamburan-Slipi, Jakarta.

Tiga korban masih berstatus anak. Yang paling muda berusia 15 dan 16 tahun, masing-masing bernama Harun Rasyid dan Reyhan Fajari.

Sulit untuk menafikan kerusuhan di sekitar wilayah Petamburan memang sengaja diciptakan untuk memprovokasi terjadinya benturan antara penghuni asrama Brimob plus aparat dan warga yang tinggal di sekitar markas FPI. Ada aksi bakar mobil; ada korban tewas; ada seruan serang dan perang!

Aiman mengonfirmasi temuannya kepada polisi. Kepala Divisi Humas Polri Irjen Muhammad Iqbal menolak memberikan keterangan lebih lanjut terkait perkembangan kerusuhan 21-22 Mei.

“Perkembangan penyelidikan terakhir sudah disampaikan melalui konferensi pers,” ujar Iqbal kepada tim AIMAN yang menghubunginya seraya berjanji akan memberi keterangan lanjutan terbaru dalam beberapa hari ke depan.

Aiman dan timnya pun bergegas mendatangi seorang tokoh. Ia adalah mantan Ketua Tim Investigasi Kerusuhan 98 Hermawan Sulistyo yang akrab dipanggil Kiki.

Kiki mengatakan, dugaan bahwa korban dieksekusi di sebuah tempat lalu didrop di lokasi kerusuhan adalah sangat mungkin. Sebab, menurut dia, dari hasil otopsi didapat, mayoritas korban tewas ditembak dari posisi tiarap (dan dari arah samping).

“Lha… bagaimana mungkin kalau tiarap ada di lokasi kerusuhan. Posisi nembak tiarap kan perlu space kosong. Kalau di lokasi kerusuhan ada ribuan orang, bisa keinjak-injak,” ujar Kiki.

Kerusuhan itu dikondisikan untuk menciptakan kerusuhan yang lebih besar dan ada tujuan akhirnya, kata Kiki.

“Apa pun hasil penyelidikan nanti, harus diungkap lengkap oleh polisi. Tak kalah penting adalah penuntasan. Tak mungkin kerusuhan ini ada tanpa dalang! Penuntasan penting agar peristiwa serupa tak lagi terulang,” ujar Aiman.

Sementara itu, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menelusuri sejumlah akun media sosial yang diduga ikut memobilisasi massa demonstrasi dalam kasus kerusuhan 22 Mei.

Penelusuran dilakukan karena berdasarkan pemantauan dugaan pelanggaran HAM saat kerusuhan 22 Mei ditemukan fakta adanya pengkondisian untuk terjadinya peristiwa itu beberapa bulan sebelumnya.

“Kami masih menelusuri trafik arus mobilisasi massa demo melalui media sosial. Ini kami lakukan bersama-sama dengan tim Cyber Crime Mabes Polri,” ungkap Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik, Minggu (23/6).

Fakta tersebut diketahui oleh tim pemantau Komnas HAM dari pernyataan massa yang menjadi korban kekerasan, mereka mengaku ikut berdemo karena adanya ajakan untuk berjuang yang disebarkan melalui media sosial.

Sumber: https://beritagar.id/artikel/berita/korban-tewas-kerusuhan-22-mei-diduga-dieksekusi-di-tempat-lain

 

Dugaan Terlibat dalam Rusuh 21-22 Mei, Inilah Rekam Jejak Tim Mawar di Aksi 1998

VIDEO Ambulans Bagi-bagi Uang Saat Rusuh 22 Mei

Ambulans Berlogo Partai Gerindra Membawa Batu dan Sejumlah Uang

Detik-Detik Massa Terduga Perusuh Di Aksi 22 Mei Turun dari Ambulans Terekam CCTV

Prabowo, Amien Rais, Fadli Zon dan gerombolan si berat lainnya mencoba memprovokasi dengan mengatakan kalau polisi menembaki umat Islam di Mesjid. Rakyat tentu saja tahu kalau mereka cuma menyebarkan hoax. Ha…7x

Amien Rais Provokasi Warga: Polisi Seperti PKI T3mb4k1 Umat Islam Ugal-ugalan

Tentu saja rakyat tidak bisa diprovokasi karena rakyat tahu kalau mereka semua adalah tukang hoax dan penyebar fitnah. Ha…7x

Kemarahan rakyat sudah memuncak. Oleh karena itu mereka dilaporkan ke polisi.

Diduga Jadi Dalang Kerusuhan 21 & 22 Mei, Prabowo dan 8 Tokoh Lainnya Dipolisikan NET24

Ngabalin Minta Polisi Segera Tangkap Fadli Zon dan Amien Rais

Rakyat marah.

Tagar #tangkap Prabowo, #tangkap Amien Rais, #Fadli Zon bergema di Twitter.

Tagar #tangkap Prabowo, menjadi trending topik di Indonesia, bahkan di dunia.

Ketakutan, Amien Rais minta maaf soal pernyataannya polisi seperti PKI, tembak umat Islam ugal-ugalan.

Ketakutan, Prabowo akhirnya menempuh jalur hukum dengan membawa kasus pilpres ke MK.

PERINGATAN KERAS JK KPD PRABOWO SAAT TERJADI KERUSUHAN

Meredanya Prabowo Subianto melakukan gerakan turun ke jalan adalah hasil dari pertemuannya Yusuf Kalla.

Dalam pertemuan itu JK menyampaikan 3 ultimatum ;

1. Jika kerusuhan tetap berlangsung maka pemerintah melalui TNI/Polri akan menindak Tegas dan menangkap kepada Prabowo Subianto dan Tommy Suharto juga akan mengejar Riza Khalid di Dubai.

2. Prabowo di minta untuk mencegah kelompok2 yg melakukan aksi,harus di hadapan JK sebagai bukti bahwa Prabowo menerima usulan JK, jika hal itu tidak dilakukan maka akan segera terbit Surat Cekal untuk PS dan HMP dengan tuduhan Makar dan dalang aksi pembunuhan ke 4 tokoh nasional.
Dan menjadikan RK kedalam.DPO

3. Selama sidang MK jika terulang seperti kejadian 22 mei maka untuk mengurangi korban pada masyarakat maka PS dan HMP yang akan langsung di tangkap sebagai pelaku utama.

Jawaban PS tidak bisa di tunda beberapa hari atau beberapa jam harus saat dalam pertemuan itu.jika tak ada jawaban dari PS maka sdh disiapkan surat penangkapan untuk PS.

Setelah terdiam beberapa menit PS menelpon ke beberapa orang2 nya untuk tidak melakukan aksi turun kejalan dan menyatakan sepakat dengan di usulkan JK untuk menempuh jalur konstitusi tanpa menggerakkan masa yg menciptakan kerusuhan.
Dan adanya jaminan hukum untuk dia dan keluarga Cendana…

Hal ini adalah inisiatif JK menempuh dialog dalam meredakan konflik untuk menghubungi PS. dan usaha ini membuahkan hasil dengan tidak timbulnya gesekan yg ada di masyarakat.

Sumber: https://www.facebook.com/pageKataKita/posts/2444109065680464?comment_id=2444219472336090&comment_tracking=%7B%22tn%22%3A%22R%22%7D

Jurus Jitu Jokowi Gagalkan Taktik Prabowo 22 Mei

 Asaaro Lahagu . a month ago . 6 min read .  14.3k

Jurus Jitu Jokowi Gagalkan Taktik Prabowo 22 Mei

Apa jurus Jokowi dalam menghadapi Prabowo? Jurus Kalajengking. Jokowi lebih banyak diam. Dia menunggu. Dalam posisi diam dan menunggu, Jokowi punya posisi menguntungkan. Ia bisa memperhatikan gerak-gerik Prabowo yang ribut, grasa-grusu dan mudah dibaca.

Dalam keributannya Prabowo tak bisa membagi energinya untuk waspada, hati-hati atau mawas diri. Ia terus berisik. Dan saat Prabowo berisik itu, Jokowi bisa melangkah merayap. Dengan senyap Jokowi menjepit. Sengatan ekor kalajengking pun siap menancap.

Bagaimana jurus Jokowi ini berjalan? Saya mulai jam 5 sore 17 April 2019. Dua jam setelah batas KPU membolehkan lembaga survei merilis hasil quick countnya, pertempuran dimulai. Jokowi dengan santai, bersuara rendah, merespon hasil quick count.

Ia mengatakan bahwa dari semua lembaga yang merilis hasil quick countnya, Jokowi-Ma’aruf menang. Namun demikian, masih harus menunggu real count KPU. Pernyataan ini pas, tepat, tak berlebihan namun sangat berisi. Apa respon Prabowo? Langsung berisik.

Sekitar jam 5 sore 17 April, Prabowo langsung menyatakan bahwa ia telah memenangi pemilu dengan presentase 54 persen lewat polling internal. Rupanya ia termakan isu, bahwa Jokowi telah mengumumkan kemenangannya.

Lewat para pembisik di sekitarnya, Prabowo dengan gagah perkasa kembali melakukan konferensi pers dan mengklaim kemenangan 62 persen. Kali ini sujud syukur. Tak puas, esoknya Prabowo kembali mengklaim kemenangan 62 persen dan dibarengi sujud syukur. Ribut berbohong.

Mulailah kubu Prabowo berisik, grasa-grusu dan menghabiskan energi meyakini publik bahwa Prabowo telah menang dan kini telah menjadi Presiden. Saking ngebetnya Prabowo ingin menjadi Presiden, ia mengundang para purnawirawan TNI dan bangga dihormati dengan kalimat: “siap Presiden”.

Jurus kalajengking pun dikeluarkan. Jokowi mengumumkan dan mengijinkan para pendukungnya merayakan kemenangan Pilpres berdasarkan quick count. Prabowo kemudian dijepit dengan aksi penerimaan para elit TKN dengan hormat: “Siap Presiden”. Aksi presiden-presidenan merebak di seluruh negeri dan menjadi bahan olok-olokan masyarakat.

Prabowo terus berisik. Narasi yang dibangun menjadi Presiden diganti dengan narasi kecurangan. Jokowi diam dan memperhatikan narasi kecurangan itu. Jurus kalajengking kembali dikeluarkan. Jokowi bukannya menelepon langsung Prabowo dan meminta bertemu, Jokowi malah mengutus Luhut B. Panjaitan bertemu dengan Prabowo.

Mengapa Jokowi tidak menelepon langsung Prabowo? Jokowi paham dalam situasi berisik, Prabowo bisa dengan pongah menolak telepon Jokowi sekaligus menolak bertemu. Ini bisa membuat Jokowi malu. Itulah sebabnya Jokowi mengutus Luhut B. Panjaitan untuk menjajaki pertemuan dengan Prabowo.

Sebelum pertemuan itu, Jokowi dengan cerdik mengumumkannya kepada publik bahwa dia telah mengutus seorang utusan untuk bertemu dengan Prabowo. Jokowi mengirim buah simalakama kepada Prabowo. Diterima, sakit, ditolak juga sakit. Diterima, bisa berarti mengakui kekalahan. Ditolak berarti tidak menerima kekalahan.

Jika Prabowo menerima Luhut, maka mudahlah Jokowi menjajaki pertemuan dengan Prabowo. Jika Prabowo menolak, maka Jokowi tidak kehilangan muka. Toh, yang ditolak adalah utusan. Publik paham bahwa ada itikad baik dari Jokowi telah ada untuk bertemu dengan Prabowo. Ini kredit point kepada Jokowi. Dan seperti yang diketahui publik, utusan Jokowi itu ditolak mentah-mentah oleh Prabowo. Prabowo kena dan meneruskan aksi berisiknya.

Jurus kalajengking kembali diperlihatkan oleh Jokowi untuk menjepit Probowo yang terus berisik. Agus Harimurti Yudhoyono dan Zulkifi Hasan diundang ke istana. Hasilnya, Prabowo menggelepar dan membatalkan rencananya menjenguk iseri SBY di Singapura. Dukungan Demokrat hilang, PAN menyingkir, PKS loyo. Ferdinand Hutahean dan Andi Arif dengan cekatan menusuk Prabowo dari samping.

Prabowo pantang mundur dan terus berisik. Tema kecurangan dan people power digaungkan. Orang-orang di sekitar Prabowo terus memanaskan situasi. Amin Rais, Eggi Sudjana, Kivlan, Lius Sungkharisma dan permadi adalah orang-orang yang menggaungkan tema people power.

Kembali jurus kalejengking dimainkan. Wiranto membentuk tim ahli hukum untuk menilai ucapan-ucapan para tokoh apakah terkait dengan pelanggaran hukum atau tidak. Elit-elit di sekitar Prabowo pun dijepit dengan undang-undang makar.

Egi Sudjana tersangka makar dan ditahan. Lius Sungkharisma juga ditahan. Permadi, Kivlan dan Amin Rais diperiksa. Sebelum diperiksa para tokoh ini berteriak lancang. Namun setelah diperiksa, mereka menjadi linglung dan segera bertobat. Mereka kena jepitan kalajengking.

Prabowo tidak menyerah. Dengan didukung oleh elit partai Gerindra, kelompok ormas garis keras di sekitarnya dan sekelompok para mantan jenderal, mereka meracik skenario kerusuhan. Prinsipnya jelas. Gagalkan Jokowi dilantik bulan Oktober 2019. Caranya hanya satu: Buat Indonesia bubar oleh kerusuhan.

Rapat final skenario kerusuhan dibuat di atas pesawat dalam perjalanan pergi pulang ke Brunei 16 Mei 2019 untuk menghindari penyadapan aparat. Lewat pintu Brunei dana biaya kerusuhan diserah-terimakan dari penyandang dana. Taktik kerusuhan sudah dibuat dengan sangat matang, rapi dan tak mudah dibaca, termasuk membakar kantor kedutaan. Skenario memancing kerusuhan dan demo besar. Penciptaan martir pun masuk dalam rencana.

Jokowi yang diam namun dengan mata tajam memperhatikan gerak-gerik Prabowo. Lewat analisis para jenderal di belakangnya, Jokowi dengan cepat menemukan kontra-skenario. Kapolri Tito memerintahkan aparat kepolisian dan TNI yang menjaga demo untuk tidak membawa senjata berikut peluru tajamnya. Dengan demikian jika ada korban penembakan, maka itu jelas bukan dari aparat. Sementara itu, untuk menekan hoax, facebook, whatsapp dan instagram dibatasi oleh Kemeninfo.

Lalu bagaimana jalannya demo dan kerusuhan pada tanggal 21-22 Mei 2019? Awalnya aparat sedikit terkecoh. Sesuai dengan skenario, para pendemo seolah-olah menuruti himbauan aparat untuk membubarkan diri pada malam 21 Mei. Namun tanpa disangka-sangka, pada dini hari hari 22 Mei, ratusan perusuh yang telah dibayar bereaksi dengan cepat. Mereka mengacak-acak dan membakar lingkungan di sekitar asrama Brimob.

Awalnya aparat sempat kewalahan. Namun dengan cepat aparat mengkonsolidasi kekuatan dan berbalik mendesak mundur para perusuh. Skenario rusuh berjalan sebagian. Para dalang kerusuhan berhasil menciptakan martir. Ada 8 orang yang tewas dan ratusan luka-luka termasuk dari aparat. Namun dengan hebat, aparat mampu bertahan dari gempuran serangan batu, bom molotof, dan provokasi para pendemo dan perusuh.

Skenario rusuh tidak berjalan dengan hasil yang gilang-gemilang. Jakarta tidak terpancing api membara. Seluruh negeri mengecam aksi para perusuh. Sepuluh ribu TNI yang sudah disiagakan jika terjadi anarkis, cukup memukul psikologis para dalang untuk meneruskan aksinya. Pembatasan sosial media, cukup mengunci sebaran hoax. Lalu keberhasilan aparat menangkap 300 ratusan para perusuh dan dijadikan tersangka, membuat skenario kerusuhan lebih masif gagal total. Prabowo kemudian terjepit.

Dalam situasi terjepit, sore tanggal 22 Mei 2019, Prabowo pun mendatangi para pendukungnya. Ia menghimbau untuk mundur. Taktiknya amburadul. Ia kalah strategi. Dan seperti biasanya, orang yang kalah strategi, Prabowo kemudian digiring menaati aturan yang berlaku. Ia harus menggugat kekalahannya di Mahkamah Konstitusi. Dan di sini, tuduhan fitnah kecurangan yang dibangunnya dikuliti, dicincang dan dikuak ke permukaan.

Jelas posisi Prabowo saat ini sedang dalam jepitan kalangjengking. Lehernya sedang dijepit. Ia telah gagal berdemo dan kini dipaksa ke MK. Sengatan ekor kalajengking pun sedang berancang-ancang menyuntikan bisa yang bisa membuatnya terkapar. Ini bisa dilihat dari surat penyidikan dari polisi kepada Prabowo sebagai terduga makar. Suratnya ini sempat beredar namun kemudian ditarik kembali oleh pihak kepolisian.

Kini Prabowo sangat berpotensi menjadi tersangka makar. Jika kemudian ia benar-benar menjadi tersangka makar, maka itu berarti ekor kalajengking telah benar-benar menancap. Dan itulah adalah jurus kalejngking. Begitulah kura-kura.

Salam Seword,

Asaaro Lahagu

Sumber: https://seword.com/politik/jurus-jitu-jokowi-gagalkan-taktik-prabowo-22-mei-IeZ99WU7br

INFOGRAFIS: Hasil Investigasi Kerusuhan 21-22 Mei Versi Polri

CNN Indonesia | Sabtu, 06/07/2019 21:37 WIB
INFOGRAFIS: Hasil Investigasi Kerusuhan 21-22 Mei Versi Polri

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190706212611-15-409747/infografis-hasil-investigasi-kerusuhan-21-22-mei-versi-polri

Neta Sebut TS Cendana Dalang Kerusuhan 21-22 Mei 2019

Reporter: Morteza Syariati Albanna  Editor: Hermawan

https://www.tagar.id/Asset/uploads/138279-kerusuhan-22-mei-2019.jpeg

Massa melakukan penyerangan terhadap polisi saat terjadi kerusuhan di Jalan Brigjen Katamso, Slipi, Jakarta, Rabu (22/5/2019). (Foto: Antara/M Risyal Hidayat)
Fokus Berita: Kerusuhan 22 Mei

Jakarta – Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane mengatakan pihak kepolisian sejauh ini belum sepenuhnya mengungkap dalang di balik demonstrasi 21-22 Mei 2019 di Jakarta yang berakhir rusuh. Dalang utama kerusuhan itu, dia tengarai turut melibatkan keluarga Cendana.

Keluarga Cendana lah ya. Big dalang,” ucap Neta ketika menjadi narasumber di program Prime Talk Metro TV, Rabu 12 Juni 2019.

Menurut Neta, terdapat seorang pengusaha sekaligus politikus berinisial TS, yang mendatangkan massa preman-preman dari Surabaya. Puluhan massa preman ini, lanjutnya, dibawa dengan pesawat, kemudian diinapkan di hotel Jalan Wahid Hasyim, dekat Gedung Bawaslu RI, Jakarta Pusat.

“Merekalah yang diduga berperan penting dalam menciptakan kerusuhan tanggal 21 Mei 2019 malam. Beberapa di antaranya sekarang sudah ditangkap dan ditahan di Polda Metro Jaya,” ungkap dia.

Dia mengatakan sejauh ini polisi baru mengungkap orang-orang lapangan saja, tetapi dalang kerusuhan sesungguhnya belum. Dalang tersebut, lanjut Neta, yang baru diungkap polisi adalah dalang yang membiayai. “Itu pun baru satu orang,” tuturnya.

Ini ada ‘big dalang’ yang membawa, mengkoordinir, atau menciptakan kerusuhan, rencana pembunuhan seperti itu.

“Sementara satu lagi yang membiayai inisialnya TS itu belum disentuh oleh Polisi. Nah itu yang kita sesalkan, kenapa kok polisi sangat lamban untuk mengungkap dalang kerusuhan,” kata Neta.

Maka dari itu, dia mendorong pihak kepolisian untuk menyeriusi, menginterogasi, dan mengejar dalang di balik aksi rusuh 21-22 Mei lalu.

“Supaya TS ini bisa dipegang. Karena TS terjun langsung ke massa-massa ini seperti HM (Habil Marati) itu, baru didapat kesaksiannya dari pelaku rencana pembunuhan itu,” tandasnya.

Kalau polisi bekerja cepat mengungkap dalang kerusuhan, mengungkap para donatur yang membiayai aksi, maka hal tersebut akan mengerucut ke satu nama, yang disebut Neta sebagai ‘big dalang’.

Menurut dia, pengerahan massa preman dari luar Jakarta sudah biasa terjadi dan menjadi hal lumrah di era kepemimpinan Presiden Soeharto.

“Ini ada ‘big dalang’ yang membawa, mengkoordinir, atau menciptakan kerusuhan, rencana pembunuhan seperti itu. Dan, sebenarnya yang seperti ini biasa (terjadi) ketika peristiwa Malari. Kemudian peristiwa Lapangan Banteng. Itu preman-preman Semarang dilibatkan. Mereka yang menciptakan kerusuhan-kerusuhan di rezim orde baru, itu hal yang biasa,” kata dia.

Neta menilai liputan investegasi Majalah Tempo pada 10 Juni 2019 ada benarnya, yang mengungkap adanya indikasi keterlibatan eks anggota Tim Mawar saat kerusuhan di depan kantor Bawaslu 22 Mei.

“Sebenarnya mereka untuk bargaining aja, untuk membuat chaos. Jadi mereka tidak akan membuat chaos dan tidak mampu, karena mereka hanya menggunakan preman,” bebernya.

Jadi, kata dia, yang bisa membuat chaos itu sejatinya hanyalah mahasiswa. “Kalau mahasiswa tidak ada tolok ukur ekonomi. Kalau preman begitu dananya kurang, mereka enggak mau aksi. Kalau mahasiswa, mereka militan, makin di-push polisi, mereka makin eksis,” kata Neta.

Kerusuhan 21-22 Mei yang diduga turut melibatkan keluarga Cendana, menurut Neta, menjadi suatu fenomena politik yang luar biasa di Indonesia. Dia menengarai, selain Sofyan Jacob, masih ada tujuh jenderal yang terlibat dalam kasus ini.

“Di mana Polri mengungkap jenderal bintang tiga purnawirawan menjadi terlibat makar dan ditetapkan tersangka. Ini sesuatu yang luar biasa. Mereka ini harus diperiksa. Jenderal di kepolisian purnawirawan dan mereka harus segera diperiksa, kemudian jika terbukti segera ditahan. Jangan dibiarkan, karena mereka ini masih punya akses ke institusi. Mereka akan merecoki hasil pemeriksaan nantinya,” jelasnya.

“Saya kira Sofyan Jacob ini juga segera ditahan supaya lebih mudah bagi polisi untuk membongkar semua dalang itu. Sepertinya polisi terlalu banyak pertimbangan. Saya pikir polisi harus bekerja cepat, sapu bersih semua,” ujar Neta.

Sumber: https://www.tagar.id/neta-sebut-ts-cendana-dalang-kerusuhan-2122-mei-2019

Dalang Kerusuhan Demo 21-22 Mei Tak Bisa Diproses?

Reporter: Eno Dimedjo  Editor: R Antares P

https://www.tagar.id/Asset/uploads/683326-demo-bawaslu.jpeg

Sejumlah massa aksi terlibat kericuhan di depan gedung Bawaslu, Jakarta, Rabu (22/5/209). Aksi unjuk rasa itu dilakukan menyikapi putusan hasil rekapitulasi nasional Pemilu serentak 2019. (Foto: Antara/Nova Wahyudi)
Fokus Berita: Kerusuhan 22 Mei

Jakarta – Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW) Neta S Pane menyebut, proses hukum dalang kerusuhan demo 21-22 Mei bisa dikesampingkan demi rekonsiliasi politik nasional setelah Pilpres 2019.

Mengomentari hal itu, Peneliti Bidang Perkembangan Politik Nasional Aisah Putri Budiarti mengatakan, persoalan hukum tetap harus dijalankan, kendati proses rekonsiliasi demi tujuan kepentingan bangsa yang lebih besar. Sebab, konstitusi negara mengharuskan untuk itu.

“Tentunya untuk kepentingan bangsa dan demokrasi ke depan, maka masalah hukum tidak bisa diselesaikan dengan hanya rekonsiliasi politik,” kata Aisah saat dihubungi Tagar, Senin siang 17 Juni 2019.

Indonesia kan negara berbasis hukum, artinya segala hal yang diduga bermasalah secara hukum atau melanggar Undang-Undang dan konstitusi harus diselesaikan secara hukum, bukan oleh lobi-lobi politik.

Dalam wawancara eksklusif dengan Tagar, Neta S Pane menyebut ada sejumlah elit politik menahan pihak kepolisian untuk tidak melanjutkan penyelidikan terhadap Titiek Soeharto, yang dituding Pane sebagai dalang besar dari kerusuhan di depan gedung Bawaslu beberapa waktu lalu.

Pane menyebut, kepolisian sudah akan memanggil Titiek untuk dilakukan pemeriksaan, namun ada upaya dari elit politik yang meminta polisi agar tidak bertindak, lantaran tengah berlangsung proses rekonsiliasi antara dua kubu capres-cawapres yang berlaga di Pilpres 2019 lalu.

Menanggapi hal tersebut, Aisah meminta kepada elit terkait untuk memisahkan persoalan hukum dengan kegiatan politik. Kepolisian juga diminta agar tetap melanjutkan pengusutan kasus kerusuhan meski melibatkan tokoh besar politik nasional.

“Sebagai negara konstitusional dan sekaligus negara demokrasi, ruang politik dan ruang hukum dijalankan secara terpisah. Dalam konteks kasus tersebut, seharusnya siapapun yg berada dibalik kerusuhan 21-22 Mei harus diusut secara tuntas, tidak hanya aktor di lapangan tetapi hingga siapa dalang utamanya. Masyarakat pun menunggu hasil ini,” kata Aisah.

“Hal ini jangan kemudian dijadikan sebagai daya tawar oleh satu kubu politik ke kubu politik lainnya,” ujar Aisah menegaskan.

Aisah Putri BudiartiPeneliti LIPI Aisah Putri Budiarti, usai diskusi ‘No People No Power’, di D’Hotel, Guntur, Jakarta Selatan, Senin 29 April 2019. (Foto: Tagar/Eno Suratno Wongsodimedjo)

Aisah tidak sepakat dengan pernyataan Neta S Pane yang mengatakan bahwa Indonesia perlu meniru proses rekonsiliasi politik antara Nelson Mandela dan Rezim Apartheid, yang pernah terjadi di Afrika Selatan. Apalagi Neta menganggap rekonsiliasi tersebut sebagai contoh baik yang patut ditiru dalam hal berdemokrasi dan bernegara.

“Saya rasa (rekonsiliasi Afrika Selatan) tidak tepat disamakan dengan Indonesia dalam konteks Pemilu 2019 ini. Apa yang terjadi di Afrika Selatan merupakan konflik berdarah jangka panjang yang tersegregasi secara mendalam berbasis ras, sementara Indonesia jauh dari konteks konflik yang demikian. Jadi, enggak bisa kita samakan,” kata Aisah.

Diberitakan sebelumnya, Neta S Pane menganggap proses hukum terhadap dalang kerusuhan 21-22 Mei 2019 bisa saja dikesampingkan demi kepentingan yang lebih besar semisal proses rekonsiliasi politik.

Penegakan hukum bertujuan untuk menciptakan ketertiban sosial di sebuah negara. Jika tujuan tersebut bisa dibangun dengan rekonsiliasi, maka sah-sah saja apabila proses hukum dikesampingkan.

Neta juga mengaku, pihaknya mendukung penuh proses rekonsiliasi, demi menghindari saling dendam antar elit politik yang akan membuat kondisi Indonesia semakin terpuruk, meski harus dianggap menciderai penegakan hukum sekalipun.

“Untuk Indonesia yang lebih baik, Indonesia yang maju dan terciptanya tertib sosial, bukan hanya sah, tapi hal itu memang harus dilakukan. Selama ini kan, sejak presiden Soeharto jatuh itu kan kita terjebak dalam dendam-dendam yang tidak berkesudahan dan membuat Indonesia semakin terpuruk, kata Neta kepada Tagar, Minggu 16 Juni 2019.

“IPW mendukung rekonsiliasi tersebut, serta mendukung pak Jokowi untuk membentuk kabinet rekonsiliasi, artinya semua komponen yang bisa membangun Indonesia ke depan, membawa Indonesia lebih baik, ya diakomodir saja,” ujar dia.

Sumber: https://www.tagar.id/dalang-kerusuhan-demo-2122-mei-tak-bisa-diproses

Neta S Pane: ‘Big Dalang’ Rusuh 22 Mei Adalah Anggota Keluarga Cendana

Denny Siregar: Kalah Pilpres Kok Ngatur Jokowi

Editor: Siti Afifiyah
https://www.tagar.id/Asset/uploads/270755-jokowi.jpeg

Jokowi dan Ma’ruf Amin menjadi presiden dan wakil presiden terpilih masa bakti 2019-2024. (Foto: Antara/Nova Wahyudi)
Fokus Berita: Kabinet Baru Jokowi

Oleh: Denny Siregar*

Saya ketawa ngakak ngeliat Jansen Sitindaon diskak habis sama Najwa Shihab.

Ketua DPP Partai Demokrat itu dengan pedenya bicara tentang rekonsiliasi antara Demokrat dan Jokowi sebagai pemenang pilpres, yang diartikan dengan bagi-bagi kursi. “Pak Jokowi itu butuh Demokrat lima tahun ke depan. Hubungan ini harus nyaman, baik antara Jokowi dan Demokrat dan Demokrat dengan Jokowi,” katanya.

Najwa terlihat menahan ketawa dan tidak tahan juga untuk mengeluarkan perkataan, “Jadi Demokrat mau dan tidak malu?” Sontak Jansen terdiam dengan wajah merah tertunduk malu.

Jansen ini termasuk politisi yang ketika menjelang pilpres termasuk paling sering nyinyir kepada Jokowi. Dia pernah menyebut revolusi mental Jokowi gagal dan punya rekam jejak yang buruk. Eh, ternyata si Jansen sendiri yang gagal lolos ke Senayan.

Sesudah Jokowi menang, dia pula yang mengatur-atur bagaimana seharusnya Jokowi bersikap kepada Demokrat.

Kenapa mereka yang dulu sibuk melawan Jokowi, sekarang dengan pedenya bersikap seolah menjadi pahlawan kesiangan?

Yang lucu lagi si Dahnil Anzar Simanjuntak. Entah dapat ide dari mana, tiba-tiba dia merasa jadi pihak tengah antara hubungan Rizieq Shihab, pemegang rekor umrah terlama, dengan pemerintah. “Beri kesempatan Habib Rizieq kembali ke Indonesia, semua saling memaafkan, kita bangun lagi toleransi.”

Si Dahnil lupa, kasus Rizieq sudah di-SP3. Wong tinggal pulang aja gak berani, takut katanya. Dahnil juga lupa siapa yang sibuk mencaci maki pemerintah dari Saudi sana, mengobarkan api makar dengan ceramah-ceramahnya. Terus, sekarang Jokowi yang disuruh rekonsiliasi?

“Mak lu kiper!” kata seorang teman waktu baca twit Dahnil itu.

Kenapa mereka yang dulu sibuk melawan Jokowi, sekarang dengan pedenya bersikap seolah menjadi pahlawan kesiangan?

Jawabannya adalah karena tidak tahu malu.

Politik Indonesia memang kotor. Ada pemeo yang mengatakan, “Dalam politik tidak ada kawan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi.”

Tapi itu zaman sebelum Jokowi, di mana politik yang tercipta adalah dagang sapi. Kemarin lawan, ke depan berangkulan. Yang penting sama-sama kenyang. Tidak peduli rakyat mereka provokasi sampai kehilangan nyawa membela sesuatu yang gak ada, bagi para politikus busuk itu semua hanya “senda gurau belaka”.

Menyakitkan memang melihat tingkah mereka yang tanpa malu bisa membalik lidah sesukanya. Dan saya yakin, Jokowi sendiri mau muntah melihat gaya-gaya mereka.

Yang saya tunggu sikap Rizieq Shihab. Karena kebelet mau pulang, bisa saja tiba-tiba dia bersuara, “Ayo kita dukung Jokowi karena dia Presiden yang sudah dipilih dan Tuhan sudah merestui.” Lalu kirim surat ke istana, “Pak, tulung dong dah gak kuat nih. Mana kos-kosanan sekarang mahal lagi, juga kangen ma soto Betawi. Tulung.”

Mungkin Jokowi baca sambil melengos, “Mak lu kiper!”

Seruput dulu ahhh.

*Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Sumber: https://www.tagar.id/denny-siregar-kalah-pilpres-kok-ngatur-jokowi

PSI: Dulu Sebut Jokowi PKI, Kini Minta Jatah Menteri

Reporter: Morteza Syariati Albanna  Editor: Siti Afifiyah
https://www.tagar.id/Asset/uploads/424519-raja-juli-antoni.jpeg

Wakil Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Raja Juli Antoni. (Foto: Instagram/rajaantoni)
Fokus Berita: Kabinet Baru Jokowi

Jakarta – Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Raja Juli Antoni meradang melihat sikap para politikus yang pada masa kampanye pemilihan presiden (Pilpres) acap kali memusuhi, menjelek-jelekkan presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) dengan tudingan dan narasi fitnah, tapi sekarang ingin gabung jadi menteri.

Menurut Toni, sapaannya, para politikus dari kubu oposisi itu belakangan malah berbalik arah mendukung pemerintah dengan dalih rekonsiliasi, untuk meminta jatah menteri dalam Kabinet Indonesia Kerja (KIK) jilid II periode pemerintahan 2019-2024.

“Yang mengganggu pikiran saya adalah bagaimana sebuah pertarungan politik kemarin yang sangat hitam, sangat kotor, penuh fitnah, memburuk-burukkan Pak Jokowi sedemikian rupa seperti antek PKI, komunis, antek asing aseng, kriminalisasi ulama, dan disampaikan secara sistematis masif terstruktur,” ujar Toni kepada Tagar, Jumat, 5 Juli 2019.

Pria kelahiran Pekanbaru 41 tahun silam ini menyatakan, apabila ingin mengkritik kebijakan presiden sebaiknya menggunakan cara terarah dan logis, jangan menggunakan isu yang mengada-ada. Ia menilai periode pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla memang tidak sempurna, untuk itu dibutuhkan kritik yang membangun.

“Memang banyak kekurangan, tetapi jangan dengan isu-isu yang memobilisasi kebencian,” ujarnya.

Pertarungan politik kemarin sangat hitam, sangat kotor, penuh fitnah, memburuk-burukkan Pak Jokowi sedemikian rupa seperti antek PKI,

Ketika seluruh gugatan Perselisihan Hasil Pemilu Umum (PHPU) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dimentahkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK), dan pasangan Jokowi-Ma’ruf dinyatakan menang dalam Pilpres 2019, menurut Toni, sejumlah politikus yang tadinya nyinyir terhadap Jokowi kini justru memble.

“Kita masih ingat semua politisi itu mengatakan apa, di mana, kapan. Saya terusik dengan perilaku seperti itu. Ada pragmatisme politik bergerak tidak pakai ideologi. Hari ini menjelek-jelekkan, besok mengajak pacaran,” katanya.

Hal teramat ironis menurut Toni, setelah menghina Jokowi dengan propaganda, politikus-politikus itu belakangan malah menyatakan ingin bergabung dalam kekuasaan.

Intinya, lanjut dia, pembentukan kabinet merupakan hak prerogatif Presiden Jokowi yang memiliki hak secara penuh dalam menentukan KIK jilid II, mulai dari jatah, orang yang bergabung, dan partai-partai yang akan dimasukkan dalam kabinet.

“Postur kabinet. Siapa yang jadi kabinet? Partai apa? Itu kan tergantung Pak Jokowi. Karena dia yang paling tahu sebagai penerima mandat rakyat. Tetapi sekali lagi, mungkin belajar dari pemilu kemarin, kita mulai berpolitik secara ideologis menegakkan suatu nilai dengan kualitas yang bagus,” tuturnya.

Kita masih ingat semua politisi itu mengatakan apa, di mana, kapan. Saya terusik dengan perilaku seperti itu. Ada pragmatisme politik bergerak tidak pakai ideologi. Hari ini menjelek-jelekkan, besok mengajak pacaran.

Secara terpisah, Pengamat Politik Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin menilai politik di Indonesia sangat dinamis, ada wajah permusuhan dan sebaliknya. Pihak yang sebelumnya bertentangan dengan pemerintah, bisa berbalik haluan seketika, rela menjilat ludah untuk mencari jatah dan posisi strategis.

Ia memandang, kegeraman Sekjen PSI terhadap politikus yang berbalik haluan itu tidak ada salahnya. Ia memahami, perubahan sikap oposisi harus dikritisi. Sebab, bisa jadi narasi-narasi yang dikeluarkan politikus yang Toni maksud akan menafikan PSI.

“Itu wajar saja sebagai bentuk kekesalan Raja Juli Antoni. Tetapi itulah realitas politik kita yang selalu menghadirkan bahwa politik itu berdasarkan kepentingan. Faktanya begitu,” kata Ujang.

Menurut dia, apabila oposisi diterima dalam KIK Jokowi-Ma’ruf, otomatis jatah kursi bagi koalisi partai pendukung capres petahana dalam Pilpres 2019 akan berkurang.

“Semisal dulu PSI digadang-gadang mendapatkan jatah kursi menteri atau dubes. Otomatis kalau ada partai oposisi yang lebih besar mendekat dan mendapatkan kursi di parlemen seperti Gerindra, Demokrat, dan PAN, dengan sendirinya otomatis kursi PSI bisa tergeser. Bahkan, bisa hilang,” kata Ujang.

Sumber: https://www.tagar.id/psi-dulu-sebut-jokowi-pki-kini-minta-jatah-menteri

Disinyalir Terlibat Kerusuhan, Jatah Menteri Terancam Lepas dari Kubu Oposisi

Niha Alif . 2 days ago . 4 min read .  7.3k

Disinyalir Terlibat Kerusuhan, Jatah Menteri Terancam Lepas dari Kubu Oposisi

Akhir-akhir ini mencuat isu permintaan jatah menteri oleh parpol oposisi. Ada sumber yang mengatakan hal ini merupakan kompensasi dari kekalahan. Aneh rasanya dalam sistem demokrasi kalau oposisi meminta jatah kementrian apalagi karena kalah pilpres.

Tapi itulah Indonesia, kebanyakan elit parpol menutup malu dan jati dirinya demi mendapat kekuasaan. Padahal kemarin ribut karena merasa dicurangi. Eh, setelah keok di MK malah berebut jatah menteri. Namun, rupanya impian para parpol tersebut harus kandas di tengah jalan diakibatkan oleh ulah para oknumnya sendiri. Baru-baru ini polisi berhasil merilis temuan kelompok dan oknum mana saja yang terlibat dalam kerusuhan 21-22 Mei. Dari inisialnya bisa disimpulkan mulai dari partai Gerindra, PAN hingga PKS.

Seperti diberitakan kumparan.com: Polri membuka hasil penyelidikan terkait kerusuhan pada 21-22 Mei 2019. Salah satunya adalah keterlibatan sejumlah Ormas hingga oknum dari partai politik yang diduga terlibat kerusuhan tersebut.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Suyudi Ario Seto mengatakan, menampilkan sebuah slide presentasi. Dari slide itu, dia menunjukkan pelaku kerusuhan merupakan oknum dari sejumlah ormas.

Polri mencatat ormas tersebut berasal dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Serang, Banteng, Majalengka, Tangerang, Tasikmalaya, Cianjur, Lampung, hingga Aceh.

Sementara untuk ormas, Polda Metro menampilkan oknum dari empat ormas yang diduga terkait dalam kerusuhan, antara lain Garis, GRIB, dan Pemuda Muhammadiyah (seperti dalam foto).

“Dari kelompok Islam yang berasal dari beberapa daerah adalah dari Serang, Tangerang, Cianjur, Banten, jakarta , Banyumas Majalengka Tasikmalaya Lampung dan Aceh,” ucap Suyudi saat jumpa pers di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Jumat (5/7).

“Kemudian ada kelompok oknum ormas, organisasi kemasyarakatan, ini GRS, FK dan GR, kemudian ada juga oknum relawan,” sambungnya.

Dalam jumpa pers tersebut, Polri juga turut menampilkan oknum partai yang terlibat dalam kerusuhan yang menyebabkan 9 orang tewas. Dalam slide tersebut tertulis ada Partai GR, Partai PN, dan Partai PS.

Dari inisial GR yang mengacu Gerindra, PN yang mengacu PAN dan PS yang mengacu PKS memang cocok sebagai oknum bermasalah karena semua berasal dari oposisi. PKS sudah ancang-ancang tak akan masuk ke pemerintahan lewat tagar #kamioposisi yang diserukan Mardani Ali Sera.

PAN yang dipimpin Zulkifli Hasan keburu merapat ke pemerintah sebelum penetapan KPU dengan mengudang Jokowi dan koalisinya dalam acara buka bersama. Lalu Gerindra yang dulu membenci mati-matian menjadi lunak setelah keputusan kalah dari MK. Dua parpol tersebut mengemis jatah kabinet secara tak langsung dari Jokowi. Ingat KOMPENSASI KEKALAHAN. Titik.

Tapi, pakdhe jangan merasa senang dulu kalau oposisi merapat. Mereka itu bak duri dalam daging yang bisa menusuk sewaktu-waktu. Bukti keterlibatan dalam kerusuhan 21-22 Mei cukup memberikan pelajaran.

Padahal yang kita tahu sebelumnya hanya partai Gerindra yang terlibat dengan kedapatan ambulans partai yang membawa amplop, batu dan benda tajam. Publik tak menyangka kalau oknum dari PAN dan PKS juga ikut menyusup. Mereka memang pantas dijuluki oposisi abadi pembuat gaduh dan onar pemerintah.

Belum lagi ada nama organisasi pemuda muhammadiyah yang terafliasi dengan PAN. Zulkifli Hasan bak pecundang, setelah kedapatan kalah dan terpojok buru-buru melipir ke penguasa. Ternyata Gerindra yang selama ini garang juga tak kalah banci. Fitnah, hoaks dan cacian 5 tahun tanpa henti kepada Jokowi belum bisa menjadikannya oposisi sejati. Malah sekarang berlagak banci, malu tapi mau kalau ditawari jadi menteri.

Kalaupun pemerintah tetap memutuskan parpol-parpol munafik ini ke kabinet. Haruslah berada di bawah menteri. Gerindra dan PAN bisa masuk di kementrian Menkopulhukam untuk membantu Wiranto memberantas kaum radikal yang sejak lama bersahabat mesra dengan kedua parpol.

Jangan sampai parpol-parpol tersebut memimpin pucuk kementrian karena bisa dijadikan ajang balas dendam untuk mengoyak-ngoyak pemerintahan Jokowi. Bisa jadi karena mereka munafik dan sengaja menjerumuskan Jokowi dengan menjadi musuh dalam selimut. Ini jauh lebih berbahaya ketimbang melawan musuh yang tampak nyata.

Saya yakin Jokowi dengan segala pertimbangannya akan memasukkan orang-orang berkompeten dalam kabinet kerjanya nanti. Bukankah tujuan akhirnya untuk kepentingan rakyat dan memajukan Indonesia? Sesuai janjinya, tak ada beban dan akan melakukan hal gila demi kepentingan rakyat. Saya dan kami semua menantikan itu.

Begitulah kura-kura.

Referensi:

https://m.kumparan.com/@kumparannews/polisi-ungkap-oknum-ormas-dan-parpol-terlibat-dalam-kerusuhan-22-mei-1rPRenEoWc2?utm_source=babeapp&utm_medium=Aggregator&is_install_whatsapp=1

 

  • Avatar

    Cebong: “eeh pret… loe pada kalo pengen duduk di kabinet harusnya saat kampanye kerja keras berdarah2 dukung Pakdhe, bukannya sekarang setelah kalah malah minta jatah… kalian lupa apa kalo selama lima tahun kerjaan kalian tuh nyinyirin bikin fitnah nyebarin hoaks ngejelek2in Pakdhe… istighfar pret istighfar”

  • Avatar

    Saya berpendapat pihak Oposisi bisa mendapat kan 7 menteri di kabinet.mentri DN .mentri LN.mentri keuangan .mentri pendayagunaan abdi Negara.mentri pendidikan .mentri sosial dan mentri Sosial ..tahun 2019 -2024..di Negara Ruwanda..

  • Avatar

    Dari 4 partai pendukung prabowo, 3 partai a.l. gerindra, pks dan pan tidak memenuhi syarat untuk diterima koalisi pak Jokowi, karena mereka telah menyerang habis2an dgn hoax dan fitnah semua keberhasilan program2 pemerintah 2014-2019 dan tdk suka dgn kampanye visi misi program Jokowi 2019-2024.

  • Avatar

    Jabatan menteri jangan karena parpol ,tetapi terutama lihat juga kemampuan profesionalnya karena berpengaruh untuk kemajuan bangsa.
    Jangan salah pilih nanti kalau dipecat jadi dendam sakit hati.bikin gaduh (RR,SS,AW,SD,tejo))

  • Avatar

    Yang paling tersakiti tentu partai internal pendukung dan relawan Jokowi…..

    Gak lucu dan serem juga sebenarnya, setelah kalah justru mengancam……

    Mengingat bagaimana jahatnya mereka kubu 02 hingga mampu memecah belah anak bangsa hanya demi jabatan dan kekuasaan…..

    termasuk penjahat selangkangan arab yang kabur itu masih menebarkan semburan ancaman setelah bos pwnyandang dananya kalah…..

  • Avatar

    Tebakan saya, kemungkinan Presiden Jokowi akan memasukkan orang-orang dari partai oposisi dalam upaya membungkam mereka. Setelah itu mereka akan dievaluasi dalam waktu singkat dan diumumkan ke publik bahwa kementrian yang dipimpin menteri dari elit oposisi punya raport merah dan harus segera di reshuffle. Sama seperti periode pertama dimana reshuffle berujung pada mendepak menteri-menteri yang “invalid”. Setelah “pembersihan itu, Presiden pada akhirnya melenggang tanpa tekanan dalam menentukan menteri yang akan beliau angkat berikutnya. (hanya imajinasi saya doang 😁).

  • Avatar

    Sudah sujud abal2..
    Klaim menang abal2…
    Saksi abal2…

    Udah… kasih jabatan menteri abal2 aja

  • Avatar

    PAN PKS Gerindra biarkan saja tetap jadi oposisi…enak aja udah nyakitin pakdhe mulu kok minta kursi…kelakuan biadab!

  • Avatar

    👉👉👉 Masih segar dalam ingatan: “partai-allah” kata $engkuni-amien raisopopo kecuali “hoax-alloh-dan–$yeiton”…. partai yang ‘diridhoi’🤭🤭🤭
    Dan “dewa” nya adalah ….matanya menyorot tajammmmmm!⬇️

    Thumbnail

    😜😜😜 Mbah’é $yeiton-$engkuni….mana ya???

Sumber: https://seword.com/politik/gagal-berebut-jatah-menteri-gerindra-pan-dan-pks-ikut-terlibat-kerusuhan-2122-mei-lpRGxGf4Ek

Jadi tujuan Prabowo, Amin Rais, Fadli Zon, Fahri Hamzah, Tungku Zulkarnaen, Tommy Soeharto, Brisik, Gerindra, PAN, PKS, dan para bangsat lainnya ada 2, yaitu:
1. Jika beruntung, maka Prabowo menjadi Presiden. Mereka bisa menjarah kekayaan alam Indonesia, seperti yang dulu dilakukan oleh Soeharto dan kaki tangannya.
2. Jika tidak beruntung, maka atas nama rekonsiliasi nasional, mereka minta jatah menteri dan/atau posisi strategis lainnya.
Jokowi seharusnya tegas.
Partai Gerindra, PAN, PKS, dan ormas FPI, Garis dan ormas Islam radikal lainnya seharusnya dibubarkan karena terbukti terlibat dalam kudeta.
Mereka senang (kubu 02), karena kerusuhan dijadikan untuk menawar posisi kepada kubu 01.
Kubu 02 jangan merasa senang dulu. Mereka semua bisa lolos dari hukum manusia. TAPI MEREKA PASTI TIDAK AKAN BISA LOLOS HUKUMAN TUHAN, ALIAS MASUK NERAKA KALAU TIDAK SEGERA BERTOBAT.
Betul..betul..betul? Yah pasti betul lah. HA…7X
Menurut penulis, Prabowo dan Gerindra itu bodoh sekali.
Kenapa begitu?
Karena dua kali Jokowi menawarkan posisi cawapres kepada Prabowo.
Jika saat itu Prabowo menerima, maka ia sudah jadi Wapres sekarang. Dan tahun 2024, Jokowi sudah tidak bisa ikut Pilpres lagi.
Artinya apa? Tahun 2024, Prabowo mempunyai peluang besar untuk menjadi Presiden RI.
Pertanyaannya sekarang adalah kenapa Jokowi tidak bisa dikudeta?
1. Saat Soeharto berkuasa, puluhan juta rakyat Indonesia setiap hari berdoa minta diberikan seorang pemimpin yang baik, jujur, tidak KKN dan merakyat. Jawaban Tuhan adalah Jokowi.
2. Saat ini ada juta rakyat Indonesia setiap hari berdoa minta agar Jokowi sebagai seorang pemimpin yang baik, jujur, tidak KKN dan merakyat, dilindungi selalu. Jawaban Tuhan adalah semua rencana kudeta terhadap Jokowi selalu gagal. Ha…7x
3. Rakyat Indonesia, ulama, umat Islam dan umat agama lainnya mendukung Jokowi memimpin sekali lagi sebagai Presiden.
4. TNI dan polri kompak menjaga Presiden dan NKRI dari setiap gangguan yang timbul dari kelompok manapun, termasuk dari gerombolan si berat yang ideot. Ha…7x

Kesimpulan

Kasus Ahok sebenarnya hanya rekayasa politik dari para bajingan dan bangsat yang menghalalkan segala cara untuk mengalahkan Ahok dalam Pilgub 2017.

Dimotori oleh Brisik dan FPI, demo 14 Oktober 2016 hanya diikuti oleh ribuan orang saja.

Demo kedua, SBY berpartisipasi, lewat fatwa MUI yang dikeluarkan oleh Ma’ruf Amin, lewat dana dan lewat penghasutan massa. SBY ingin anaknya, Agus menang Pilgub 2017.

Prabowo dan Jusuf Kalla juga berpartisipasi lewat dana. Prabowo dan Jusuf Kalla ingin Anies menang pilkada. Setelah Anies menang, baru Zulkifli Hasan, ketua umum PAN menceritakan kalau Jusuf Kalla yang merekomendasikan Anies menjadi cagub kepada Prabowo. Sebelumnya keterlibatan Jusuf Kalla mendukung Anies sudah terlihat dari dukungan isterinya dan Erwin Aksa, keponakannya kepada Anies.

Provokator lapangan adalah Brisik, Novel Bamukmin, Fahri Hamzah, Fadli Zon, Ahmad Dhani, Eggi Sudjana, Tengku Zulkarnain, Kivlan Zen, Rhoma Irama, Ratna Sarumpaet, Rizal Ramli, Lieus Sungkharisma, dll.

Sayangnya kudeta lewat kerusuhan 411 dan 212 terhadap Jokowi gagal total. Ha…7x

Dengan perencanaan yang lebih matang, maka kudeta dicoba sekali lagipada tanggal 22 Mei 2019.

Sayangnya kudeta gagal lagi. Ha…7x

Terima kasih karena sudah mengunjungi, membaca artikel, atau menonton video di sangat aneh.

Jika anda menganggap blog ini bagus maka mohon bantuannya untuk menyebarkan informasi dan hiburan dari blog ini kepada keluarga dan teman-teman anda.

Kami juga mengharapkan ide, saran, dan kritik anda terhadap sangat aneh, jangan ragu-ragu untuk menuliskannya di kolom komentar. He…7x

Sekali lagi, terima kasih.

Admin sangat aneh.

Artikel penulis lainnya:

Hello World! Blog Sangat Aneh Sudah Beraksi

Aneh Tapi Nyata: Puluhan Kucing Lucu Ini Akan Membuat Anda Tersenyum, Tertawa, Atau Marah!!

Aneh Tapi Nyata: Puluhan Kucing Lucu Ini Akan Membuat Anda Tersenyum, Tertawa, Atau Marah!! Bagian kedua.

Aneh Tapi Nyata: Puluhan Kucing Lucu Ini Akan Membuat Anda Tersenyum, Tertawa, Atau Marah!! Bagian ketiga.

Sangat Aneh Tapi Nyata Dan Lucu: Isi Dari Artikel Ini Dijamin Bisa Bikin Kamu Ketawa Ngakak. Ha…7x

Sangat Aneh: Mengenal Indigo Child

Sangat Aneh Tapi Nyata: 37 Tanda Hari Kiamat Yang Harus Anda Tahu

Berita Aneh Hari Ini: Aneh Tapi Nyata Terdamparnya Ikan-Ikan Ini Sangat Aneh Dan Penuh Dengan Misteri

18 Kejadian Aneh Yang Ga Masuk Akal Karena Sangat Aneh Tapi Nyata

Berita Aneh Hari Ini: Puluhan Makanan Aneh Ini Bikin Nafsu Makan Lu Hilang

20 Alasan Orang Membuat Berita Hoax

Prabowo Kalah Benarkah Indonesia Akan Punah?

Kisah Hidup Jet Li

Sangat Aneh: Pilpres 2014 Dan 2019 Serupa Tapi Tak Sama

Sangat Aneh: Kenapa Mereka Ingin Mengkudeta Jokowi?

Sangat Aneh: Kenapa Jokowi Tidak Bisa Dikudeta?

Sangat Aneh: Kenapa Jokowi Tidak Bisa Dikudeta? Bagian 2.

Sangat Aneh: Kenapa Jokowi Tidak Bisa Dikudeta? Bagian 3.

Sangat Aneh: Kenapa Jokowi Tidak Bisa Dikudeta? Bagian 4.

Sangat Aneh: Kenapa Jokowi Tidak Bisa Dikudeta? Bagian 5.

Panduan Lengkap Dari Kost Jakarta Buat Para Pencari Kost di Jakarta.

Sewa Rumah: Tip Dan Trik Terlengkap Dalam Mencari Kontrakan Rumah

Cara Daftar Member NASA

Alasan Milenial Memilih Speaker Aktif Dat

Penulis:

Richard Nata adalah seorang spesialis halaman pertama Google dan/atau Yahoo. Beberapa artikelnya juga menjadi nomor 1 di Google, Yahoo, dan Bing.

Hubungi Richard di Life on earth as in heaven.

Buku-buku dari Richard Nata yang terbit di Amazon:

1. Want More Traffic? 514 Tips to Skyrocket Your Website Traffic and Income Faster.
2. How to Create A Great Article for SEO in Three Hours.
3. The Best Way To Stop Watching Porn Today.
4. How to Skyrocket 7-8 Figure Income Annually from Blogging.
5. How to Start a Business With China.
6. Why Do Trump and Some Other US Presidents Endorse a New World Order?
7. Knowing Jesus Better – the Real Jesus According to Thousands of Verses and Who is Jesus to you?
8. How to Win a Soul to Jesus Christ.
9. Top Secret of Healthy Life Revealed.
10. Top Secret of Longevity Revealed.
11. Top Secret of Healthy Life and Longevity Revealed.
12. Make Your First $5,000 Faster: How to Find and Get Your Perfect Job.
13. How to Make Your First $5,000 Faster Even If English Is Your Second Language (ESL).
14.  From Love to Horror.
15. 50 Amazing Ways to Make Your First $5,000 Faster.
16. Power and Business Trillions of Dollars Make JFK Must Be Killed – 669 Data and Timeline Proving It.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *